MuhammadiyahLamongan.com – Baitul Arqam PCM Karangbinangun di Agro Mulia, Prigen, Pasuruan, Sabtu (1/8/2026), Pada sesi diskusi kelompok yang mengajak peserta melakukan refleksi terhadap perjalanan Muhammadiyah Karangbinangun melalui pendekatan yang tidak biasa.
Sebanyak 51 peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk memetakan dinamika organisasi menggunakan metafora sebuah sungai.
Instruktur Dedi Kurniawan, Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPK SDI) PDM Lamongan, membuka diskusi dengan sebuah kalimat yang mengundang perhatian peserta,
“Bermain peran seperti anak usia dini, tetapi berpikir seperti profesor,” ujarnya.
Kalimat tersebut menjadi pengantar metode pembelajaran reflektif. Setiap kelompok diminta menggambarkan sebuah sungai yang merepresentasikan perjalanan Muhammadiyah Karangbinangun, kemudian mengidentifikasi berbagai fase perkembangan organisasi melalui enam simbol utama.
Enam simbol tersebut meliputi arus deras sebagai gambaran masa kejayaan dan capaian yang pernah diraih; batu karang sebagai hambatan dan tantangan perjalanan muhammadiyah, dan air terjun sebagai perubahan besar atau krisis yang memaksa organisasi beradaptasi; sungai menyempit yang menggambarkan fase stagnasi; anak sungai sebagai munculnya harapan, kader, maupun sumber daya baru; serta sungai membelok sebagai simbol hadirnya arah, strategi, atau kepemimpinan baru.
PERJALANAN ORGANISASI DALAM PERSPEKTIF KADER
Kelompok pertama yang dipandu juru bicara Hari, anggota Majelis PCM Karangbinangun, memotret perjalanan Muhammadiyah mulai tahun 2015. Masa tersebut ditandai dengan berdirinya Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM), bertambahnya ranting-ranting baru yang sebelumnya sangat terbatas, serta berdirinya Masjid Muhammadiyah di Ranting Manyong.
Kelompok ini memandang pandemi Covid-19 pada periode 2020–2022 sebagai batu karang yang sempat menghambat berbagai aktivitas persyarikatan di tingkat cabang maupun ranting.
Namun memasuki tahun 2023–2025, arus sungai kembali mengalir deras.
Berbagai capaian berhasil diwujudkan, di antaranya lahirnya Kajian Bengawan Jero yang menyatukan lima PCM, terselenggaranya Musyawarah Cabang sebagai tanda organisasi berjalan sehat, penyempurnaan Gedung Dakwah Muhammadiyah, serta menguatnya gagasan mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berupa panti asuhan.
Tahun 2026 kemudian dipotret sebagai hadirnya “anak sungai”, yakni lahirnya harapan baru melalui rencana pengajuan pendirian panti asuhan kepada PDM Lamongan serta penyelenggaraan Baitul Arqam sebagai ikhtiar memperkuat kaderisasi
COVID -19 BUKAN HAMBATAN, TETAPI TITIK LAHIRNYA INOVASI
Pandangan menarik disampaikan Yudi dari Kelompok 2. Yang memberi tanggapan , Menurutnya, pandemi Covid-19 tidak tepat jika hanya dipandang sebagai hambatan.
Ia menilai justru pada masa itulah Muhammadiyah menunjukkan daya tahan dan kemampuan beradaptasi.
Layanan pendidikan tetap berjalan melalui pembelajaran daring, sementara berbagai aktivitas ekonomi mulai memanfaatkan media digital, termasuk penjualan secara daring.
Pandangan tersebut memunculkan diskusi yang semakin kaya. Perbedaan perspektif menjadi ruang belajar bersama bahwa sebuah peristiwa dapat dimaknai secara berbeda, tergantung sudut pandang organisasi dalam membaca sejarahnnya.
MENGHARGAI JASA PARA PENDIRI
Kelompok 5 yang dipresentasikan Maslukan, Wakil Ketua PCM Karangbinangun, mengajak peserta menelusuri sejarah lebih jauh ke belakang sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri Muhammadiyah Karangbinangun.
Ia mengisahkan kepemimpinan almarhum H. Sholikin, yang kemudian diteruskan oleh penerus dengan nama yang sama hingga dua periode.
Pada masa-masa awal tersebut, Muhammadiyah menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan finansial sehingga perkembangan organisasi berjalan relatif landai.
Baru pada penghujung periode tersebut mulai dilakukan pembelian tanah sebagai modal pengembangan organisasi.
Memasuki era reformasi, aliran sungai mulai melebar. Berbagai potensi baru bermunculan. Pada masa kepemimpinan Syafik, mulai dibangun Gedung Dakwah Muhammadiyah yang kemudian disempurnakan pada periode Fuad, sekaligus ditandai dengan legalisasi berbagai aset persyarikatan. Menurutnya, penyelenggaraan Baitul Arqam menjadi salah satu gebrakan penting dalam penguatan kaderisasi.
MENYUSUN STRATEGI MENUJU KEJAYAAN
Pandangan dari kelompok 5 diperkuat oleh Kelompok 4 melalui juru bicara Fuad, Ketua PCM Karangbinangun periode saat ini. Ia menggambarkan bahwa sebelum tahun 2015 Muhammadiyah Karangbinangun menghadapi berbagai tantangan besar.
Jumlah warga Muhammadiyah diperkirakan hanya sekitar lima persen dari total penduduk, sumber daya manusia terbatas, kekuatan ekonomi belum memadai, sinergi antarpengurus belum kuat, Gedung Dakwah Muhammadiyah belum tersedia, serta belum memiliki Amal Usaha Muhammadiyah.
Kondisi tersebut menyebabkan gerak organisasi berjalan lambat dan cenderung stagnan. Perubahan mulai terasa setelah adanya pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah.
Memasuki periode 2023 hingga sekarang, berbagai kemajuan berhasil diwujudkan, mulai dari renovasi dan penyempurnaan GDM, legalisasi aset tanah di ranting-ranting, hingga semakin kuatnya konsolidasi antara PCM dan PRM.
Semua itu, menurutnya, tidak lepas dari berbagai tantangan yang harus dihadapi, termasuk penolakan berupa pelemparan batu dan tanah saat proses pembangunan.
Salah satu cita-cita besar yang akan diwujudkan adalah melanjutkan gagasan Syafik ketua PCM sebelumnya melalui penguatan Kajian Bengawan Jero yang melibatkan lima cabang.
Kini, Muhammadiyah Karangbinangun dinilai telah memasuki fase “sungai membelok”, yaitu fase ketika organisasi mulai memiliki arah baru yang lebih jelas.
Soliditas sumber daya manusia semakin kuat, program kerja semakin terarah, dan strategi menuju kejayaan mulai disusun. Memperkuat kaderisasi melalui Baitul Arqam.
Menumbuhkan organisasi otonom kepemudaan, serta mewujudkan Amal Usaha Muhammadiyah baru berupa panti asuhan, pondok tahfiz, dan lahirnya ranting-ranting Muhammadiyah baru.
Diskusi yang berlangsung hingga pukul 23.00 WIB itu menunjukkan bahwa membaca sejarah organisasi mengenang masa lalu itu,perlu sebagai refleksi dan menjadi instrumen penting untuk menemukan arah masa depan.
Melalui metafora sungai, para kader diajak menyadari bahwa setiap arus, batu, belokan, maupun anak sungai merupakan bagian dari perjalanan panjang Muhammadiyah dalam mewujudkan dakwah yang berkemajuan.
Penulis Uswah Editor Lim