MuhammadiyahLamongan.com – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan Drs H Shidikin MPd menyampaikan sambutan di pembukaan Musyawarah Daerah (Musyda) ke-12 Muhammadiyah Lamongan yang berlansung Sabtu (4/3/2023) di Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla).
Shodikin menuturkan, dengan Musyda ini sudah bertekad untuk mengimplementasikan segala yang dimiliki sebagai semangat perjuangan untuk menghadapi masa depan dengan mengusung tema Membumikan Islam Berkemajuan Menuju Kejayaan Lamongan.
Menurutnya, tema ini merupakan sinergitas dan melambangkan antara Muhammadiyah dan pemerintah karena selama ini Muhammadiyah adalah salah satu organisasi yang ada di Indonesia sebagai perintis bibit-bibit menuju Indonesia merdeka.
Ia menambahkan, mulai dari merintis kemerdekaan sampai merdeka hari ini belum ada riwayat hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah menjadi kurang harmonis senantiasa selalu bersinergi dan bahkan kalau mau mengkaji ‘NKRI harga mati’ itu adalah buah pemikiran dari kader Muhammadiyah Ir Djuanda Kartawidjaja. Beliau merupakan kader muda Muhammadiyah yang cerdas dan tamat dari perguruan Muhammadiyah ternama.
Kemudian beliau terjun di masyarakat menjadi guru Muhammadiyah, kepala sekolah Muhammadiyah dan pada masa orde lama beliau sempat menjadi menteri dengan jabatan yang cukup lama dan beliau juga merumuskan wawasan nusantara.
“Karena itu kita mengusung tema seperti itu dalam rangka kita melanjutkan kebaikan-kebaikan yang dirintis pendahulu kita untuk kedepan yang menjadi lebih baik lagi. Dalam Musyda ini yang di dalamnya kami bersama teman-teman yang dipilih pada Musyda 11 di Sedayulawas Brondong akan melaporkan pertanggung jawaban satu periode yang sudah berjalan,” ucapnya.
Selanjutnya, ia menyiapkan untuk periode selanjutnya yang nanti diamanahkan kepada para pemimpin yang nanti dipilih pada Musyda kali ini. Ia berupaya untuk menggerakkan umat yang begitu luas dalam bingkai iman kepada Allah dan kemudian aplikasi warga Muhammadiyah dalam Qs Mulk ayat 2.
“Maka kita dalam berjuang itu saat kita harus bersikap seperti gula yang selalu memberi rasa meskipun tidak pernah disebut, ketika gula dicampur kopi setelah itu dihidangkan maka orang menyebut minum kopi, ketika gula dicampur teh maka orang menyebut minum teh,” ucapnya.
Menurutnya, di situ ada kehadiran gula yang senantiasa memberikan rasa walaupun tidak disebut. Karena itu dalam berjuang harus tangguh.
Shodikin menuturkan, tantangan Muhammadiyah kedepan adalah era digital dan generasi milenial. “Dari situlah kita harus menyiapkan kader-kader ulama yang handal dan kemudian kita menyiapkan kader-kader yang bisa melakukan dakwah digital dengan baik dan kemudian kita membangun pusat-pusat keunggulan yang kemudian kita berikan pelayanan itu kepada masyarakat kita dalam rangka menuju kejayaan Lamongan,” pungkasnya. (Fathan Faris Saputro)