MuhammadiyahLamongan.com– Kabar duka menyelimuti keluarga besar Pondok Modern Muhammadiyah Paciran. Salah satu guru terbaiknya, Ustadz Choirurrohman, S.Pd.I, telah berpulang ke rahmatullah pada Sabtu malam, 30 Mei 2026, di Klaten, Jawa Tengah.
Almarhum meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, terdiri atas tiga putri dan satu putra. Kepergian beliau menjadi kehilangan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh civitas Pondok Modern Muhammadiyah Paciran, para alumni, serta masyarakat yang mengenalnya.
Semasa hidupnya, Ustadz Choirurrohman dikenal sebagai sosok pendidik yang sederhana, rendah hati, dan mengabdikan hampir seluruh perjalanan hidupnya untuk dunia pendidikan. Sejak usia muda, beliau memilih jalan pengabdian sebagai guru di Pondok Modern Muhammadiyah Paciran.
Dedikasinya yang panjang membuat beliau pernah mengajar di berbagai jenjang pendidikan yang berada di bawah naungan pondok, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Madrasah Aliyah (MA). Di tengah perjalanan hidupnya, ketika kondisi kesehatan mulai menurun, beliau tetap istiqamah menjalankan tugas sebagai pendidik. Pada masa-masa terakhir pengabdiannya, beliau mengajar sebagai Guru Tahfidzul Qur’an di MTs Muhammadiyah 01 (MadtsaMutu) Pondok Modern Paciran.
Tidak hanya mengabdikan diri di ruang-ruang kelas, almarhum juga aktif meluangkan waktu untuk mendampingi dan mengurusi anak-anak yatim yang tergabung dalam Darul Aitam. Kepedulian sosial yang dimilikinya menjadi salah satu teladan yang terus dikenang oleh rekan-rekan dan para siswa.
Atas dedikasi dan pengabdiannya yang luar biasa, Pondok Modern Muhammadiyah Paciran memberikan penghargaan kepada beliau sebagai Guru dengan Pengabdian Terlama pada ajang Modern Awards 2025. Setahun kemudian, pada Modern Awards 2026, beliau kembali menerima penghargaan sebagai Guru Teladan, sebuah apresiasi atas integritas, ketekunan, dan keteladanan yang selama ini ditunjukkannya.
Bahkan menjelang akhir hayatnya, semangat pengabdian beliau tidak pernah surut. Pada hari-hari terakhir sebelum berpulang, Ustadz Choirurrohman masih menuntaskan amanah sebagai penguji Ujian Praktik Tahfidzul Qur’an bagi siswa kelas IX MadtsaMutu Pondok Modern Paciran. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, beliau berangkat ke Klaten, Jawa Tengah, untuk menjalani pengobatan. Namun takdir Allah SWT berkata lain. Di kota itulah beliau mengembuskan napas terakhirnya dan kembali ke hadirat-Nya.
Suasana duka begitu terasa ketika kabar wafatnya menyebar ke lingkungan pondok. Wajah-wajah murid tampak murung, para guru saling menguatkan, sementara para alumni mengenang berbagai kenangan bersama sosok yang selama ini dikenal penuh kesabaran dan ketulusan. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai pihak sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau selama puluhan tahun mengabdi.
Bagi banyak siswa, Ustadz Choirurrohman bukan sekadar guru yang mengajarkan hafalan Al-Qur’an. Beliau adalah sosok yang mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan melalui teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kehadirannya mungkin telah tiada, tetapi nilai-nilai yang ditanamkannya akan terus hidup dalam hati para murid yang pernah dibimbingnya.
Selamat jalan, Ustadz Choirurrohman, S.Pd.I. Pengabdianmu telah menjadi jejak kebaikan yang akan terus dikenang. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan,dan kesabaran
“Guru boleh berpulang, tetapi ilmu, keteladanan, dan jejak kebaikannya akan terus hidup sepanjang Zaman”.
Penulis: Salnun Mahya Salsabila, Editor: Ma’in