MuhammadiyahLamongan.com – Program GERASS (Gerakan ‘Aisyiyah Sedekah Sampah) yang dijalankan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Brangsi, Cabang Laren, Lamongan, menjadi salah satu praktik baik yang menginspirasi peserta Pertemuan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah se-Wilayah Kerja (Wilker) Bojonegoro yang meliputi Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.
Dalam forum bertema Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas tersebut, Ketua PRA Brangsi, Nisruhah, memaparkan perjalanan GERASS yang lahir dari keprihatinan terhadap persoalan sampah sekaligus keinginan menghadirkan gerakan lingkungan yang bernilai ibadah.
Program ini resmi dibentuk pada 20 Oktober 2023 dan mulai bergerak pada 5 November 2023. Hingga Juni 2026, GERASS telah melaksanakan sekitar 30 kali kegiatan pengumpulan sampah.
GERASS mengajak warga mengumpulkan sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol plastik, kardus, kertas, besi, aluminium, kabel, dan barang bekas lainnya untuk kemudian dijual kepada pengepul. Hasil penjualan tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi sumber pendanaan kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan.
Keunikan GERASS terletak pada perpaduan antara gerakan pelestarian lingkungan dan nilai keagamaan. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna diubah menjadi sarana sedekah dan amal jariyah.
Melalui program ini, warga diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ajaran Islam, sebagaimana larangan membuat kerusakan di muka bumi dan anjuran memanfaatkan sesuatu secara bijaksana.
Dalam pelaksanaannya, GERASS melibatkan tim di setiap RT yang secara rutin melakukan pengumpulan sampah sebulan sekali. Sebelum hari pelaksanaan, warga diinformasikan melalui media sosial untuk menyiapkan sampah anorganik di depan rumah masing-masing. Sampah kemudian dikumpulkan, ditimbang, dan dijual kepada pengepul.
Program ini membawa dampak nyata bagi masyarakat. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih, GERASS juga menambah kas organisasi dan memperkuat ukhuwah antarwarga karena dilakukan secara gotong royong.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa selama periode 2023 hingga pertengahan 2026, GERASS berhasil mengumpulkan lebih dari10 ton botol plastik, lebih dari 5 ton kardus, serta berbagai jenis sampah anorganik lainnya yang bernilai ekonomis. Dari pengelolaan tersebut, program ini mampu menghasilkan perputaran dana puluhan juta rupiah yang dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan organisasi dan sosial.
Bagi PRA Brangsi, GERASS bukan sekadar program pengelolaan sampah. Lebih dari itu, GERASS adalah gerakan perubahan sosial yang mengajak masyarakat menjadikan sampah sebagai sarana ibadah, memperkuat kepedulian lingkungan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
“Melalui GERASS, sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi berubah menjadi berkah. Dari barang yang dianggap tidak bernilai, lahir manfaat bagi lingkungan, organisasi, dan masyarakat,” ujar Nisruhah dalam pemaparannya
Gerakan sederhana yang dimulai dari tingkat ranting ini membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Ketika kepedulian lingkungan dipadukan dengan semangat beribadah dan gotong royong, sampah pun dapat menjadi jalan menuju keberkahan
Penulis Uswah Editor Lim