MuhammadiyahLamongan.com – Persoalan sampah yang semakin meningkat mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis masyarakat. Salah satunya adalah MAPAK (Emak-emak Berdampak), sebuah gerakan pengelolaan sampah yang dikemas dalam bentuk arisan sampah untuk mewujudkan kehidupan yang sehat dan sejahtera. Program ini dipaparkan oleh Ifa Aisyah dalam Pertemuan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah se-Wilayah Kerja Bojonegoro bertempat di Gedung GDM Bojonegoro yang mengangkat tema pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Program MAPAK lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya volume sampah rumah tangga, khususnya sampah anorganik yang sulit terurai. Di Kabupaten Bojonegoro sendiri, volume sampah mencapai sekitar 50–60 ton per hari dan telah melampaui daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA). Kondisi tersebut menuntut adanya sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Ifa Aisyah, arisan dipilih sebagai pendekatan karena sudah menjadi budaya yang akrab di kalangan ibu-ibu. Selain rutin dilaksanakan, arisan juga mengandung nilai kebersamaan, kepercayaan, dan gotong royong. Dengan pola yang sama, masyarakat lebih mudah menerima konsep arisan sampah sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
Melalui program ini, warga diajak untuk memilah dan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis. Sampah yang terkumpul kemudian dikelola secara bersama sehingga memberikan berbagai manfaat. Dari sisi lingkungan, program ini membantu mengurangi volume sampah yang berserakan di masyarakat. Dari sisi kesehatan, lingkungan yang lebih bersih dapat mencegah penyebaran penyakit serta mengurangi pencemaran udara dan air. Sementara dari sisi ekonomi, hasil pengelolaan sampah dapat menjadi tambahan penghasilan bagi ibu-ibu rumah tangga. Program ini juga memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial antarwarga.
Pelaksanaan MAPAK dilakukan secara bertahap melalui sosialisasi, forum diskusi kelompok (FGD), peluncuran program, pendampingan, monitoring, evaluasi, hingga penguatan kelembagaan. Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilah sampah, sedangkan FGD menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, tantangan, dan solusi terkait pelaksanaan program.
Dampak yang dirasakan masyarakat pun cukup signifikan. Selain menambah nilai ekonomi bagi keluarga, program ini turut mengurangi volume sampah setiap bulan, menguatkan edukasi pilah sampah di tingkat keluarga, serta membangun kepercayaan dan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.
Keberhasilan MAPAK mendapat perhatian dari berbagai pihak. Program ini pernah dikunjungi oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro. Selain itu, MAPAK juga menjalin pengembangan program bersama ExxonMobil dan Alas Institute. Atas inovasinya, program ini berhasil meraih Juara 1 Bojonegoro Innovative Award 2025.
Bagi Ifa Aisyah, MAPAK bukan sekadar program pengelolaan sampah. Lebih dari itu, MAPAK merupakan gerakan pemberdayaan perempuan yang membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari rumah dan komunitas. Dengan semangat gotong royong, emak-emak tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Penulis Uswah Editor Lim