MuhammadiyahLamongan.com – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan SMA Muhammadiyah 9 Brondong (SMAMIX). Salah satunya melalui kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru berupa Pelatihan Penyusunan Soal Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang digelar di Aula KH Ahmad Zahri, Ahad (21/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Oriza Zativalen, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, Oriza menekankan pentingnya perubahan paradigma evaluasi pembelajaran, dari yang semula berorientasi pada hafalan menuju penguatan kemampuan bernalar kritis. Menurutnya, HOTS bukan sekadar menyusun soal yang sulit, melainkan upaya membangun pola pikir siswa agar mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi atas berbagai persoalan.
“HOTS adalah tentang membiasakan siswa berpikir kritis dan kreatif. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses membentuk kebiasaan. Ketika siswa terbiasa mendapatkan stimulus yang menuntut mereka berpikir, maka mereka akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan yang sebenarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan HOTS tidak akan berjalan optimal apabila hanya diwujudkan dalam bentuk soal ujian. HOTS harus menjadi bagian dari keseluruhan proses pembelajaran melalui kegiatan berbasis proyek, studi kasus, maupun riset yang relevan dengan kondisi lingkungan sekitar.
Karena itu, Oriza mendorong para guru untuk merancang kegiatan kokurikuler yang mampu mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna.
Selain itu, ia juga mengajak guru-guru SMAMIX memanfaatkan perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), sebagai pendamping dalam menyusun instrumen penilaian berbasis HOTS. Namun, ia mengingatkan agar hasil yang dihasilkan AI tidak digunakan secara mentah tanpa proses telaah dan verifikasi.
“AI dapat menjadi asisten yang sangat membantu. Namun, guru tetap harus melakukan penyesuaian dan validasi agar soal yang dibuat sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan belajar siswa,” katanya.
Sebagai tindak lanjut pelatihan, Oriza meminta seluruh peserta mengimplementasikan materi yang diperoleh ke dalam modul ajar masing-masing. Ia juga mendorong guru untuk menerapkan asesmen yang lebih objektif melalui penggunaan rubrik penilaian yang telah dibahas bersama selama pelatihan.
“Hasil pekerjaan Bapak dan Ibu nanti mohon dikirimkan kepada saya. Tidak perlu takut salah atau merasa hasilnya belum maksimal, karena data tersebut akan menjadi bahan evaluasi bersama untuk melahirkan inovasi pembelajaran yang lebih baik di SMAMIX pada masa mendatang,” tuturnya.
Melalui pelatihan ini, SMAMIX berharap para guru semakin mampu menyusun pembelajaran dan evaluasi yang tidak hanya mengukur kemampuan mengingat, tetapi juga mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, serta adaptif terhadap perkembangan zaman. (*)
Penulis : Dennis Nugroho | Editor : Fathan Faris Saputro