MuhammadiyahLamongan.com – Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) dan Orientasi Mahasiswa Baru (Osmaba) STIT Muhammadiyah Paciran hari kedua, Selasa (8/9/2026), diisi dengan materi pengenalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus STIT Muhammadiyah Paciran tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk memahami sejarah, nilai, serta peran strategis IMM sebagai organisasi mahasiswa Islam.
Materi Ke-IMM-an disampaikan oleh Muhammad Kholis, M.Pd. Ia mengajak mahasiswa baru merefleksikan kembali makna menjadi seorang mahasiswa. Menurut Kholis, kuliah tidak semata-mata untuk memperoleh ijazah, memenuhi keinginan orang tua, atau membangun relasi.
“Kuliah harus memiliki tujuan yang lebih bermakna, yaitu menuntut ilmu dan memperjuangkan kebenaran,” kata Kholis.
Ia juga menegaskan posisi strategis mahasiswa dalam kehidupan berbangsa. Menurut dia, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial.
“Mahasiswa diharapkan mampu menjadi penjaga moral, kekuatan kontrol terhadap kekuasaan yang menindas dan korup, serta kelompok independen yang menjunjung tinggi idealisme,” ujarnya.
Kholis mengatakan mahasiswa merupakan salah satu harapan agama, bangsa, negara, dan rakyat untuk membangun Indonesia yang lebih baik, maju, dan berkeadilan.
Mengenal IMM sebagai Wadah Pembentukan Kader
Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. IMM menjadi salah satu ruang pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki kepedulian terhadap agama, bangsa, negara, dan masyarakat.
IMM bergerak dalam tiga bidang utama, yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Ketiga bidang tersebut menjadi ruang pengabdian sekaligus proses kaderisasi untuk mengembangkan kapasitas intelektual, spiritual, dan sosial mahasiswa.
Secara historis, IMM lahir pada 14 Maret 1964. Kelahirannya digagas sejumlah tokoh, antara lain Drs. Moh. Djazman Alkindi, Amin Rais, dr. Sudibyo Markus, dan Ah. Rosyad Sholeh.
Kelahiran IMM dilatarbelakangi semangat mengembangkan ideologi Muhammadiyah di lingkungan perguruan tinggi sekaligus merespons dinamika umat dan politik pada masa tersebut.
Membentuk Akademisi Islam Berakhlak Mulia
Kholis juga menjelaskan keterkaitan antara tujuan Muhammadiyah dan IMM. Jika Muhammadiyah bertujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, IMM berorientasi pada terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia.
Untuk memperkuat identitas dan arah gerak organisasi, kader IMM berpedoman pada Enam Penegasan IMM. Enam penegasan tersebut meliputi IMM sebagai organisasi Islam; Kepribadian Muhammadiyah sebagai landasan perjuangan; IMM sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah; kepatuhan terhadap hukum, undang-undang, dan falsafah negara; ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah; serta seluruh amaliah dilakukan lillahi ta’ala dan diabdikan kepada masyarakat.
“Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah. Artinya, ilmu yang dimiliki harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan setiap amal harus dilandasi oleh pengetahuan,” jelasnya.
Trikoda dan Trilogi sebagai Bekal Kader
Materi juga membahas Trikoda dan Trilogi IMM. Trikoda menekankan tiga kompetensi dasar yang perlu dimiliki kader, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.
Sementara itu, Trilogi IMM mencakup tiga lahan garap, yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Ketiganya menjadi ruang bagi kader untuk mengembangkan diri sekaligus memberikan kontribusi kepada lingkungan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Harus seimbang dengan kepekaan sosial dan karakter religius,” kata Kholis.
Mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan Nilai Dasar Ikatan yang diputuskan dalam Muktamar VII IMM pada 1992 di Purwokerto. Nilai tersebut menegaskan bahwa gerakan IMM berlandaskan Islam yang hanif dan rahmatan lil ‘alamin.
Dalam konteks tersebut, kader IMM memiliki tanggung jawab untuk melawan ketidakadilan, menjalankan syariat, serta mendakwahkan kebenaran demi kemaslahatan masyarakat.
Dari Mahasiswa Baru Menjadi Kader yang Berkontribusi
Melalui materi Ke-IMM-an, mahasiswa baru tidak hanya diajak mengenal IMM secara struktural, tetapi juga memahami tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. IMM diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar berorganisasi, berpikir kritis, berdiskusi, sekaligus mengamalkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.
“Dengan memahami sejarah dan nilai-nilai IMM sejak awal, mahasiswa baru diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang religius, intelektual, humanis, berakhlak mulia, dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat,” tutur Kholis.
Kegiatan Mastama dan Osmaba tersebut menegaskan komitmen STIT Muhammadiyah Paciran dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, karakter, dan kepedulian sosial. (*)
Penulis : Norma Nanda Yunita| Editor : Fathan Faris Saputro