MuhammadiyahLamongan.com -Kesehatan fisik dan mental merupakan kunci utama kelancaran ibadah haji. Menyadari hal ini, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Labbaik Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) menggelar seminar persiapan haji bagi Calon Jemaah Haji (CJH) keberangkatan tahun 2027, Ahad (10/5/2026).
Acara ini secara khusus menyoroti pentingnya kelayakan kesehatan atau istitha’ah serta kesiapan tim medis pendamping jamaah haji.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Surabaya, Dr. dr. Rosidi Roslan, S.IP., SKM, yang hadir dalam seminar tersebut menegaskan bahwa status _istitha’ah_ kini menjadi syarat mutlak,
“Terkait dengan kesehatan haji, itu menjadi prioritas kesiapan kita sebelum pelunasan haji,” tegasnya.
Pemeriksaan kesehatan ini diawasi ketat melalui sistem terintegrasi (Siskohatkes). Bahkan, terdapat aturan tegas bagi jemaah ibu hamil. Izin terbang ke Tanah Suci hanya akan diberikan jika usia kandungan berada di rentang yang aman, yakni antara 14 hingga 26 minggu, guna mencegah risiko medis yang tidak diinginkan.
Untuk menjawab tantangan kesehatan tersebut, KBIHU Labbaik RS Muhammadiyah Lamongan memberikan fasilitas yang tidak dimiliki oleh KBIHU lain di wilayahnya. KBIHU Labbaik menjadi satu-satunya kelompok bimbingan di Lamongan yang secara konsisten memberangkatkan satu tim kesehatan.
Tim yang terdiri dari dokter, perawat, ataupun tenaga kesehatan lain, ini akan fokus penuh melayani dan memantau kondisi kesehatan setiap jemaah haji yang tergabung dalam KBIHU Labbaik selama berada di Tanah Suci.
Selain jaminan layanan kesehatan dari tim medis, kesiapan fisik jemaah juga dibentuk sejak dini melalui inovasi “Sekolah Haji”. Ketua KBIHU Labbaik, H. Subagyo, S.E., menjelaskan bahwa program ini mengubah pola bimbingan lama,
“Labbaik merubah pola sistem manasiknya dengan sistem sekolah haji. Panjenengan di didik bagaimana menjadi seorang calon jemaah haji yang mandiri,” ungkapnya.
Melalui 13 hingga 14 kali pertemuan edukasi, jemaah diharapkan memiliki kemandirian fisik, ilmu serta pemahaman yang mumpuni, terutama saat menghadapi puncak haji yang sangat padat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armusna).
Dengan persiapan kesehatan yang matang dan pengawalan tim medis khusus, jemaah diharapkan dapat beribadah dengan tenang, aman, dan sehat hingga kembali ke tanah air.
Penulis Bagus Pribadi Editor Lim