Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Menghibur Sekaligus Menginspirasi, Mekar Tapi Layu Warnai Purna Siswa Muhammadiyah Sumberagung

MuhammadiyahLamongan.com – Gelak tawa memenuhi Halaman Perguruan Muhammadiyah Sumberagung, Brondong, Lamongan, Kamis (25/6/2026). Namun, di balik riuhnya pertunjukan teater komedi bertajuk Mekar Tapi Layu, para penonton justru diajak merenungkan makna kehidupan, kesederhanaan, dan pentingnya bersyukur di tengah arus gaya hidup yang kian konsumtif.

Pementasan tersebut menjadi salah satu sajian utama dalam rangkaian Purna Siswa Perguruan Muhammadiyah Sumberagung Tahun 2026. Penampilan para siswa berhasil memikat perhatian tamu undangan, orang tua, guru, serta seluruh hadirin melalui akting yang natural, dialog yang jenaka, dan alur cerita yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.

Teater Mekar Tapi Layu mengangkat kisah Pak Karno dan Bu Tini, pasangan suami istri yang berusaha mempertahankan citra sebagai keluarga berkecukupan. Demi memenuhi tuntutan gaya hidup dan menjaga penampilan di hadapan lingkungan sekitar, keduanya rela bergantung pada pinjaman. Kehidupan yang tampak “mekar” dari luar perlahan berubah menjadi persoalan yang rumit ketika mereka tidak lagi mampu melunasi utang hingga kisahnya menjadi perbincangan publik.

Naskah karya Ifqi Fitriati, S.Pd. tersebut menyuguhkan kritik sosial yang dibalut dengan komedi. Setiap adegan dan dialog mengundang tawa, tetapi sekaligus menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh kemewahan, melainkan oleh rasa syukur, kerja keras, kejujuran, serta kemampuan mengelola kehidupan secara bijaksana.

Kepala Sekolah Perguruan Muhammadiyah Sumberagung, Fathul Munir, S.Pd.I, mengatakan bahwa pertunjukan teater dipilih bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai media pembelajaran karakter. Menurutnya, seni pertunjukan mampu menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada para siswa dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.

“Melalui teater ini, kami ingin mengajak siswa belajar bahwa kehidupan tidak perlu dibangun di atas pencitraan. Kesederhanaan, tanggung jawab, dan rasa syukur merupakan bekal penting dalam menghadapi kehidupan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Sepanjang pementasan, gelak tawa penonton nyaris tak pernah berhenti. Tingkah laku para tokoh yang diperankan para siswa menghadirkan suasana hangat dan menghibur. Namun, ketika cerita memasuki bagian akhir, suasana berubah lebih hening. Pesan moral yang disampaikan meninggalkan kesan mendalam bahwa kehidupan yang dibangun hanya demi pengakuan orang lain pada akhirnya akan kehilangan makna jika tidak dilandasi kejujuran dan rasa syukur.

Melalui Mekar Tapi Layu, para siswa tidak hanya menunjukkan kemampuan berakting di atas panggung, tetapi juga membuktikan bahwa seni dapat menjadi media edukasi yang efektif. Pertunjukan ini menjadi penutup yang berkesan dalam Purna Siswa Muhammadiyah Sumberagung 2026, menghadirkan hiburan sekaligus mengajak setiap penonton merefleksikan kembali arti kebahagiaan yang sesungguhnya. (*)

Penulis : Imro’atul Munawwaroh | Editor : Fathan Faris Saputro

2
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Mahasiswa PGSD UMLA Kembangkan Media Sains Scratch, Asah Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar

Next Post

BEM UMLA Sukses Gelar LKMM-TM 2026, Cetak Pemimpin Mahasiswa Visioner dan Berintegritas di Era Disrupsi Digital

Read next
0
Share