MuhammadiyahLamongan.com – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) STIT Muhammadiyah Paciran menggelar Kajian RTL (Rencana Tindak Lanjut) Alumni DAD IX dengan tema “Ideologi IMM” pada Selasa (22/7/2025). Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman serta aktualisasi ideologi IMM agar para kader mampu menjadi agen perubahan yang responsif terhadap tantangan umat.
Kajian ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan RTL DAD yang direncanakan berlangsung dalam tiga sesi. Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh Muhammad Kholis, S.Pd., alumni PK IMM STIT Muhammadiyah Paciran periode 2014–2015.
Dalam paparannya, Kholis menjelaskan bahwa ideologi IMM adalah sistem nilai, sikap, dan keyakinan dasar yang menjadi fondasi gerakan IMM. Ideologi ini bersumber dari Al-Qur’an, kepribadian Muhammadiyah, dan nilai-nilai luhur lainnya. Ia menekankan pentingnya Trilogi IMM—iman, ilmu, dan amal—serta Trilogi Lahan Garapan IMM—keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan—dalam membentuk kader yang berintegritas dan berakhlak mulia.
“Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader dan dakwah yang bertujuan membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia. Kader IMM harus mampu memadukan ilmu dan amal secara harmonis, beribadah dengan tertib, dan mengamalkan ilmunya. Falsafah dasar IMM adalah ikhlas, lillāh, dan mengharap rida Allah SWT,” ungkap Kholis.
Mantan Ketua Bidang Kader PC IMM Lamongan periode 2016–2017 ini juga menegaskan pentingnya aktualisasi ideologi IMM dalam kehidupan sehari-hari, seperti melalui dakwah sosial dan gerakan sosial profetik. Ia mencontohkan perwujudan ideologi IMM melalui MDMC (penanganan bencana), Lazismu (pengelolaan zakat dan donasi), serta Al-Maun Center.
Kajian ini juga membahas aspek landasan ilahiah dan gerakan sosial profetik IMM yang meliputi tiga nilai utama: transendensi, humanisasi, dan liberasi. Selain itu, dibahas pula pemetaan masalah umat Islam menurut Prof. KH Haedar Nashir, seperti perpecahan internal, ketertinggalan dalam bidang ekonomi dan IPTEK, tantangan multikulturalisme liberal, serta dampak negatif globalisasi dan revolusi teknologi.
“IMM harus menjadi bagian dari solusi atas problematika umat, bangsa, dan peradaban global. Kader IMM harus siap bertransformasi menjadi pribadi yang amanah, istiqamah, dan mampu menyeimbangkan antara pemikiran, tindakan, serta spiritualitas dalam bingkai ideologi Muhammadiyah,” tegas Kholis.
Diharapkan melalui kegiatan ini, PK IMM STITM Paciran terus berkomitmen mencetak kader-kader tangguh dan berakhlak, yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Kajian ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesadaran ideologis dan komitmen kader dalam menjalankan misi dakwah dan perjuangan IMM. (*)
Penulis Ainun Ethika. Editor Fathan Faris Saputro.