MuhammadiyahLamongan.com –IGABA Lamongan merayakan Puncak Milad ke-28, menandai hampir tiga dekade kiprah para pendidik teladan dalam membentuk generasi Qurani. Acara berlangsung Di Dome Univeristas Muhammadiyah Lamongan, Sabtu (18/10/2025)
Acara ini dihadiri langusng oleh Mendikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Bupati Lamongan Dr. Yuhronur Efendi, MBA., MEK., serta Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Drs. KH. Shodikin, M.Pd.
Ribuan guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) berdatangan dengan seragam khas, wajah berseri, dan langkah penuh semangat.
Dalam suasana khidmat, KH. Shodikin tampil pertama. Dengan nada teduh khas pendidik, ia membuka sambutan dengan ucapan selamat dan doa untuk IGABA.
“Selamat Milad untuk IGABA. Mudah-mudahan senantiasa menjadi bagian dari elemen bangsa yang berperan aktif dalam membangun karakter anak-anak Indonesia,” ucapnya.
Menurutnya, setiap orang memiliki peran berbeda dalam kehidupan ada yang menjadi pejabat, pengusaha, atau guru, tetapi semua bermuara pada satu tujuan: tahsinul amal, memperbaiki amal dan meneguhkan peradaban.
“Pembangunan manusia harus berangkat dari iman, ilmu, dan fisik. Jika seimbang, lahirlah generasi yang berakhlak mulia,” tegasnya.
Abdul Mu’ti: “Lamongan Itu Istimewa”
Tiba saatnya Prof. Abdul Mu’ti memberikan tausiyah pendidikan. Seperti biasa, gaya khasnya membuat suasana cair, penuh tawa, namun sarat makna,
“Banyak daerah yang belum saya kunjungi, tapi Lamongan sudah dua kali. Lamongan memang istimewa,” ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan.
Ia menambahkan, pendidikan sejati dimulai bahkan sebelum anak lahir. “Dalam hadis disebutkan, ketika janin berusia empat bulan Allah meniupkan ruh. Sejak saat itu manusia sudah siap menerima pendidikan,” paparnya.
Dengan gaya khasnya yang ringan, Prof. Mu’ti menutup dengan canda reflektif: “Anak yang disusui ibunya akan tumbuh lebih baik daripada yang disusui al-baqarah—sapi betina,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan.
Karena bagi guru-guru Aisyiyah, mendidik bukan sekadar profesi, melainkan ibadah. Dari kelas kecil di desa-desa hingga panggung besar seperti hari itu, mereka terus berkhidmat untuk mencetak generasi Qurani yang siap membawa Indonesia menuju peradaban utama. (*)
Penulis Alfain jalaluddin ramadlan Editor Lim