MuhammadiyahLamongan.com – Pada 23 April 2026, dunia memperingati Hari Buku Sedunia. Momentum ini kembali menegaskan pentingnya buku di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Meski akses informasi kini semakin mudah melalui internet, buku tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam dunia pendidikan.
Kepala Perpustakaan SMA Muhammadiyah 10 Sugio, Nurul Arifianti, menuturkan bahwa buku tidak kehilangan perannya, melainkan terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Wawancara dilakukan pada Kamis (23/4/2026).
“Buku tetap penting meskipun bentuk dan cara mengaksesnya telah banyak berubah. Kini, buku tidak hanya hadir dalam bentuk cetak, tetapi juga dalam format digital yang bisa diakses kapan saja. Di era digital ini, buku tidak kehilangan perannya, melainkan beradaptasi,” ujarnya.
Menurut dia, membaca buku memberikan manfaat yang tidak tergantikan oleh sumber informasi lain yang serba cepat.
“Materi dalam buku biasanya disusun secara sistematis dan lengkap, sehingga membantu memperdalam pemahaman. Selain itu, membaca juga melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, serta meningkatkan kemampuan berbahasa,” jelasnya.
Untuk menumbuhkan minat baca, Nurul menekankan pentingnya pendekatan yang tepat.
“Menumbuhkan minat baca tidak bisa dengan paksaan. Perlu strategi, seperti memberikan kebebasan memilih buku, menciptakan suasana membaca yang nyaman, serta menjadikan membaca sebagai kebiasaan rutin,” ungkapnya.
Ia berharap budaya literasi di kalangan generasi muda semakin kuat dan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, sehingga mereka mampu berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh informasi hoaks.
Sementara itu, siswa SMA Muhammadiyah 10 Sugio, Adinda Mar’atul Khoiriyah, menilai buku tetap memiliki peran penting sebagai sumber ilmu. Wawancara juga dilakukan pada Kamis (23/4/2026).
“Buku adalah sumber ilmu untuk memahami berbagai informasi, baik pelajaran maupun pengetahuan lain. Buku juga bisa menjadi teman saat kita bosan,” tuturnya.
Adinda membandingkan pengalaman membaca buku dengan mencari informasi di internet. Menurut dia, membaca buku memang membutuhkan usaha lebih, tetapi memberikan pemahaman yang berbeda.
“Kalau membaca buku, kita harus mencari sendiri letak jawabannya. Sementara di internet, cukup mengetik dan informasi langsung muncul,” jelasnya.
Melalui peringatan Hari Buku Sedunia, buku kembali ditegaskan sebagai sumber ilmu yang tidak hanya relevan, tetapi juga penting dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan berwawasan luas di tengah derasnya arus informasi digital. (*)
Penulis : Mohammad Nofian Subandi | Editor : Fathan Faris Saputro