MuhammadiyahLamongan.com- Setiap tanggal 23 April, dunia bersatu dalam sebuah perayaan literasi yang agung: Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Tanggal ini bukan sekadar angka di kalender; ia adalah penghormatan bagi para raksasa sastra seperti William Shakespeare dan Miguel de Cervantes yang wafat pada tanggal ini. Namun, lebih dari sekadar perayaan tokoh, hari ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa buku adalah teknologi paling canggih yang pernah diciptakan manusia untuk mengikat waktu.
Melalui buku, kita bisa berbicara dengan pikiran orang-orang yang hidup ratusan tahun lalu. Kita bisa merasakan kegelisahan seorang ilmuwan di Eropa, atau menyelami kebijaksanaan para ulama di masa keemasan Islam, hanya dengan membalikkan halaman.
Saat membaca, kita dipaksa untuk keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam sepatu orang lain merasakan penderitaan, kegembiraan, dan perjuangan mereka. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, buku menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan.
Kita sering mendengar keluhan bahwa minat baca menurun di era digital. Namun, benarkah demikian? Secara teknis, setiap hari kita “membaca” ribuan kata di layar ponsel kita. Namun, ada perbedaan besar antara skimming (membaca sekilas) di media sosial dengan membaca buku secara mendalam (deep reading).
Membaca buku menuntut konsentrasi yang tenang, sesuatu yang kian langka di tengah gempuran notifikasi. Jika media sosial memberi kita informasi yang dangkal dan cepat, buku memberi kita pengetahuan yang dalam dan terstruktur. Hari Buku Internasional menantang kita untuk kembali memberikan waktu bagi otak kita untuk mencerna pemikiran-pemikiran yang berkualitas.
Bagi instansi pendidikan, perayaan Hari Buku Internasional ini sangat relevan, bahwa kemampuan akademik tidak lahir dari hafalan semalam, melainkan dari kebiasaan membaca yang dipupuk sejak dini. Buku adalah kunci utama literasi. Dan literasi adalah senjata utama sebuah bangsa untuk merdeka dari kemiskinan dan kebodohan. Tidak ada bangsa yang maju tanpa rakyat yang gemar membaca.
Merayakan Hari Buku tidak harus dengan membeli buku mahal. Kita bisa merayakannya dengan:
Pertama: Meluangkan waktu 15 menit sehari untuk membaca buku fisik tanpa gangguan ponsel. Kedua: Mendonasikan buku yang sudah tidak terpakai ke perpustakaan sekolah. Ketiga: Membacakan cerita untuk adik atau anak-anak kita, menanamkan benih cinta buku sejak usia belia.
Di tengah gempuran kecerdasan buatan dan arus informasi yang tak terbendung seperti sekarang ini, buku tetap menjadi jangkar yang menjaga kita tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran. Selamat Hari Buku Internasional! Mari kita buka buku hari ini, karena setiap halaman yang kita balik adalah satu langkah kaki kita menuju masa depan yang lebih cerah.
Penulis: Ma’in