Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Dialektika Mahasiswa Menguat di UMLA Mengurai Politik Etis hingga Krisis Kepemimpinan

MuhammadiyahLamongan.com – Kegiatan Silaturahmi Dewan Perwakilan Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (DPM PTMAI) Zona V kembali menghadirkan ruang intelektual yang dinamis melalui sesi Lingkar Dialektika Legislatif. Kegiatan ini dilaksanakan di Auditorium Budi Utomo, Lantai 3 Universitas Muhammadiyah Lamongan, Kamis (23/4/2026).

Mengusung konsep talk show interaktif, forum ini menjadi wadah pertukaran gagasan kritis terkait dinamika politik dan kepemimpinan di tengah perubahan zaman yang kian kompleks. Tema besar yang diangkat adalah “Manifestasi Kolektivitas Intelektual: Dialektika Strategis dalam Menavigasi Politik Etis dan Dekadensi Kepemimpinan di Era Volatilitas”.

Forum ini menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda. Narasumber pertama, Dr. Ahmad Sholikin, merupakan akademisi di bidang ilmu politik dan pemerintahan. Sementara itu, narasumber kedua adalah Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Lamongan periode 2024–2029 yang menyampaikan perspektif praktis dari dunia legislatif.

Dalam pemaparannya, Ahmad Sholikin menekankan pentingnya kolektivitas intelektual sebagai fondasi dalam membangun kesadaran politik kritis di kalangan mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa era volatilitas yang ditandai oleh perubahan cepat, ketidakpastian, dan kompleksitas menuntut mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga agen perubahan yang mampu membaca arah politik secara etis dan strategis.

“Mahasiswa harus mampu membangun dialektika yang sehat, tidak sekadar berdebat, tetapi juga melahirkan solusi berbasis nilai dan intelektualitas,” ujarnya. Ia juga menyoroti fenomena dekadensi kepemimpinan yang kerap muncul akibat lemahnya integritas serta minimnya orientasi pada kepentingan publik.

Sementara itu, Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Lamongan menekankan bahwa tantangan kepemimpinan saat ini tidak hanya terletak pada kemampuan teknis, melainkan juga pada komitmen moral dan etika dalam menjalankan amanah. Ia menegaskan bahwa politik etis harus menjadi landasan dalam setiap pengambilan kebijakan agar tidak terjebak dalam pragmatisme sempit.

Diskusi berlangsung hangat dengan partisipasi aktif peserta dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Zona V. Beragam pertanyaan kritis mengemuka, mulai dari peran mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik hingga strategi menghadapi krisis kepemimpinan di tingkat lokal dan nasional.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas intelektual mahasiswa dalam memahami serta terlibat dalam dunia legislatif. Lingkar Dialektika Legislatif tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai aktor penting dalam membangun politik yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. (*)

Penulis : Nova Aquila Salsabila Cahyono | Editor : Fathan Faris Saputro

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Tapak Suci Jadi Pembuka, Dialektika Legislasi Mahasiswa PTMAI Zona V Mengalir di UMLA

Read next
0
Share