MuhammadiyahLamongan.com- Pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar rutinitas perubahan angka di kalender dinding. Bagi kita di persyarikatan Muhammadiyah, momentum Fajar 1 Muharram 1448 Hijriyah adalah sebuah panggilan kesadaran. Ia adalah cermin besar untuk berkaca: sejauh mana jajaran pendidikan kita telah berhijrah dari zona nyaman menuju zona berkemajuan?
Hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah adalah sebuah cetak biru (blueprint) perubahan peradaban. Di Madinah, hal pertama yang dibangun Rasulullah setelah masjid adalah tatanan sosial yang berbasis ilmu dan akhlak. Semangat inilah yang harus kita kontekstualisasikan hari ini dalam gerak langkah pendidikan Muhammadiyah, khususnya di Bumi Lamongan.
Dengan mengusung spirit “Bergerak Maju dengan Ilmu, Mengakar Kuat dengan Iman,” momentum 1448 H ini harus kita maknai sebagai tonggak baru eskalasi mutu pendidikan kita.
Ilmu yang Memajukan: Menjawab Tantangan Zaman
Pendidikan Muhammadiyah di Lamongan tidak boleh menjadi menara gading yang asing dari realitas zaman. Menghadapi era disrupsi digital dan dinamika global tahun 1448 H ini, sekolah dan madrasah Muhammadiyah harus menjadi pusat keunggulan (center of excellence).
Maju dengan ilmu berarti: Adaptif terhadap Teknologi
Memanfaatkan teknologi bukan sekadar alat belajar, melainkan ruang inovasi tanpa menanggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
Kurikulum yang Hidup: Menghadirkan pembelajaran yang memantik daya kritis, kreativitas, dan kemampuan problem-solving siswa.
Pendidikan Non-Formal (PNF) yang Berdaya: Melalui PNF, kita merangkul mereka yang membutuhkan keterampilan praktis agar mandiri dan berdaya saing di masyarakat.
Kita ingin lulusan Muhammadiyah Lamongan adalah generasi yang saat mereka melangkah di dunia profesional, mereka membawa kecerdasan yang mencerahkan lingkungannya.
Iman yang Mengakar: Benteng Akhlak yang Memuliakan
Apalah arti kecerdasan intelektual jika kering dari nilai-nilai spiritual? Di sinilah esensi “Mengakar Kuat dengan Iman” menemukan urgensinya. Lamongan dikenal sebagai daerah dengan religiusitas yang kuat, dan Muhammadiyah harus menjadi penjaga gawang utama moralitas generasi muda.
Akhlak yang memuliakan adalah buah dari iman yang mengakar. Di tahun baru 1448 H ini, penguatan ideologi Muhammadiyah (Keislaman dan Kemuhammadiyahan) harus di internalisasi dengan cara-cara baru yang menyentuh hati, bukan sekadar hafalan tekstual.
Kita ingin melahirkan generasi yang santun dalam bertutur kata, tangguh dalam menghadapi ujian kehidupan. Sekaligus memiliki integritas tinggi (jujur, disiplin, dan bertanggung jawab). Serta menjadi teladan akhlakul karimah di tengah krisis moralitas digital saat ini.
Refleksi untuk Guru dan Pengelola Pendidikan di Lamongan
Sebagai nakhoda di Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Lamongan, saya mengajak kepada seluruh kepala sekolah, madrasah, mudir pesantren, para guru, dan tenaga kependidikan:
Pertama: Mari kita jadikan tahun 1448 H ini sebagai momentum “Hijrah Kualitas”. Kedua: Mari kita ubah cara pandang kita. Mengajar bukan lagi sekadar menuntaskan kurikulum, melainkan menanam benih peradaban. Mendidik bukan hanya mentransfer angka-angka di rapor, melainkan mengukir akhlak di dalam jiwa.
Jaringan sekolah Muhammadiyah di Lamongan sangat besar. Jika seluruh potensi ini bergerak serentak dengan frekuensi yang sama—maju dengan ilmu, kuat dengan iman—maka pendidikan Muhammadiyah Lamongan tidak hanya akan memimpin di tingkat daerah, tetapi juga menjadi barometer di tingkat nasional.
Penutup: Menyambut Masa Depan
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448 H. Mari kita buka lembaran baru ini dengan optimisme yang meluap. Di atas pundak kita ada amanah ribuan anak panah Muhammadiyah yang siap dilepaskan menuju masa depan.
Mari kita bimbing mereka agar terbang tinggi dengan sayap ilmu pengetahuan yang memajukan, namun tetap membumi dan kokoh dengan cengkeraman akar iman yang memuliakan. Bismillah, mari kita bergerak maju bersama!
Penulis: Muhammad Said, Editor: Ma’in