Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

+1 202 555 0180

Have a question, comment, or concern? Our dedicated team of experts is ready to hear and assist you. Reach us through our social media, phone, or live chat.

Menulis Berinvestasi Karya Mulia

Oleh: Ma’in, S.HI

Rangkaian kata hingga menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf dan paragraf hingga menjadi tulisan merupakan bagian dari kegiatan menulis. Kegiatan menulis adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk merangkai dan menuangkan ide gagasan dan pemikiran kepada orang lain melalui tulisan. Menulis adalah kegiatan merangkai karya mulia, kenapa? Karena dengan menulis kita menghadirkan nilai-nilai mulia terkandung didalamnya yakni saling berbagi informasi kepada orang lain. Bukankah berbagi merupakan kegiatan mulia? Tentu saja berbagi adalah kegiatan yang mulia. Dengan kegiatan menulis, kita akan mampu memberikan informasi berharga yang kita dapat dan kita miliki untuk diketahui publik. Agar kegiatan karya mulia ini  berjalan dengan baik, maka mulailah untuk menuliskan ide gagasan dan pemikiran serta informasi yang kita dapatkan kemudian kita sebarkan informasi kepada orang lain dengan bahasa tulisan.

Menulis juga merupakan salah satu bentuk investasi. Bahkan nilai investasi dari karya tulis tidak hanya dapat dinikmati oleh investor dalam hal ini penulis saja, melainkan juga para pembaca. Hal ini karena dengan menulis, seseorang dapat mengutarakan ide gagasan, pikiran kepada orang lain juga ada nilai saling berbagi ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman yang dimilikinya kepada orang lain. Dan usaha berbagi inilah menjadi nilai tambah dari investasi lewat karya tulis. Untuk menghadirkan tulisan sebagai karya mulia dan bernilai investasi untuk sesama, maka pertama kali yang harus kita pahami terlebih dahulu yakni memahami tentang definisi menulis itu sendiri.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis adalah membuat huruf dengan pena, melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan atau menggambarkan. Menurut Hernowo, menulis adalah upaya melahirkan perasaan dan pikiran melalui bahasa tulisan. Menurut Akhadyah menulis adalah memberikan manfaat berupa memperkaya pengetahuan dan memperkuat kemampuan kognitif dalam menyimpan informasi. Dalam buku panduan Gerakan Literasi Nasional oleh Kemendikbud tahun 2017 menyatakan bahwa ada 6 (enam) dimensi literasi; salah satunya yakni literasi baca dan tulis.

Merujuk dari berbagai definisi diatas, menulis yaitu pengetahuan dan kecakapan untuk menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. Maka menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan sebuah karya maupun informasi untuk disampaikan kepada pembaca maupun publik secara luas. Menulis juga bisa sebagai cara menuangkan ide gagasan dalam sebuah kalimat membentuk suatu karya.

Supaya menulis merangkai karya mulia tidak terabaikan, maka perlu adanya upaya dari kita untuk mengembangkan potensi dan kemampuan menulis. Kita yakini bahwa kegiatan dalam menulis  informasi yang benar, dan dibutuhkan banyak orang adalah sesuatu kegiatan yang mulia, bahkan dapat bernilai investasi. Yakni investasi ilmu pengetahuan lewat tulisan yang kita rangkai.  Untuk dapat berinvestasi dalam beragam bentuk tulisan yang kita tulis, maka kita harus dapat meluangkan waktu yang cukup untuk banyak membaca, baik membaca tekstual maupun membaca kontekstual. Dengan banyak membaca, akan muncul banyak ide, gagasan dan pemikiran baru yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan. Meskipun minat baca kebanyakan warga Indonesia masih relativ kurang baik.

Hasil PISA tahun 2015 terkait kemampuan membaca yang dirilis tanggal 6 Desember 2016 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 64 dari 72 negara. Singapura sebagai negara tetangga berada di posisi pertama. Selanjutnya berdasarkan data literasi yang dirilis oleh Central Connecticut State University tahun 2016 terkait peringkat minat baca dalam data World’s Most Literate Nations menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan 60. Selain itu pada tahun 2012 Unesco melansir index tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Itu berarti dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius.

Kondisi ironis dan menggetirkan ini sudah seyogyanya harus diwaspadai secara serius sebab semakin menjauhnya anak-anak di masa kini terhadap kegandrungan membaca, ini dapat membahayakan kualitas sumber daya manusia ke depan. Mereka menjadi asing di dunianya sendiri untuk terlibat dalam pembangunan dan pengembangan kualitas diri yang selanjutnya menghantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi anti peradaban baru yang jauh lebih baik bagi kemanusiaan.

Sebenarnya semakin banyak membaca akan menjadikan seseorang tidak pasif dalam membaca realitas, akan tetapi semakin aktif dan progresif dalam melakukan berbagai yang positif, konstruktif, dan progresif. Membaca bukan semat aktivitas kegiatan reseptif, malainkan kegiatan produktif untuk dapat melakukan analisis realitas berdasarkan apa yang sudah dibaca. Oleh karenanya, kapasitas membaca menjadi hal utama yang harus dikuatkan dengan sedemikian rupa dalam rangka membangun kapasitas warga yang melek terhadap dunia membaca.

Didalam kita menulis, dibutuhkan komitmen dari kita untuk memulai menulis ide gagasan dan pemikiran, adanya upaya banyak meluangkan waktu untuk membaca, dan yakni bahwa menulis juga bernilai investasi yang mulia untuk diri sendiri dan orang lain, yakni dengan berbagi informasi dan pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain lewat rangkain kata yang kita tulis akan menambah kualitas sumber daya manusia (SDM). Maka menulis juga merupakan salah satu bentuk investasi. Bahkan nilai investasi dari karya tulis tidak hanya dapat dinikmati oleh investor dalam hal ini penulis saja, melainkan juga para pembaca. Hal ini karena dengan menulis, seseorang dapat mengutarakan ide gagasan, pikiran kepada orang lain juga ada nilai saling berbagi ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman yang dimilikinya kepada orang lain. Dan usaha berbagi inilah menjadi nilai tambah dari investasi lewat karya tulis.

Hal lain yang dibutuhkan agar kita dapat menulis yakni adanya kepercayaan diri bahwa kita bisa menjadi penulis. kepercayaan diri bahwa kita penulis adalah bermula dari kebiasaan dan menjadi tradisi budaya diri dalam mengembangkan potensi personal yang dimilikinya di bidang jurnalistik. Pengetahuan kita pada jurnalistik, pembiasaan dalam merangkai kata, kalimat dan paragraf menambah kepercayaan kita menjadi penulis.

Selanjutnya penulis juga membutuhkan adanya kreativitas. Diantara kreativitas yang dibutuhkan penulis yaitu kreativitas menemukan ide gagasan, kreativitas dalam mengeksplorasi ide gagasan, kreativitas dalam menuliskan ide gagasan, sampai pada kreativitas dalam publikasi hasil tulisan. Dengan basis kreativitas ini, menulis menuntut kita memiliki kemampuan berpikir kreatif, diantaranya berpikir dalam menemukan, mengeksplorasi, menulis, dan mempublikasikan gagasan dengan menarik.

Dalam menulis, kita dituntut untuk bisa keluar dari persepsi banyak orang. kita harus memaknai sesuatu yang menjadi bahan tulisan dengan sudut pandang baru. Disinilah penulis dianjurkan untuk berpikir kreatif. Kreatif itu harus merdeka, kreatif itu berbeda, kreatif itu harus keluar dari cara berpikir kebanyakan orang, kreatif itu harus berani unik, kreatif itu harus bisa menjelaskan dengan baik kenapa berbeda. Mulailah mengasah otak untuk berpikir kreatif sampai kita menemukan ide dan gagasan dalam memulai menulis, menyempurnakan tulisan, dan menyelesaikan draf naskah tulisan. Yakinlah bahwa kita akan dapat menghasilkan banyak ide, bila ada usaha untuk tetap terus melatih otak berpikir kreatif.

Berbagai upaya diatas menjadi motivasi bagi kita untuk terus berkarya dalam bentuk tulisan, karena dengan menulis kita ikut berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kognitif sumber daya manusia. Agar karya tulis kita tidak monoton dalam satu genre, tetapi kita dapat menulis beragam bentuk tulisan yang mampu dibaca orang lain, dengan kata lain kita menjadi penulis produktif. Maka perlu kiranya kita mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi produktifitas kita sebagai seorang penulis. Menurut Gomes bahwa produktifitas itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) Pengetahuan, (2)  Keterampilan, (3) Kemampuan, (4) Sikap, (5) Perilaku, (6) Usia.

Pengetahuan adalah sebuah akumulasi dari hasil pendidikan, baik pendidikan yang diperoleh secara formal maupun non formal. Pengetahuan itu bisa memberikan kontribusi pada seseorang untuk memecahkan masalah. Selain itu pengetahuan tersebut juga bisa melakukan atau membantu menyelesaikan sebuah pekerjaan. Dengan berbekal pengetahuan yang luas, seseorang diharapkan bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik dan secara efisien sehingga pengetahuan sangat mempengaruhi apakah seseorang tersebut bisa menjadi produktif atau tidak.

Keterampilan adalah sebuah kemampuan atau sebuah penguasaan dalam bidang tertentu atau bersifat kekaryaan. Keterampilan bisa diperoleh dalam proses belajar atau berlatih. Dengan keterampilan yang dimiliki, seseorang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan efisien, sehingga orang tersebut bisa termasuk dalam kategori orang yang produktif. Sedangkan kemampuan merupakan suatu hal yang berbentuk dari beberapa kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Konsep kemampuan merupakan konsep yang luas. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki merupakan sebuah faktor pembentuk kemampuan.

Sikap adalah sebuah pernyataan baik yang menyenangkan orang lain atau tidak menyenangkan bagi objek, individu atau sebuah peristiwa. Sikap yang dimiliki seseorang merupakan sebuah kebiasaan yang sudah terpola dalam diri seseorang. Jika kebiasaan yang sudah terpola tersebut memiliki dampak yang baik untuk orang lain, maka tentunya bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri dan orang lain, hal ini juga berlaku dalam melakukan pekerjaan.

Perilaku merupakan sikap dari seseorang dalam menghadapi segala sesuatu kondisi dan situasi baik di lingkungan masyarakat, alam dan lainnya. Perilaku manusia ini juga ditentukan oleh kebiasaan yang sudah ditanam sejak dulu pada diri seseorang. Sehingga, perilaku yang dimiliki seseorang juga menentukan apakah seseorang tersebut bisa bekerja sama dengan orang lain atau bahkan menyelesaikan pekerjaan secara baik dan efisien. Serta berdasarkan data sensus penduduk Indonesia tahun 2015, usia produktif rakyat Indonesia di usia 15-64 tahun yang berjumlah 185,34 juta orang.

Dari berbagai uraian diatas menggambarkan bahwa pentingnya kita untuk memulai menulis, karena menulis adalah kegiatan yang mulia. Dengan menulis kita tidak mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan. Maka menulislah apa yang menjadi ide, gagasan, pemikiran, informasi penting, hasil kajian, telaah atau penelitian kita dalam bentuk karya tulis yang akan dibaca orang lain. Hal ini sebagai upaya kita untuk ikut berpartisipasi meningkatkan kualitas sumber daya manusia lewat kemampuan kita dalam menulis. Untuk kita dapat berkarya mulia lewat tulisan, maka kita dapat memulai menulis apa yang kita senangi, apa yang ada di sekitar kita, dan apa yang menjadi profesi kita sekarang ini. Kesemuanya itu dapat menjadi bahan ide gagasan kita dalam menulis. Kapasitas kemampuan kita dalam menulis ditentukan jam terbang kita dalam menulis. Bagai anak tangga, tentu kita menaiki anak tangga setapak demi setapak. Menjadi penulis juga melalui upaya yang konkret yakni menulis, menulis, dan menulis. (*)

Ma’in, S.HI, Anggota Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan

2
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Inilah Aksi Sosial PRA Sendangharjo Memperingati Hari Ibu

Next Post

Ketua PDNA Lamongan Menyuarakan Pentingnya Perempuan Muda Melek Politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read next
0
Share