MuhammadiyahLamongan.com -Suasana khidmat menyelimuti halaman SMP Muhammadiyah 12 (SMPM 12) Paciran . Ratusan pasang mata menyaksikan prosesi the 42nd Graduation of SMPM 12 Paciran. Ahad (3/5/2026)
Diikuti 361 wisudawan dan wisudawati, dibersamai oleh walisantri, dewan guru, dan tamu undangan tokoh Masyarakat, sesepuh Muhammadiyah Sendangagung, sebuah momentum transisi bagi para santri kelas IX untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Acara ini juga dihadiri Pengasuh dan Pendiri Ponpes al-Ishlah, Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh, Wakil Pengasuh Ponpes al-Ishlah, Drs. KH. Agus Salim Syukran, M.Pd.I, jajaran PDM Lamongan, jajaran PCM Paciran, Kepala Desa dan perangkat Desa Sendangagung, dan saksi undangan lainnya, wisuda kali ini bukan sekadar seremoni pelepasan.
Ada pesan ideologis yang kuat tentang bagaimana mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual.
Trilogi Sukses Lahir Batin: Warisan Kiai Ahmad Dahlan
Dalam orasi ilmiahnya, Dr. Eko Hardi Ansyah, M.Psi., Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur, membedah konsep Trilogi Sukses Lahir Batin. Belajar dari sejarah hidup sang pencerah, Kiai Ahmad Dahlan, Dr. Hardi menekankan tiga fondasi filosofis utama:
- Pengembangan Keilmuan yang Mumpuni: Kemuliaan sejati berbasis pada integrasi iman dan ilmu. Kiai Dahlan telah mencontohkan semangat go international dengan belajar ke luar negeri sejak usia 15 tahun demi menguasai bidang keilmuan.
- Ta’awun (Kolaborasi): Jangan pernah lelah menolong sesama. Dr. Hardi berpesan keras agar santri menghindari perilaku bullying yang menyakiti fisik maupun hati. “Kolaborasi membuat kita sehat lahir, pikir, dan batin. Sebaliknya, menyakiti orang lain hanya akan membekukan hati,” tegasnya.
- Komitmen pada Tauhid: Kepintaran otak wajib dibarengi dengan komitmen hati untuk selalu mengabdi kepada Allah dan setia pada kebajikan.
Implementasi Global: Komunikasi, Bahasa, dan Teknologi
Agar trilogi tersebut tidak sekadar menjadi teori, Dr. Hardi memaparkan tiga langkah implementasi konkret untuk menghadapi persaingan global:
Pertama, Komunikatif: Menjadi pribadi yang santun, peka, luwes dalam ide, dan tidak mudah memprovokasi tanpa data.
Kedua, penguasaan bahasa Asing: Selain Inggris dan Arab, santri didorong menguasai Mandarin, Rusia, hingga Persia. Mengingat poros ekonomi dan IPTEK dunia kini melibatkan negara-negara tersebut, kemampuan bahasa menjadi kunci pergaulan global.
Ketiga, Teknologi untuk Keilmuan: Merujuk pada kemajuan di China, di mana anak SD mampu merakit drone dalam 10 menit, serta Iran yang mendidik anak mudanya menguasai teknologi pertahanan, santri SMPM 12 harus mampu memanfaatkan teknologi untuk pengembangan ilmu.
Karakter Pesantren: Belajar yang Tanek
Kiai Muhammad Dawam Saleh, dalam sambutannya mengenang bagaimana pondok ini dibangun dari nol hingga kini menjadi lembaga favorit. Keseriusan dalam pengembangan ilmu, amal, dan ibadah menjadi ruh utama kesuksesan institusi ini.
Menariknya, perwakilan wali santri dan wisudawan mengungkapkan sebuah analogi yang mendalam: “Belajar di Al-Ishlah tiga tahun itu belum cukup, bagaikan menanak nasi, nasinya belum tanek (matang sempurna).”
Hal ini diamini oleh Kepala SMPM 12, Aminuddin Syukran, M.Pd. Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter dan keilmuan adalah ciri khas Al-Ishlah yang tertuang dalam motto: Good in Character, Progressive in Thinking. “Prinsip ini selalu kami upayakan nyata dalam setiap proses belajar mengajar,” ujarnya.
Revitalisasi Peran BK: Belajar dari China dan Iran
Dalam sesi wawancara khusus dengan muhammadiyahlamongan.com, Dr. Hardi Ansyah juga menyoroti pentingnya reposisi fungsi Bimbingan Konseling (BK). Menurutnya, BK tidak boleh lagi hanya menjadi “polisi sekolah” yang menangani anak bermasalah.
“BK harus fokus pada pengembangan studi lanjut berdasarkan passion dan data tes psikologi siswa, sebagaimana profesionalisme guru BK di China dan Iran yang menunjang karir masa depan anak didik sejak dini. Di China itu sekolah SMP telah merancang 6-20 ke depan, anak didiknya melanjutkan studi lanjut di kampus-kampus favorit bidang sains di Eropa dan Amerika. Ketika mereka kembali ke China, mereka mengembangkan hasil riset sains-nya untuk kemajuan sains dan teknologi di negerinya,” jelasnya.
Acara ditutup dengan doa khidmat dari pengasuh, menggantungkan harapan agar para alumni SMPM 12 Paciran menjadi pribadi yang shaleh, berilmu, bermanfaat, dan sukses di panggung dunia. Selamat berjuang, para pencerah muda!
Penulis Piet Hizbullah Khaidir Editor Lim