Redaksi muhammadiyahlamongan.com menyajikan suguhan dakwah media massa yang sejuk, Islami dan berkemajuan. Berbasis komunitas dan berpedoman pada tujuan persyarikatan Muhammadiyah.

Chairul Huda : Sebuah Pembelajaran

1 min read

Sebuah keprihatinan yang mendalam saya rasakan saat mendengar kabar duka dari pesepakbolaan nasional. Berita kepergian kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, yang diduga disebabkan oleh cidera kepala yang beliau dapatkan saat bertanding sudah sepatutnya disayangkan.

Kasus cidera kepala dan leher (traumatic brain injury) dalam olahraga dianggap menjadi masalah serius dan telah menarik perhatian FIFA dan federasi sepakbola negara dunia. Penanganan yang kurang tepat atau terlambat pada kasus cidera kepala dan leher dalam sepakbola dapat menyebabkan kematian dan kecacatan permanen yang dapat mengakhiri karir seorang pemain profesional. First aid treatment yang diberikan kepada kiper Chelsea FC, Petr Cech, saat bertabrakan dengan Stephen Hunt sudah sepatutnya menjadi benchmark dalam penatalaksanaan cidera kepala. Petr Cech dapat kembali merumput dan meneruskan karir gemilangnya di level klub dan internasional. Sejak saat itu, kampanye untuk melawan cidera kepala semakin diintensifkan dan telah menjadi bagian dalam FIFA Medical Development program. Namun, ditengah gencarnya kampanye FIFA akan deteksi dan penanganan terhadap cidera kepala di sepakbola, berita dari tanah air sungguh sangat mengejutkan.

Berbagai panduan telah dikembangkan untuk membantu mendeteksi dan menurunkan angka mortalitas atau resiko disabilitas paska cidera kepala. Salah satu panduan yang umum diterapkan adalah The FA’s Concussion Guidelines yang disusun oleh federasi sepakbola Inggris (the FA) menekankan pada pentingnya deteksi potensi cidera kepala. Panduan ini didesain untuk menjangkau semua kalangan yang berpotensi menangani cidera kepala dalam persepakbolaan, baik profesional ataupun akar rumput. Deteksi cepat atas kecurigaan cidera kepala dapat dilaksanakan apabila personel lapangan memahami prinsip primary survey, sepertu “visible clues” (tanda yang bisa terlihat) dan “symptoms” (keluhan yang pemain rasakan), mekanisme cedera, serta screening cepat dengan the Pocket Concussion Recognition Tool. Slogan “If in doubt, sit them out.” memiliki arti jika ada keraguan dalam mendiagnosis cidera kepala, pemain harus segera ditarik dari lapangan untuk diperiksa dan ditangani lebih lanjut.

Proses evakuasi pemain harus dilakukan oleh personel-personel yang kompeten dan terlatih. ABC dan kontrol C-spine harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (no margin for error). Ketersediaan peralatan dan obat obatan emergensi (advanced first aid) juga harus diperhatikan. Silakan lihat rekaman kejadian, sudahkah proses evakuasi dilaksanakan dengan baik? Adakah sistem Emergency Action Plan (EAP) yang sudah diterapkan dengan efektif? Percayalah bahwa prinsip “Practice makes perfect” sangat berlaku dalam kasus ini. Sehingga, proses pelatihan yang berstandar dan kontiniu terhadap staff medis dan paramedis menjadi prioritas sehingga mereka dapat memberikan penanganan yang optimal dan terstandar. Sosialisasi terhadap seluruh elemen persepakbolaan, baik penyelenggara liga, klub, pemain, bahkan supporter, terkait kondisi kegawatdaruratan medis di sepakbola menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.

Sudah saatnya kita berbenah dan memperbaiki diri. Kepergian seorang putra bangsa adalah sebuah harga yang terlalu mahal untuk sebuah pembelajaran.

Selamat jalan sang kiper Persela, Choirul Huda.

Birmingham, 15 Oktober 2017

Kent A. Khurniawan
MSc Exercise and Sports Medicine (Football)
University of Birmingham
LPDP BPI PK-48

Redaksi muhammadiyahlamongan.com menyajikan suguhan dakwah media massa yang sejuk, Islami dan berkemajuan. Berbasis komunitas dan berpedoman pada tujuan persyarikatan Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *