Mohammad suud

Macetnya komunikasi bisa berakibat fatal. Keenganan berkomunikasi menyebabkan lambanya distribusi keputusan organisasi.

Kita bisa belajar banyak dari “kasus” yang terjadi di masjid Umar Bin Al khottob RA, dusun Tempuran desa Cangkring Bluluk, sebagaimana yang telah diberitakan di media ini. Bola liar yang bernama fitnah bahwa telah terjadi perebutan masjid Muhammadiyah yang dilakukan oleh yayasan Baitul Maqdis. Setelah terurai ternyata sederhana, penyebabnya kurangnya keberanian untuk menyapa.

Lepas dari siapa yang salah dalam kasus di atas, Muhammadiyah sebagai pemilik yang sah dan sekaligus tuan rumah bisa melakukan apapun, semisal bertanya, diskusi, sharing. Kalau tidak sejalan misi gerakan, pimpinan setempat bisa saja menolaknya.

Kembali ke tema di atas. Di sebuah ranting ada seorang pimpinan yang “ngambek” gara-gara tidak diajak komunikasi, tidak disapa. Walau statusnya pimpinan. Aneh, kan?

Baca Juga  Kesholehan Anak Cerminan Kesholehan Orang Tua

Era digital banyak sarana yang bisa kita manfaatkan. Semua bisa menjadi praktis, murah dan simpel. Group-group WA tidak terhitung. Tidak ada lagi alasan tranportasi, macet. Kecuali LUPA.

Yang penulis rasakan, di tingkat pimpinan tertentu menganggap bahwa komunikasi Persyarikatan hanya bisa dilakukan di forum rapat formal. Maka wajarlah hasil keputusan terkatung-katung bahkan mungkin hilang ditelan bumi. Semua saling menunggu, tidak jelas siapa yang bertanggungjawab. Ada juga pimpinan yang hobinya suka menunggu, kalau ada info gerak, kalau tidak ada ya diam. Nah, kalau tidak ada yang kreatif dan ringan tangan, pasti akan ada keputusan yang menumpuk, ibarat sebuah perusahaan, bila mesinya rusak berapa kerugian yang akan ditanggung.

Baca Juga  Komunikasi Nabi Idris, Pena dengan Kaumnya

Komunikasi non formal bisa saja melebihi rapat formal. Karena sebelum bertemu biasanya menyiapkan draf-konsep. Bila rapat ingin berlangsung efektif dan efesien komunikasi non formal harus terus dilakukan.

Bagi yang ingin mendapat bonus besar di sisi Allah Subhaanahuu wata’ala, maka mari bermuhammadiyah 24 jam. Berfikir, bertutur dan bertindak untuk menjaga kelanggengan dakwah Muhammadiyah. Pesan salah satu tokoh di forum perkaderan (lupa namanya). Menjadi kader 24 karat, sambil makan ingat Muhammadiyah, duduk santai mikir organisasi, rekreasi tidak lupa persyarikatan, saat bekerja masih sempat berWA konsolidasi. Begitulah otak kita full dengan komunikasi. Betapa dahsyat hasilnya bagi perkembangan harokah kita. Inilah HAKEKAT KOMUNIKASI.
Jangan abaikan…!!

 

Mohammad suud

Modo, 8 November 2017

Mohammad Suud
*) Sekretaris Majelis Tabligh PDM Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here