fathan faris sautro

Oleh: fathan faris sautro

Di dalam tata kehidupan masyarakat global, bisnis jasa informasi merupakan gejala social yang tidak dapat di hindarkan. Hampir semua pelajar solokuro “dipaksa” untuk senantiasa mengikuti ritme gerakanmodernitas tersebut, dampak dari iklim kehidupan demiian adalah munculnya ketergantungan pelajar solokuro terhadap segala bentuk repika informasi. “kekuasaan” pelajar zaman sekarang bukan saja diwujudkan melalui struktur, melainkan juga dalam penguasaan informasi. Artinya, siapapun warga pelajar yang memang benar-benar menguasai informasi, mereka adalah “pemguasa” sesungguhnya! Fenomena ini menandakan adanya pergeseran dan percepatan narasi kehidupan masyarakat ang condong pada wujud kuasa-pengetahuan.

Melalui kemajuan informasi, seluruh tanda-tanda kebudayaaan masyarakat modern disebarluaskan kepada segenap manusia diseantero bumi. Sistem global, yang selanjutnya dikenal dengan istiah modernisasi, menurut dihilangkanya batas-batas antar Negara, baik dalam bentuk  ekonomi, politik, social, budaya, hingga pendidikan. Konsep global tersebut mengarahkan semua umat manusia untuk terlibat jauh dalam sebuah narasi peradaban baru  yang biasa disebut kampung global. Kecenderungan masyarakat globa semacam ini ditandai dengan tingginya tingkat intensitas interaksi antar manusia, kehidupan semakin plural serta mobilitas transnasional penduduk semakin deras. Semua itu tiada lain dapat ditempuh  karena adanya kemajuan dibidang teknologi, komuniasi, serta transportasi.

Keterikatan manusia modern terhadap pengetahuan (informasi) telah mengajak sebagian besar masyarakat untu melampaui batas-batas kemampuanya. Dengan adanya teknologi informasi,  khususnya pelajar solokuro tidak begitu sulit untuk bertamasya, kulia, kerja dan lain—lain. Televisi sbagai salah satu produk masyarakat industrial juga dapat lebih memudahkan komunikasi masyarakatt modern. Dengan televisi, seorang pelajar lebih dapat dan mudah mengakses segala bentuk informasi yang tengah terjadidibelahan bumi manapun. Oleh sebab itu, menjadi wajar apabila masyarakat saat sekarang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan “kotak informasi” (televisi) tersebut.

A.Fenomena dunia televisi terhadap pelajar solokuro

Sudah cukup banyak para tokoh yang mengangat tema dan judul tentang persoalan televisi. Salah satu dari sekian banyak tokoh tesebut adalah george  gerbner. Sebagai seorang pakar komunikasi dan peneliti televisi di Amerika George mengungkapkan bahwa televisi merupakan “agama masyarakat industrial”. Mengapa demikian? Karena, Televisitelah menggeser peran agama-agama manapun. Tempat ibadahnya tersebar keseluruh penjuru dunia, ritus-ritusnya diikuti dengan penuh penghidmatan, dan boleh jadi lebih banyak yang menggetarkan hati dan mempengaruhi alam bawah sadar manusia dari pada ibadah agama-agama yang pernah ada.

Agaknya, gagasan George gerbner di atas masih cukup relevan untuk  dijadikan sebagai pisau analisa dalam membaca kecenderungan pergeseran social di solokuro. Alam bawah sadar pelajar seringkali hanyut dalam belaian romantika kesedihan acara sinetron, bahkan tidak tertutup kemungkinan hingga meneteskan air mata. Ketergantungan pemirsa televisi tersebut terjadi saat mereka menikmati cerita film atau sinetron serial. Corak keterganungan semacam ini tentunya mengajak seorang pelajar untuk selalu hadir disaat jam-jam tertentu, di mana sinetron ditayangkan. Semakin lama pemirsa meninggalkan layar kaca (televisi), dengan sendirinya akan merasa ketinggalan cerita film-film kesukaan.

Setelah menonton sinetron televisi yang mengisahkan dinamika kebanyakanpara pelajar menceritakan dan meniru gaya  pemain sinetron itu, atau meniru percintaan anak muda, para peserta didik lebih percaya bahwa menjalin hubungan asmara se masa SMP maupun SMA merupakan gaya hidup yang sesuai dengan tuntunan zaman. Tragisnya, dampak lain dari tayangan sepak bola terutamanya tim PERSELA. Bagaimana mungkin, anak anak sekolah dasar  di desa solokurolebih mengenal dan mengerti betul nama-nama beserta data diri pemain PESELA contohnya Alm. Choirul Huda, anak-anak mengerti dedikasi beliau sangat loyal bermain untuk persela sampai meningal dunia saat bemain untuk PERSELA.

Baca Juga  Mental "Tulalit" Generasi Bangsa Indonesia

Lebih dari itu, pada umumnya, acara sinetron telah di sesuaikan pihak perusahaan televisi dengan kondisi istirahat masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga. Pada saat-saat tertentu, hal tersebut menyebabkan para kaum hawa enggan meninggalkan layar kaca. Sulit dibayangkan apabila ibu-ibu rumah tangga justru lebih memilih melanjutkan menonton sinetron dari pada shalat tepat waktu. Bukan tidak mungkin apabila dalam memilih channel program juga harus mengalami konflik berebut remote control terlebih dahulu dengan suami atau pemirsa lainya.

Fenomena demikian sesunggunya semakin menegaskan diri terhadap pelajar solokuro sebagai wujud dari imitasi televsi.Apa yang dilakukanya sehari-hari merupakan cermin dari segala sesuatu yang telah ditayangkanberkali-kali oeh televisi.Kepribadian, tutur kata, penampilan busana, hingga tingkah laku masyarakat sesungguhnya diciptakan oleh sebagian orang yang ada dalam perusahaan televisi. Dalam konteks ini, televisi pada hakikatnya memiliki peran untuk  menciptakan realitas kedua yang dimaksud berwujud fiksi. Jika pelajar terlibat dalam dunia fiksi, maka tidak salah apabila diri mereka sendiri telah terperosok menjadi generasi televisi.

Patut disadari bahwa sinetron/ filmyang berjenis serial tersebut merupakan salah satu program yang disukai oleh production house (PH)/rumah produksi. Semakin tinggi rating pemirsa sinetron serial, pihak PH akan semakin mendapatkan banyak keuntungan. Sebab, di dalam setiap script/ sknario film yang diproduksi selalu saja menyediakan ruang khusus untuk comersial break (jeda iklan). Dalam pemotongan durasi film untuk jeda ikklan pun tidaklah seperti dikira sebelumnya. Jeda cerita film yang dipotong harus mengandung unsur memikat hati pemirsa selalu bertanya-tanya mengenai bagaimana kelanjutan kisah yang  sedang ditontonya. Kondosi semacam inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh PH untuk menampikan iklan.

Kebudayaan baru yang diproduksi oleh dunia global dan sampaikan melalui televisi tentunya sangat jauh dari tata aturan dan norma-norma yang dimiliki khususnya di desa solokuro. Dalam hal ini, kebudayaan baru yang dimaksud adalah munculnya pergaulan bebas, tata busana yang kebarat-baratan , gaya hidup hedonis, serta kehidupan sehari-hari pelajar  yang jauh dari nilai-nilai agama. Bagaimanapun juga, kehidupan warga bangsa yang demikian sungguh sangat berbanding terbalik dengan apa yang dipesan kan oleh bung hatta. Dalam banyyak kessempatan, bung hatta selalu menuturkan agar kita tidak menjadi bangsa yang besar  tapi melahirkan generasi kerdil.

  1. Pengaruh Arah Dunia Televisi (ADiTV) Muhammadiyah bagi pelajar solokuro

Dengan munculnya kegelisahan atas fenomena social pelajar solokuro kontepoler, agaknya Muhammadiyah hendak tampil dipanggung sejarah dunia hiburan melalui pendirian televisi. Muhammadiyah sangat berobsesi untuk memanfaatkan sisi lain televisi untuk media dakwah persyarikatan muhammadiyah yang ada di solokuro. Dakwah muhammadiyah lewat sisi lain televisi tentu sangat sarat dengan pandangan George gerbner di atas. Di mana, daya jangkau televisi yang mampu melewati ruang dan waktu sangat meniscayakan dakwah muhammadiyah untuk dapat didengar dan disaksikan oleh para pelajar maupun aktivis yang ada di solokuro.

Perlu disadari jika sesungguhnya Muhammadiyah telah memiliki modal social dalam mewujudan keinginan tersebut. Hadirnya film “laskar pelangi” yang diangkat dari satu novel tetralogy andrea hirata merupakan salah satu novel tetralogy andrea hirata merupakan salah satu pertanda bahwa Muhammadiyah mulai melancarkan serangan dakwahnya melalui dunia hiburan. Sekalipun kemunculan novel dan film “laskar pelangi” yang sangat spektakuler dan fenomenal itu aadalah hasil perenungan pribadi andrea hirata namun dengan cerita  yang memotret kehidupan dunia pendidikan muhammadiyah telah meniscayakan jia syiar dakwah persyarakatan tersampaikan kepada masyarakat luas.

Baca Juga  Komunikasi Nabi Idris, Pena dengan Kaumnya

Sejarah menunjukan jika dalam kurun waktu yang tidak begitu luas begitu lama, dawah muhammadiyah yang di sampaikan melalui novel dan film “laskar pelangi”  mampu menyebarkan virus kesadaran atas pentingnya sebuah perjuangan dalam menuntut ilmu (pendidikan)  kepada jutaaan masyarakat Indonesia. Disamping itu, novel dan film tersebut telah menghipnotis dan membangkitan kesadaran anak bangsa untuk selalu bermimpi dan tidak mudah menyerah terhadap segala bentuk keterbatasan. Munculnya kesadaran dari segenap masyarakat untuk senantiasa mnghormati guru, mencintai ilmu pengtahuan, memilii kebanggaan pada sekolah, an lain sebagainya merupakan bentuk-benuk kebudayaan yang telah menuai sukses tranformasikan dalam novel dan film tersebut.

Modal social lainya adalah munculnya para kader bangsa ini yang menggeluti dunia hiburan, khususny film. Iman cherull umam, imam G. manik, inneke koesherawati,  Astri fizati ivo, rumli c. noer merupakan namanama pengurus lembaga seni budaya PP muhammadiyah yang telah malang melintang didalam dunia perfileman. Demiian halnya,  dengansutradara film  kontroversial “perempuan berkalung sorban”, Hanung bramantyo, yang juga lahir dari lingungan pendidikan muhammadiyah di Yogyakarta. Para tokoh-tokoh tersebut setidaknya dapat memberikan angina segar dan performa dunia pertelevisian dalam mentransformasikan misi dakwah muhammadiyah. Di antaranya nama –nama tokoh perfilman itu tentunya masih cukup banyak bagi public figure lainya yang mengemban misi daakwah muhammadyah di dunia pertelevisian.

Modal social lainya adalah munculnya para kader muhammadiyah yang menggeluti dunia hiburan, khususnya film iman chaerul umam, imam G. Manik, inneke koesherawati, astrie fizaty ivo, rumly C. Noer merupakan nama-nama pengurus lembaga seni budaya PP Muhammaddiyah yang telah malang melintang di alam dunia perfileman. Demikian halnya, dengan sutradara film kontroversional  “perempuan berkalung sorban”, hanung bramantyo, yang juga lahir dari lingkungan pendidikan muhammadiyah di yogakarta. Para tokoh-tokoh tersebut setidaknya dapat memberikan angin segar  bagi performa dunia pertelevisian dalam mentransformasikan misi dawah muhammadiyah. Di antara deretan nama-nama tokoh perfileman itu, tentunyya masih cukup banyak  bagi public figure lainya yang mengemban misi dakwah di dunia pertelevisian.

Oleh sebab itu, pimpinan wilayah muhammadiyah daerah istimewah yogyakarta (PWM DIY) melakukan terobosan untuk mendirikan sebuah stasiun televisi swasta bernama arah dunia televisi (ADiTV). Ke  hadiran ADiTV muhammadiyah tentu menjadikan segenap pelajar solokuro maupun segenap persyarikatan merasa agak sedikit lega. Tetapi harapan pelajar solokuro dengan adanya ADiTV tidak lain sebagai upaya melakukan counter hegemonuy terhadap perusahaan televisi swasta lainya yang kurang memperhatikan aspek  moralitas dan releguitas masyarakat.

Di samping itu, ADiTV jug dapat berfungsi agar syiar dakwah persyarikatan bisa dinikmati  oleh masyarakat luas, khususnya di desa solokuro ini. Dengaan adanya ADiTV ini akan mendinamiskan  dakwah muhammadiyah. Jika muhammadiyah bertumpu pada metode konvensional, pelayanan dan pengabdian terhadap masyarakat, maka dengan ADiTV dakwah persyarikatan akan semakin lengkap. Sebab, dengan adanya ADiTV, muhammadiyah dapat mudah menampilkan performa dakwah yang mencerahkan dan memberikan pengaruh positif bagi masyarakat luas.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _  _  _

Founder Api Literasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here