Oleh: Fathan Faris Saputro
“Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji zarrah(sebesar atom/sangat kecil) dari sifat sombong” (HR Muslim)
Pembukaan kalimat itu bukan untuk menyindir pihak mana pun, melainkan hanya untuk mengingatkan kita semua betapa pentingnya kita menjaga hati kita dari sifat ‘SOMBONG’ yang mampu mematikan hati.

Memiliki kekayaan berlimpah, dan kedudukan yang tinggi adalah mimpi setiap manusia, namun ada satu hal yang menjadi sifat manusia ketika memiliki semuanya itu, yaitu kesombongan atau tinggi hati. Sifat ini bergelayut kepada orang-orang yang merasa dirinya sudah mempunyai segalanya, sehingga tanpa ia sadari, ia pun merendahkan orang lain dengan perkataannya ataupun perbuatannya.

Pengertian dari topeng keSombongan atau tinggi hati itu adalah merasa bahwa dirinya jauh lebih baik daripada orang lain, sehingga dia melihat orang lain itu rendah, hina dan sebagainya. Sifat ini seakan sudah mengakar pada manusia, dijaman maju seperti sekarang ini. banyak orang yang dengan jujur mengatakan, mereka menyombongkan dirinya adalah hal yang lumrah. Hal ini lantaran kekayaan yang mereka miliki serta kepintaran, sehingga sangat wajar menyombongkan diri.

Kesombongan juga tidak sebatas menyombongkan apa yang ia miliki berdasarkan materi, namun sekarang ini banyak juga para pelayan Tuhan, menyombongkan diri mereka, seakan-akan mereka lebih suci dari siapapun. Inilah yang disebut kesombongan rohani. Sombong rohani berarti memegahkan dirinya, dengan embel-embel agama. Bahkan dengan atribut tersebut, mereka dengan gampangnya bisa menghakimi orang lain yang dirasa tidak berkenan di mata mereka.

Orang yang sombong rohani biasanya selalu ingin membanding-bandingkan pertumbuhan rohani mereka dengan orang lain, seakan-akan lebih religius dan beriman ketimbang yang lain, bukan itu saja tanpa malu-malu terkadang mereka ingin menunjukkan betapa rohaninya mereka dengan orang disekitarnya.
Maka itu, perlu kita ingat kesombongan adalah awal kehancuran, bukti dari hal ini kisah alkitab, yaitu raja Nebukadnezar yang jatuh ke dalam dosa kesombongan karena kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki, namun pada akhirnya ia pun jatuh bahkan direndahkan sedemikian rupa.
Karena itulah, lebih baik menghindari akan kesombongan yang mengakar dalam diri kita, selain itu cobalah mengintropeksi diri agar tidak terjebak dengan sikap tinggi hati tersebut. Dan yang paling utama dan diingat selalu meminta hikmat kepada Tuhan untuk menjauhkan dari rasa kesombongan.

Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.

Baca Juga  GEMPAR (Gerakan Kemandirian Pelajar)

Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain
Allah Ta’ala berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18) Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.

Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {56}

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)

Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.

Baca Juga  Memaknai Bonus Demografi Bersama “Ilir Ilir”

Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah)

Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195)

Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.
Sifat sombong itulah yang menunjukkan ketidak tundukkan iblis terhadap Allah SWT. Seperti halnya diri ini, terkadang sifat itu selalu ada saja melekat saat kita mendapatkan kesuksesan. Membanggakan diri secara berlebih sehingga orang lain yang terlihat tidak seperti kita, dianggap tidak ada apa-apanya.

Sifat sombong pun tidak hanya bersifat menymbongkan kekayaan dan pangkat. Ada juga sombong dengan ‘merasa pintar’ sehingga hati sulit menerima pengetahuan bahkan nasihat dari orang lain meskipun itu benar.

Naudzubillahi mindzalik, jangan sampai sifat tercela terus membelunggu hati kita sehingga kita lupa sudah menggadaikan surga yang nantinya menjadi peristirahatan kita. Cukuplah, rasa sukur dan rendah hati menjadi feedback dari kesuksesan kita terhadap semua orang dan Allah SWT. Karena boleh saja apa yang nampak lebih kuat di mata ternyata jauh lebih buruk daripada mereka yang terlihat lebih lemah dari kita.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Founder Api Literasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here