MuhammadiyahLamongan.com – Santri Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Putri itu akhirnya menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an, sebuah capaian yang lahir dari perjalanan panjang penuh kesabaran dan istiqamah.
Revina Safitri. Gadis kelahiran 27 April 2008 yang kini duduk di kelas 12 IPS 3 (6 Diniyah) ini bukanlah sosok yang instan dalam menghafal. Ia memulai langkahnya sejak kelas 5 SD dengan capaian awal 3 juz.
Putri pasangan Imam Safi’i dan Sri Nurwati, yang tinggal di Denpasar Barat, Bali, ini mengaku bahwa motivasinya sederhana, tetapi kuat. Ia pernah mendengar bahwa penghafal Al-Qur’an akan dimudahkan hidupnya oleh Allah. Dari situlah tekadnya tumbuh
Revina sendiri bukan tanpa prestasi. Sejak di bangku MTs, ia telah menunjukkan kemampuannya dengan meraih Juara 3 Tahfidz Al-Qur’an saat kelas 2, dan meningkat menjadi Juara 2 saat kelas 3. Prestasi tersebut menjadi penanda bahwa jalan yang ia tempuh bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kesungguhan yang terus dirawat.
Target menghafal 30 juz pun sudah ia tetapkan sejak awal. Namun, bagi Revina, perjalanan menuju target itu bukan tanpa ujian. Tantangan terbesarnya bukan pada menambah hafalan, melainkan menjaga hafalan itu sendiri.
“Saya memang suka menghafal, jadi saya fokuskan untuk menghafal Al-Qur’an, Istiqamah untuk murojaah itu yang paling sulit,” ujarnya jujur.
Meski demikian, ia menemukan ritme belajarnya sendiri. Ia menekankan pentingnya membaca sebelum menghafal, memilih tempat yang tenang, serta selalu mengawali dengan basmalah. Baginya, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga ibadah yang membutuhkan kesiapan hati.
Tak lupa, ia juga menitipkan pesan untuk sesama santri yang sedang berjuang di jalan yang sama.
“Menghafal itu proses, bukan lomba. Mintalah kepada Allah agar selalu diberi kesabaran dan istiqamah,” pesannya.
Kisah Revina Safitri adalah potret bahwa menghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang instan. Namun proses panjang yang menuntut kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan hati. Namun, dari proses itulah lahir keberkahan, bukan hanya dalam hafalan, tetapi juga dalam membentuk karakter dan masa depan. (*)
Penulis Alfain Jalaluddin R. Editor Lim