MuhammadiyahLamongan.com – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Lamongan menggelar Pendidikan Kaum Merah (PKM) sebagai upaya memperkuat kualitas kader di tengah tantangan era digital.
Kegiatan bertema “Merdeka Atoe Mati: Menajamkan Akal, Abadi dalam Perjuangan” ini berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Rumah Ikatan, Lamongan.
Kegiatan yang diikuti 17 peserta tersebut dibuka secara resmi dengan dihadiri Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan Siswanto, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, Anang Taufik, Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Lamongan Alexi Candra Putra, jajaran Organisasi Otonom (Ortom) tingkat daerah, serta perwakilan kader PK IMM se-Lamongan.
Ketua Panitia, M. Roy Arbain, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi kemahasiswaan yang lahir dari semangat perubahan sosial yang dibangun melalui pergulatan ideologi, keilmuan, dan gerakan yang terorganisir secara sadar.
Menurutnya, perubahan sosial tidak pernah hadir dari ruang kosong. Berbagai gagasan tentang kesetaraan, keadilan sosial, dan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan lahir dari proses pemikiran yang panjang serta kesadaran kritis terhadap realitas yang dihadapi masyarakat.
Roy menjelaskan bahwa dalam konteks Indonesia, gerakan pembaruan Islam yang dibawa Muhammadiyah telah memberikan fondasi kuat bagi lahirnya kesadaran sosial yang berkemajuan. Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, menekankan bahwa pendidikan dan pemurnian ajaran Islam harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap persoalan sosial umat.
“Semangat tersebut kemudian diteruskan oleh para tokoh Muhammadiyah, termasuk Ahmad Syafii Maarif, yang mengembangkan gagasan Islam Berkemajuan, inklusif, dan berorientasi pada terwujudnya keadilan sosial,” ujarnya.
Lebih lanjut, Roy menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda pada era Society 5.0. Menurutnya, relasi kekuasaan saat ini tidak hanya hadir dalam bentuk fisik dan ekonomi, tetapi juga merambah ruang digital melalui kontrol informasi, algoritma, dan kapitalisasi data.
“Kondisi ini menuntut lahirnya kesadaran baru bahwa perjuangan ideologi tidak berhenti, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Tanpa fondasi ideologis yang kuat, generasi muda berisiko terjebak dalam pragmatisme dan kehilangan arah dalam membaca realitas sosial, politik, maupun keagamaan,” tegasnya.
Melalui Pendidikan Kaum Merah ini, Roy berharap mampu melahirkan kader-kader yang memiliki ketajaman intelektual, kekuatan ideologi, serta kepekaan sosial yang tinggi. Dengan bekal tersebut, kader IMM diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tetap relevan dalam menghadapi dinamika masyarakat modern tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai perjuangannya. (*)
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Lim