Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Ustadz M.Anif Musha, Sampaikan Keutamaan Ibadah Haji dan Makna Haji Mabrur pada Khutbah Jumat di Masjid Darussalam Jetak

MuhammaidyahLamongan.com– Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Darussalam Jetak, Jumat (5/6/2026). Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati ruang utama masjid sejak menjelang azan. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam adalah Drs. M. Anif Musha, M.Pd selaku anggota Majlis Tarjih PWM Jawa Timur sekaligus juga Guru Qur’an Hadist di MadtsaMutu Pondok Modern Paciran, yang dalam khutbahnya menyampaikan tema “Keutamaan Ibadah Haji dan Makna Haji Mabrur.”

Pada awal khutbahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT berikan. Nikmat kesehatan, kesempatan beribadah, keamanan, dan rezeki yang diberikan Allah hendaknya menjadi sarana untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

“Hendaknya setiap muslim senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah. Syukur yang diwujudkan dengan ketaatan akan mendatangkan tambahan nikmat dan keberkahan dalam kehidupan,” ungkap beliau di hadapan jamaah.

Dalam khutbahnya, Ustadz Anif Musha juga menyampaikan perkembangan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M. Indonesia kembali memperoleh kuota haji sebanyak 221.000 jamaah, terdiri atas 203.320 jamaah reguler dan 17.680 jamaah khusus. Adapun Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah jamaah terbanyak, yakni sekitar 42.409 jamaah.

Beliau menjelaskan bahwa jamaah haji Indonesia secara bertahap akan kembali ke tanah air melalui gelombang kepulangan yang dibagi menjadi dua tahap, yaitu jamaah yang berangkat pada gelombang pertama akan pulang lebih dahulu dari Madinah, sedangkan gelombang kedua kembali melalui Jeddah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah.

Kemudian beliau mengajak para jamaah untuk mendoakan seluruh tamu Allah agar diberikan kesehatan, keselamatan, dan memperoleh predikat haji mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT.

Kisah Menyentuh tentang Haji yang diterima Allah

Memasuki bagian inti khutbah, Ustadz Anif menyampaikan sebuah kisah hikmah yang telah lama dikenal dalam khazanah Islam.

Diceritakan bahwa pada masa dahulu terdapat seorang saleh bernama Abdullah Al-Mubarak, seorang ulama dan ahli hadis yang berasal dari wilayah Khurasan. Seusai menunaikan ibadah haji di Makkah, beliau beristirahat di sekitar Masjidil Haram karena kelelahan setelah menyelesaikan rangkaian ibadah.

Dalam tidurnya, beliau bermimpi melihat dua malaikat yang sedang berbincang. Salah satu malaikat bertanya, “Berapa jumlah jamaah yang berhaji tahun ini?”

Malaikat lainnya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Malaikat pertama kembali bertanya, “Berapa orang yang diterima hajinya?” Malaikat kedua menjawab, “Tidak satu pun dari mereka yang diterima secara sempurna.” Mendengar jawaban itu, malaikat pertama terkejut. “Lalu siapakah yang diterima hajinya?”

Malaikat kedua menjelaskan bahwa Allah menerima haji seorang laki-laki yang bahkan tidak berangkat ke Makkah. Ia tinggal di Kota Damaskus, Syam. Karena keikhlasan amalnya, Allah menerima hajinya dan bahkan menjadikan keberkahannya meliputi para jamaah lainnya.

Setelah terbangun, Abdullah Al-Mubarak merasa penasaran. Sepulang dari Makkah beliau mencari orang yang disebut dalam mimpinya tersebut. Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya beliau bertemu dengan seorang tukang sepatu sederhana bernama Ali bin Muwafiq.

Ketika ditanya tentang amalannya, Ali bin Muwafiq menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun ia menabung untuk menunaikan ibadah haji. Namun menjelang keberangkatan, ia mendapati seorang janda miskin bersama tiga anak yatim yang beberapa hari tidak makan.

Karena rasa iba, seluruh tabungan hajinya diberikan kepada janda tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ia mengikhlaskan niat hajinya demi menyelamatkan keluarga yang sedang kelaparan itu.

Ali bin Muwafiq berkata, “Aku tidak jadi berangkat haji tahun itu. Aku hanya berharap Allah menerima niatku.” Dari pengorbanan dan keikhlasan itulah Allah memuliakan amalnya.

Melalui kisah tersebut, Ustadz Anif menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya persoalan perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga menyangkut kepedulian sosial dan kebersihan hati.

“Jangan sampai ketika seseorang berangkat haji, di sekelilingnya masih ada tetangga, kerabat, atau keluarga yang hidup dalam kesulitan dan kelaparan yang sebenarnya mampu ia bantu. Kesalehan ritual harus diiringi dengan kesalehan sosial,” pesan beliau.

Jamaah Mengikuti Khutbah dengan Khusyuk, dimana sepanjang khutbah berlangsung, jamaah tampak menyimak dengan penuh perhatian. Suasana masjid begitu tenang. Hembusan angin yang masuk melalui serambi masjid menambah kesejukan siang itu. Banyak jamaah terlihat menganggukkan kepala saat khatib menyampaikan pesan tentang pentingnya kepedulian kepada sesama sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah.

Khutbah kemudian ditutup dengan doa untuk para jamaah haji Indonesia, khususnya jamaah asal Lamongan dan Jawa Timur, agar seluruh rangkaian ibadah mereka diterima Allah SWT serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan membawa predikat haji yang mabrur.

Khutbah Jumat yang disampaikan Drs. M. Anif Musha, M.Pd memberikan pelajaran berharga bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari keberhasilan seseorang mencapai Tanah Suci, tetapi juga dari ketulusan hati, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan membantu mereka yang membutuhkan. Kisah Ali bin Muwafiq menjadi pengingat bahwa amal yang dilakukan dengan ikhlas dapat memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Semoga pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut menjadi motivasi bagi seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan keimanan, memperkuat kepedulian sosial, serta menjadikan setiap ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan manfaat bagi sesama.

Penulis: Salnun Mahya Salsabila, Editor: Ma’in

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Navigating %key1% feels surprisingly intuitive even for first-timers

Read next
0
Share