MuhammadiyahLamongan.com – Berbeda dari sejumlah unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan organisasi mahasiswa (ormawa) lainnya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Al-Iskandariyah Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) memilih orasi sebagai cara memperkenalkan organisasinya kepada mahasiswa baru.
Aksi tersebut berlangsung dalam kegiatan display UKM dan ormawa pada Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) 2026 di lingkungan UMLA, Selasa (1/9/2026).
Di hadapan mahasiswa baru, kader IMM Al-Iskandariyah menyampaikan orasi dengan penuh semangat. Suara lantang dan pesan yang disampaikan menjadi bagian dari upaya mengenalkan IMM sebagai organisasi yang tidak sekadar menjadi ruang berkumpul mahasiswa, tetapi juga tempat belajar berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan menyikapi persoalan sosial.
Orasi semakin semarak ketika para kader menggaungkan sejumlah jargon bersama.
“Hidup mahasiswa!”
“Hidup rakyat Indonesia!”
“Hidup perempuan yang melawan!”
Jargon tersebut disambut antusias oleh mahasiswa baru yang menyaksikan display. Bagi IMM Al-Iskandariyah, orasi menjadi medium untuk menunjukkan karakter organisasi yang dekat dengan isu kemahasiswaan, kemanusiaan, serta keberpihakan kepada masyarakat.
Ketua Umum IMM Al-Iskandariyah UMLA, Immawan Azar, mengatakan, pemilihan orasi sebagai bentuk display sengaja dilakukan untuk menunjukkan identitas IMM sebagai organisasi yang mendorong mahasiswa berani menyampaikan gagasan.
“Kami ingin mahasiswa baru melihat bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, kemudian pulang. Ada tanggung jawab intelektual dan sosial yang harus kita jalankan. Melalui orasi ini, kami ingin mengajak mereka berani bersuara, berpikir kritis, dan peduli terhadap persoalan di sekitar,” ujarnya.
Menurut Azar, jargon yang disampaikan dalam orasi bukan sekadar seruan untuk memeriahkan kegiatan. Setiap kalimat, kata dia, memiliki pesan yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa baru.
“‘Hidup mahasiswa’ mengingatkan kita pada peran mahasiswa sebagai insan akademis sekaligus bagian dari masyarakat. ‘Hidup rakyat Indonesia’ menegaskan bahwa ilmu yang kita miliki seharusnya tidak berhenti untuk kepentingan diri sendiri. Sementara ‘hidup perempuan yang melawan’ merupakan bentuk keberpihakan terhadap perempuan yang berani memperjuangkan hak dan keadilan,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pintu awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal IMM lebih dekat. Menurut Azar, mahasiswa yang memiliki kegelisahan terhadap persoalan sosial dan ingin mengembangkan kemampuan intelektual dapat menemukan ruang belajar bersama di IMM.
“IMM bukan hanya tempat untuk berorganisasi, tetapi ruang untuk berproses. Di sini kita belajar berdiskusi, membaca realitas, menyampaikan pendapat, sekaligus mencoba memberikan solusi atas persoalan yang ada,” tuturnya.
Melalui orasi tersebut, IMM Al-Iskandariyah UMLA ingin menyampaikan pesan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Menjadi mahasiswa juga berarti memiliki keberanian untuk berpikir, bersuara, dan mengambil peran di tengah masyarakat. (*)
Penulis : Nova Aquila Salsabila Cahyono | Editor : Fathan Faris Saputro