MuhammadiyahLamongan.com- Tabligh Akbar dan Halalbihalal Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan sukses berlangsung di Dome UMLA pada Rabu (23/4/2025).
Dengan menghadirkan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. selaku Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sebagai penceramah.
Acara tersebut dihadiri oleh 3500 jamaah persyarikatan Muhammadiyah beserta Ortom dan AUM seKabupaten Lamongan. Juga hadiri oleh beberapa tokoh yakni Bupati dan Wakil Bupati Lamongan, DPR RI, Ahmad Labib, S.HI, MH, Wakil PWM Jawa Timur, Sholikin Fanani dan lainnya.
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti berpesan kepada semua jamaah untuk selalu berpegang kepada tali Allah (Hablum mina Allah) untuk menjadi manusia yang hidupnya mulia dan damai sentosa.
Lalu, Beliau membacakan bunyi Surat Ali Imran ayat 112 adalah:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّـهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّـهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّـهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَتَجَاسَرُونَ
Artinya: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Hal itu adalah karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa hak (kebenaran). Hal itu terjadi karena mereka telah melanggar dan selalu melampaui batas.”
Disamping menjalin hubungan manusia dengan Allah lewat pengamalan ketaatan atas perintah-perintah Allah dalam realitas kehidupan, juga penting membangun tali persaudaraan dengan sesama manusia, yang populer disebut dengan Hablum minannas.
Maka, Abdul Mu’ti menyebutkan ada empat hal yang harus diwujudkan oleh manusia untuk merajut kerukunan, guna menghadirkan kemuliaan hidup dan kedamaian yang sentosa.
Sebelumnya menguraikan empat kunci membangun kerukunan, Beliau mengutip dan membacakan bunyi firman Allah dalam Alquran surah Al-Hujurat ayat 11 berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.
Adapun kunci merajut kerukunan yang pertama yakni janganlah merendahkan orang lain. Dalam kehidupan di dunia ini, tidak semua orang itu diciptakan sama, memiliki nasib yang sama dan sebagainya. Maka disini pentingnya untuk tidak saling merendahkan apa yang menjadi kekurangan orang lain daripada kita, hal ini karena kita sadar bahwa semua yang ada pada diri kita adalah pemberian dan amanah dari Allah.
Kedua yakni berprasangka baik. Dalam bermuamalah dengan sesama manusia dalam kehidupan keseharian, penting bagi kita untuk menghadirkan perasaan husnudzhon yakni berprasangka baik kepada orang lain. Sehingga menjadikan diri ini tidak merasa was-was, gelisah dan sebagainya terhadap perilaku orang lain kepada kita.
Ketiga adalah bertabayyun. Islam mengajarkan kita yang terdapat dalam Alquran surah Al-Hujurat ayat 6 tentang pentingnya bagi kita selalu bertabayyun terhadap berbagai informasi yang kita terima, sehingga tidak memperoleh informasi yang salah.
Keempat yaitu menjalin silaturahim. Dalam hal ini, Beliau membacakan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim).
Membangun silaturahim dengan siapapun yakni menyambung yang terputus dan mengurai yang kusut. Adapun manfaat dari silaturahim dalam hadis diatas yakni akan peroleh kelapangan rezeki dan panjangnya umur.
Semoga dengan empat hal kunci merajut kerukunan tersebut dapat menghadirkan kehidupan berumah dengan sesama manusia yang lebih aman, damai, dan rukun yang membawa manfaat bagi kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Penulis Wasis Budiono, Editor Ma’in