Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Bukan Sekadar Slogan, PCNA Sugio Konsisten Bangun Budaya Merdeka Sampah

MuhammadiyahLamongan.com – Tumbler dan wadah makanan menjadi barang yang tak boleh dilupakan peserta setiap kali menghadiri kegiatan Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah (PCNA) Sugio. Kebiasaan sederhana itu perlahan tumbuh menjadi budaya baru: mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Komitmen tersebut kembali terlihat dalam Seminar Parenting bertema ”Menjadi Orang Tua yang Bisa Didengar dan Mau Mendengarkan Anak” di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Sugio, Ahad (12/7/2026).

Seminar itu tidak hanya menghadirkan edukasi mengenai pola pengasuhan anak. Di sela-sela kegiatan, peserta juga diajak membangun kepedulian terhadap lingkungan. Mereka diminta membawa tumbler serta wadah makanan dari rumah.

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan penggunaan botol dan gelas plastik, kantong plastik, serta kemasan makanan sekali pakai yang berpotensi menjadi sampah setelah kegiatan berakhir.

Kebiasaan itu merupakan bagian dari implementasi Gerakan Merdeka Sampah yang secara konsisten dikampanyekan PCNA Sugio dalam setiap agenda organisasi.

Sekretaris Umum PCNA Sugio, Nur Faizana Maulida, S.Si., mengatakan, Gerakan Merdeka Sampah merupakan tindak lanjut dari gerakan yang diinisiasi Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur.

Gerakan tersebut kemudian diterapkan di berbagai tingkatan organisasi sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan sampah dan kelestarian lingkungan.

”Gerakan Merdeka Sampah merupakan salah satu ikhtiar PWNA Jawa Timur dalam membangun budaya peduli lingkungan. Program ini kemudian diimplementasikan oleh berbagai elemen Persyarikatan, termasuk organisasi otonom seperti Nasyiatul ‘Aisyiyah,” ujarnya.

Menurut Nur Faizana, PCNA Sugio berupaya menerjemahkan gerakan tersebut dalam aksi nyata. Merdeka Sampah, kata dia, tidak boleh berhenti sebagai jargon dalam kegiatan organisasi.

”Di PCNA Sugio, kami berkomitmen menerapkannya secara nyata dalam setiap kegiatan. Bukan hanya sebagai slogan, melainkan menjadi budaya organisasi,” katanya.

Empat Bulan Menjaga Konsistensi

Selama kurang lebih empat bulan terakhir, setiap kegiatan PCNA Sugio menerapkan konsep Gerakan Merdeka Sampah. Peserta dibiasakan membawa tumbler dan wadah makanan sendiri agar penggunaan plastik sekali pakai dapat ditekan seminimal mungkin.

”Alhamdulillah, selama kurang lebih empat bulan ini kami terus istikamah menerapkan Gerakan Merdeka Sampah. Setiap ada kegiatan, kami selalu mengingatkan peserta agar membawa tumbler dan wadah makanan sendiri,” tutur Nur Faizana.

Pada awal penerapannya, kebiasaan tersebut terasa baru bagi sebagian peserta. Namun, seiring berjalannya waktu, membawa wadah pribadi mulai menjadi bagian dari kebiasaan kader dan peserta kegiatan.

”Awalnya mungkin terasa baru, tetapi sekarang sudah mulai menjadi kebiasaan. Kami bersyukur para kader dan peserta memberikan respons yang sangat positif,” ujarnya.

Menurut Nur Faizana, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dibutuhkan untuk melahirkan perubahan yang berkelanjutan.

Organisasi kemasyarakatan, lanjut dia, memiliki peran penting dalam memberikan contoh melalui aksi sederhana yang dapat ditiru masyarakat.

”Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Membawa tumbler sendiri mungkin terlihat sederhana. Begitu pula membawa wadah makanan dari rumah,” katanya.

Namun, kebiasaan sederhana itu akan memberikan dampak berbeda apabila dilakukan secara kolektif.

”Ketika dilakukan oleh puluhan, bahkan ratusan orang dalam setiap kegiatan, jumlah sampah plastik yang berhasil dikurangi tentu sangat besar. Hal-hal sederhana inilah yang ingin kami biasakan,” jelasnya.

Pendidikan Lingkungan Dimulai dari Keluarga

Bagi PCNA Sugio, Gerakan Merdeka Sampah juga memiliki kaitan erat dengan peran perempuan dalam keluarga. Nasyiatul ‘Aisyiyah dinilai memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan, khususnya di kalangan perempuan, ibu, dan calon ibu.

Nur Faizana meyakini kebiasaan baik yang dilakukan orang tua akan menjadi teladan bagi anak-anak di rumah. ”Kami meyakini bahwa pendidikan lingkungan dimulai dari keluarga. Seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan anak,” tuturnya.

Ketika orang tua terbiasa membawa tumbler, menggunakan wadah makanan sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, dan membuang sampah pada tempatnya, anak-anak akan melihat kebiasaan tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

”Anak-anak akan tumbuh dengan karakter yang mencintai kebersihan dan peduli terhadap lingkungan. Inilah nilai yang ingin kami bangun melalui Gerakan Merdeka Sampah,” katanya.

PCNA Sugio berharap semangat tersebut tidak hanya tumbuh di internal organisasi. Gerakan serupa diharapkan dapat diterapkan di lingkungan amal usaha Muhammadiyah, sekolah, majelis, organisasi otonom, hingga masyarakat luas.

”Kami berharap setiap kegiatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke depan semakin ramah lingkungan. Gerakan Merdeka Sampah bukan sekadar mengurangi sampah plastik, melainkan juga membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari amanah Allah SWT kepada manusia,” ujar Nur Faizana.

Ia berharap kebiasaan kecil tersebut terus tumbuh dan menginspirasi semakin banyak pihak. ”Semoga budaya ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Novita Dwi Nur Hidayah | Editor : Fathan Faris Saputro

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Anak Butuh Ruang untuk Bercerita, Nasyiah Sugio Ajak Orang Tua Buka Hati

Next Post

Jangan Hanya Minta Anak Mendengar, Orang Tua Juga Perlu Membuka Telinga

Read next
0
Share