MuhammadiyahLamongan.com – Ribuan jamaah menghantarkan kepergian Drs. KH. Ach. Kasuwi Thorif, MA, P.Br., pendekar besar Tapak Suci dan tokoh Muhammadiyah yang wafat pada Selasa malam (18/11/2025) pukul 22.00 WIB.
Almarhum dikebumikan di makam desa setempat pada pukul 09.00 WIB (19/11/2025). Rumah duka dihadiri bersama para tokoh dan pejabat, di antaranya Muspika Laren, jajaran PDM Lamongan, Ortom Muhammadiyah, serta Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI Zainul Bahar, S.H., M.Si. yang datang bersama rombongan.
Jenazah diberangkatkan menuju Masjid Taqwa Godog untuk dishalatkan. Sebelum pemberangkatan, Drs. Shodikin, M.Pd. mewakili keluarga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan almarhum selama hidupnya.
Sesampainya di masjid, jenazah disemayamkan untuk dishalatkan. Namun karena masjid, meskipun memiliki dua lantai, tak mampu menampung jumlah pelayat yang membludak, shalat jenazah dilakukan dalam tiga tahap. Suasana khusyuk dan haru menyelimuti prosesi tersebut.
Usai sholat jenazah, dilaksanakan dua sambutan. Pertama disampaikan oleh Drs. Shodikin M.Pd. mewakili keluarga. Ia kembali mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah dan memohon doa agar almarhum diterima di sisi Allah SWT.
Dalam pesan yang menyejukkan namun menggugah, ia mengingatkan bahwa “orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan kematian, sementara orang bodoh adalah orang yang lalai terhadapnya.”
Ia juga berpesan kepada generasi muda, termasuk kader Tapak Suci, agar meneruskan kebaikan, cita-cita, serta gagasan besar yang selama ini diperjuangkan almarhum.
Sambutan kedua disampaikan oleh Brigjen TNI Zainul Bahar, yang mengenang kedekatannya dengan almarhum sejak masa muda. Ia mengisahkan bahwa dirinya aktif di Tapak Suci sejak SMP dan pernah diuji langsung oleh KH Ahmad Kasuwi Thorif ketika berada di Jakarta.
“Beliau adalah sosok teladan bagi pemuda. Mengajarkan disiplin, karakter, dan pengabdian,” ujarnya.
Ia mengajak generasi muda untuk melanjutkan cita-cita luhur almarhum dalam pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Atas nama Kodam V/Brawijaya, ia juga menyampaikan permohonan maaf dan doa terbaik untuk almarhum.
Wafatnya Abah Wi tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan besar berupa teladan: keteguhan berjuang, keluasan hati, kedalaman ilmu, serta kesetiaan pada Persyarikatan. Beliau telah menunaikan seluruh perjalanan dengan kemuliaan.(*)
Penulis Alfain Jalaluddin R Editor Lim
