MuhammadiyahLamongan.com – Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilkhamd! Gemuruh takbir berkumandang di seluruh dunia, termasuk di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA). Sholat Idul Adha 1445 H dilaksanakan di halaman Kampus UMLA pada Senin (17/6/2024), diorganisir oleh Takmir Masjid Ki Bagus Hadikusumo UMLA. Ustadz Fahril Umaroh, SH, MH, dosen AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) UMLA, bertindak sebagai Imam dan Khatib.
Dalam khutbahnya, Ustadz Fahril memulai dengan mengingatkan bahwa tidak ada yang agung dan besar selain Allah, segala pujian hanya milik Allah. Kita tidak memiliki daya tanpa izin dari Allah. Contohnya, tongkat Nabi Musa, keselamatan Nabi Yunus dari bahaya laut, dan kemampuan Nabi Isa untuk membangkitkan orang mati, semuanya terjadi atas kehendak Allah. Ia juga menasihati jamaah untuk menyembah hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada orang tua.
Ia mengulas tentang filosofi historis Idul Adha dari kisah Nabi Ibrahim. Meskipun ayahnya adalah pembuat patung berhala dan memarahinya, Nabi Ibrahim tetap berdoa untuk ayahnya, menunjukkan kebaikan terhadap orang tua. “Ujian yang dialami Nabi Ibrahim menjadi pelajaran bahwa orang yang dicintai Allah akan diuji dengan berbagai cobaan, termasuk dalam urusan keluarga,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kisah para Nabi dan berbagai ujian yang mereka hadapi seharusnya menjadi refleksi bagi kita untuk tetap tegar dan terus berjuang di jalan kebaikan. “Jika hidup kita nyaman-nyaman saja, kita perlu merenung dan berhati-hati,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua, dengan mengatakan, “Jika kita baik kepada orang tua, anak kita nanti juga akan baik kepada kita. Menjadi orang tua tidak boleh egois dan otoriter, tetapi harus berdialog dengan anak agar tercipta komunikasi yang harmonis,” paparnya.
Ia kemudian menjelaskan tiga poin penting dari kisah Nabi Ibrahim: kesabaran, keikhlasan, dan tauhid kepada Allah. Pertama, kesabaran. Ia mengungkapkan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan membawa kabar gembira untuk mereka. Nabi Muhammad juga memberikan contoh kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian saat berdakwah, yang dapat kita ambil pelajaran untuk bersyukur. “Sabar memang berat, tapi hadiahnya melebihi yang kita kira. Iblis datang saat susah untuk menggoda agar kita tidak sabar, maka iman kita harus kuat sebagai pondasi kesabaran,” tuturnya.
Poin kedua adalah keikhlasan. Ia menjelaskan bahwa harta, kedudukan, dan semua milik kita adalah titipan Allah, yang harus digunakan dengan ikhlas untuk kebaikan. Keikhlasan dalam menjalani hidup sesuai perintah-Nya adalah pondasi penting untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Poin terakhir adalah tauhid. Ia menegaskan bahwa hanya kepada Allah kita bersandar, dan semua yang kita miliki harus digunakan untuk menegakkan kalimat Tauhid. (*)
Reporter Moch Muzaki. Editor Fathan Faris Saputro.