*) Oleh : Teguh Hadi Wibowo
Dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan
MuhammadiyahLamongan.com – Semakin seseorang merasa mengenal Tuhannya, semakin besar kemungkinan ia belum benar-benar mengenal-Nya. Kalimat ini mungkin terdengar provokatif, tetapi mengandung refleksi yang mendalam. Ia mengajak kita untuk mempertanyakan kembali sejauh mana pemahaman kita tentang Tuhan.
Jika kita jujur melihat realitas, perdebatan tentang Tuhan tidak pernah sepi di media sosial, ruang diskusi, bahkan di tempat ibadah. Ironisnya, perdebatan tersebut sering kali tidak melahirkan kedewasaan. Sebaliknya, perdebatan itu justru mempertegas klaim kebenaran masing-masing.
Setiap orang berbicara seolah-olah ia paling tahu dan paling benar tentang Tuhan. Padahal, Tuhan sendiri telah mengingatkan keterbatasan manusia dalam memahami segala sesuatu. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85).
Ayat ini seharusnya cukup untuk membuat manusia berhenti sejenak dan merenung. Ia menyadari bahwa apa yang dipahami tentang Tuhan tidak pernah benar-benar utuh. Apa yang disebut sebagai pengetahuan sering kali hanyalah serpihan kecil dari kebenaran yang jauh lebih luas.
Pada titik ini, manusia diajak untuk merenung lebih dalam tentang dirinya sendiri. Dalam tradisi spiritual Islam dikenal ungkapan man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. Ungkapan ini memberi isyarat bahwa perjalanan mengenal Tuhan berawal dari mengenal diri sendiri.
Namun, jalan menuju pengenalan diri bukanlah jalan yang mudah. Jika manusia berhenti sejenak untuk merenung, ia akan menemukan berbagai keterbatasan dalam dirinya. Keterbatasan tersebut meliputi akal, pengalaman, dan kemampuan dalam mengendalikan ego.
Ketika keterbatasan ini tidak disadari, manusia mudah terjebak dalam ilusi. Ia merasa seolah-olah telah memahami kebenaran secara utuh. Padahal, pemahamannya masih sangat terbatas dan parsial.
Ego Menjadi Penghalang Terbesar
Ego membuat manusia merasa tahu, merasa benar, dan enggan membuka diri terhadap kemungkinan kebenaran lain. Dalam praktik keberagamaan, ego sering hadir secara halus dengan membungkus keyakinan dalam rasa superioritas. Akibatnya, perbedaan pemahaman tidak lagi menjadi ruang refleksi, melainkan arena pembuktian siapa yang paling benar.
Padahal, jika kembali pada makna ungkapan sebelumnya, mengenal Tuhan dimulai dari kerendahan hati. Kesadaran akan keterbatasan menjadi kunci utama dalam proses tersebut. Manusia perlu menyadari bahwa pemahamannya tidak pernah sempurna.
Secara rasional, manusia memiliki kemampuan untuk sampai pada kesadaran tentang Tuhan. Keteraturan alam, kompleksitas kehidupan, dan pengalaman batin menjadi tanda-tanda yang mengarah kepada-Nya. Namun, semua itu tetap berada dalam batas interpretasi manusia.
Allah telah membuka jalan bagi manusia untuk mengenal-Nya melalui tanda-tanda di alam dan dalam diri manusia. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri…” (QS. Fussilat: 53). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memahami Tuhan melalui tanda-tanda, bukan secara langsung.
Dengan demikian, yang dipahami manusia bukanlah Tuhan secara langsung. Pemahaman tersebut merupakan hasil interpretasi atas tanda-tanda-Nya. Oleh karena itu, perbedaan pemahaman menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.
Perbedaan pemahaman tidak selalu berarti perbedaan kebenaran. Bisa jadi, perbedaan tersebut terletak pada kedalaman cara manusia membaca dan merespons tanda-tanda. Hal ini menuntut sikap bijak dan terbuka dalam menyikapi perbedaan.
Kebutuhan akan Bimbingan Ilahi
Manusia sangat membutuhkan bimbingan dalam setiap langkah hidupnya. Dalam ajaran agama, bimbingan hadir melalui wahyu, ilham, dan tanda-tanda sebagai penuntun. Bimbingan tersebut juga berfungsi sebagai koreksi terhadap kecenderungan subjektif manusia.
Al-Qur’an menegaskan bahwa bimbingan sejati datang dari Allah semata. “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56). Ayat ini menegaskan bahwa hidayah merupakan anugerah dari Allah.
Di sisi lain, manusia diperintahkan untuk terus memohon petunjuk. Bahkan dalam ibadah yang paling mendasar, manusia diajarkan untuk berdoa. “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).
Permohonan ini menunjukkan bahwa manusia selalu membutuhkan bimbingan Tuhan. Tidak ada satu pun manusia yang dapat merasa cukup dengan dirinya sendiri. Kesadaran ini menjadi dasar sikap rendah hati dalam kehidupan.
Dengan demikian, mengenal Tuhan bukan hanya hasil dari usaha berpikir. Proses tersebut juga memerlukan keterbukaan untuk menerima bimbingan. Akal membawa manusia pada kesadaran, sedangkan hidayah menuntunnya menuju kebenaran.
Di sinilah terjadi pertemuan antara ikhtiar manusia dan kehendak Ilahi. Manusia berusaha memahami melalui akal dan pengalaman. Sementara itu, Tuhan memberikan petunjuk melalui wahyu dan ilham.
Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan dibimbing oleh-Nya. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridaan) Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).
Ayat ini memberikan harapan sekaligus tanggung jawab bagi manusia. Pencarian tidak akan sia-sia jika dilakukan dengan kesungguhan. Kerendahan hati menjadi kunci dalam proses tersebut.
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak akan mencapai pemahaman yang benar-benar sempurna tentang Tuhan. Namun, yang lebih penting adalah proses dalam mengenal-Nya. Proses tersebut seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bijak, dan manusiawi. (*)
Editor : Fathan Faris Saputro