Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Moh. Ya’qub Efendi: Singa Pesisir Lamongan yang Menjual Emas Istri Demi Gaji Guru

MuhammadiyahLamongan.com– Di tengah deru ombak Desa Labuhan, tersimpan sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui logika materi. Adalah almarhum Moh. Ya’qub Efendi.

Ia merupakan seorang alumni Pondok Pesantren Langitan yang namanya kini terukir abadi bukan di atas batu nisan mewah, melainkan di hati setiap siswa dan warga pesisir Desa Labuhan.

Lahir di Dusun Gembyang pada 1945, Ya’qub Efendi bukanlah seorang saudagar kaya. Namun, ia memiliki kekayaan hati yang sulit dicari tandingannya.

Dedikasinya terhadap pendidikan Islam di Desa Labuhan menjadi bukti nyata bahwa perjuangan seringkali menuntut pengorbanan yang paling personal.

Salah satu fragmen paling menyentuh dalam hidupnya adalah ketika Madrasah Islamiyah Desa Labuhan terhimpit kesulitan finansial. Saat itu, nasib para guru berada di ujung tanduk karena tak ada biaya untuk upah mengajar. Tanpa ragu, Ya’qub Efendi melangkah pulang dan meminta kerelaan istrinya, Hj. Muifah.

Ia menjual perhiasan emas seberat 2 gram milik istrinya hanya agar dapur para guru tetap mengepul dan anak-anak desa tetap bisa belajar di Madrasah Islamiyah.

Tak berhenti di situ, ia bahkan kerap meminta bagian hasil laut dari mertuanya, bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk disumbangkan ke madrasah.

Keteguhannya teruji saat ia berdiri di barisan terdepan menolak intervensi birokrasi yang ingin mengubah identitas madrasah, demi menjaga marwah pendidikan Madrasah Islamiyah yang ia cintai.

Kehidupan Ya’qub Efendi penuh dengan peristiwa yang menggetarkan iman. Ia pernah dinyatakan hilang saat kapalnya tenggelam di tengah laut. Di saat keluarga mulai berpasrah pada takdir pahit, Ya’qub muncul di tepi pantai dengan selamat.

Sebuah kisah heroik menyebutkan ia bertahan hidup dengan menaiki ikan cucut—sebuah peristiwa yang oleh warga dianggap sebagai buah dari keikhlasannya menjaga agama Allah.

Namun, setiap pejuang memiliki waktu istirahatnya sendiri. Saat sedang melaksanakan ibadah haji, sosok bersahaja ini mengembuskan napas terakhirnya di Tanah Suci Mekah. Ia berpulang dengan cara yang dicita-citakan setiap mukmin: husnul khatimahdi rumah Allah.

Kini, sosok tinggi berhidung mancung itu telah tiada, namun jejaknya tetap berdiri kokoh. Masjid Jami’ Darussalam, Masjid Al-Quba, Musholla Al-Hikmah dan Madrasah Islamiyah menjadi saksi bisu atas langkah kaki dan tetesan keringatnya hingga ke Jakarta demi mencari bantuan pembangunan.

Kisah Moh. Ya’qub Efendi sebagai pengingat bagi kita semua: bahwa pendidikan memerlukan lebih dari sekadar kurikulum; ia memerlukan cinta, keberanian, dan pengorbanan tanpa pamrih.

Dari pesisir Labuhan, kita belajar bahwa harta bisa habis, namun ilmu dan bangunan yang didirikan dengan keikhlasan akan menjadi cahaya yang tak pernah padam.

Penulis Ma’in Editor Lim

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Jurnalis Muda Masela Menimba Ilmu di Milad Satu Dekade PWMU.CO

Read next
0
Share