Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Jalan Pengabdian Lewat Ortom Muhammadiyah

*) Oleh : Moch. Muzaki ( Guru & Aktivis Muhammadiyah)

MuhammadiyahLamongan.com -Menjadi bagian dari Organisasi Otonom Muhammadiyah (Ortom) bukan sekadar aktivitas struktural atau rutinitas kegiatan, melainkan sebuah jalan pengabdian. Jalan ini menuntut kesadaran, keikhlasan, serta komitmen yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan.

Dalam perspektif ilmu organisasi, seseorang yang masuk ke dalam organisasi sejatinya sedang memasuki sebuah sistem nilai, budaya, serta tujuan kolektif yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ortom Muhammadiyah hadir sebagai wadah kaderisasi dan dakwah, yang tidak hanya membentuk kemampuan teknis, tetapi juga membangun karakter ideologis. Dalam teori organisasi modern, hal ini dikenal sebagai value-based organization, yaitu organisasi yang bergerak berdasarkan nilai, bukan sekadar target pragmatis.

Maka ketika seseorang menjadikan Ortom sebagai wadah ibadah dan dakwah, ia sedang menempatkan orientasi spiritual sebagai fondasi gerak organisasi.

Niat menjadi kunci utama. Dalam konsep manajemen diri (self-management), niat adalah sumber motivasi intrinsik yang menentukan keberlanjutan kinerja seseorang.

Ketika niat hanya karena Allah, maka aktivitas organisasi tidak akan mudah goyah oleh kepentingan sesaat, konflik internal, atau bahkan keterbatasan fasilitas. Inilah yang membedakan antara aktivis ideologis dan aktivis pragmatis.

Loyalitas terhadap organisasi juga bukan sekadar kesetiaan tanpa arah, tetapi sebuah bentuk komitmen rasional dan emosional. Dalam teori komitmen organisasi (organizational commitment), loyalitas terbagi menjadi tiga:

  1. Affective commitment (ikatan emosional),
  2. Continuance commitment (kesadaran akan keberlanjutan),
  3. Normative commitment (rasa tanggung jawab moral).

Seorang kader Ortom idealnya memiliki ketiganya. Ia mencintai organisasi, memahami pentingnya keberlanjutan organisasi, dan merasa berkewajiban menjaga marwahnya.

Menjaga organisasi dan mengindahkan aturan adalah bagian dari disiplin organisasi. Dalam ilmu manajemen, ini disebut sebagai organizational governance, yaitu tata kelola yang memastikan organisasi berjalan sesuai sistem. Tanpa kepatuhan terhadap aturan, organisasi akan kehilangan arah dan mudah terpecah.

Lebih jauh, menjaga marwah organisasi berarti menjaga reputasi, nilai, dan kehormatan organisasi. Ini selaras dengan teori organizational identity, di mana setiap anggota menjadi representasi dari organisasi itu sendiri. Apa yang dilakukan anggota, itulah wajah organisasi di mata publik.

Namun organisasi tidak boleh stagnan. Ia harus terus berkembang. Di sinilah pentingnya inovasi dan pengembangan organisasi (organizational development). Setiap kader dituntut untuk tidak hanya menjaga, tetapi juga mengembangkan organisasi, baik melalui program, gagasan, maupun gerakan nyata.

Perkaderan menjadi jantung organisasi. Tanpa kaderisasi yang serius, organisasi hanya akan menjadi kumpulan orang tanpa arah masa depan. Dalam perspektif manajemen SDM (human resource management), kaderisasi adalah proses regenerasi yang memastikan keberlangsungan kepemimpinan dan nilai-nilai organisasi.

Karena itu, seorang kader harus menjauhi kepentingan pribadi dan sikap pragmatis. Organisasi bukan alat untuk mencari keuntungan sesaat, tetapi tempat untuk berproses dan berjuang. Idealisme menjadi penting di sini. Idealisme adalah kompas yang menjaga agar perjuangan tetap berada di jalur yang benar.

“Hidup-hidupilah organisasi” bukan sekadar slogan, tetapi prinsip bahwa organisasi harus diberi energi, waktu, pikiran, dan kontribusi nyata. Organisasi tidak akan hidup tanpa orang-orang yang menghidupkannya.

Dan kehidupan organisasi akan terlihat dari budaya yang dibangun di dalamnya. Budaya positif, seperti disiplin, kolaborasi, saling menghargai, dan semangat belajar akan melahirkan organisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, nilai “Kober, Seger, Pinter, Bener” bukan hanya jargon, tetapi refleksi karakter kader Muhammadiyah.

Maka jalan pengabdian ini bukan jalan yang instan. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keikhlasan. Namun dari jalan inilah lahir kader-kader yang tidak hanya mampu memimpin organisasi, tetapi juga mampu membangun peradaban.

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Marak Curanmor di Lamongan,PCPM Turi Usulkan Desa Pasang Kamera CCTV

Next Post

Silaturahmi Trofeo Futsal Antar OKP Islam Perkuat Ukhuwah di Kecamatan Deket

Read next

Alo-alon Waton Kelakon

MuhammadiyahLamongan.com -Dunia bergerak begitu cepat. Persaingan hidup begitu ketat. Berbagai masalah datang…
0
Share