Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Di Atas Lantai Tanah, Cahaya Itu Berlabuh

Di tepian Laut Jawa
Angin membawa asin garam dan aroma khasnya
Laki-laki berpunggung karang menantang ombak samudera
Namun hati mereka gundah, menatap mendung di jiwa putra-putri Desa.

Para tokoh Labuhan menatap perempatan jalan dengan mata berkaca,
Di sana, Sekolah Rakyat riuh, tapi Tuhan seolah tak menyapa.
Anak-anak pandai mengeja angka, namun asing pada ayat-ayat-Nya,
Masih sujud pada pohon tua, terbelenggu hitungan hari yang buta.

Sampai kapan? tanya nurani yang lara.
Di ruang tamu itu, empat tekad menyatu menjadi baja.
Nurhasyim, Zuhri, Sarkun, dan Abdul Hamid melingkar dalam asa,
Bukan harta yang mereka tuju, tapi iman yang tak boleh mati sia-sia.

Langkah-langkah lelah menyusuri Jalan Tikung,
Menghampiri Joglo tua milik Ibu Ngat yang termenung.
Rumah lapuk beralaskan tanah, saksi bisu kemiskinan yang mengepung,
Namun di sana, mimpi besar mulai melambung tinggi menembus gunung.

Tahun lima puluh tiga, sejarah ditulis dengan tetesan keringat,
Uang iuran dari saku-saku sederhana dikumpul dengan hikmat.
Tak ada semen, tak ada ubin mewah yang mengkilap,
Hanya tanah saksi sujud, tempat malaikat turun mendekat.

Pukul satu siang, ketika mentari membakar pesisir,
Suara Alif, Ba, Ta mulai mengalir bagai air.
Mengalahkan suara ombak, mengusir kabut klenik yang mampir,
Mengganti asap kemenyan dengan doa-doa yang berdesir.

Kini, Madrasah Islamiyah berdiri sebagai bahtera,
Membawa anak cucu Labuhan melintasi samudera dunia.
Meski kaki mereka masih berlumur tanah dan debu bersahaja,
Jiwa mereka telah merdeka, berlabuh di dermaga ridha Sang Pencipta.

Penulis: Ma’in

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

H-5 Joko Tingkir Literacy Camp 2026, Panitia HW UMLA Tuntaskan Persiapan di Tengah UTS

Read next

Ibu Persyarikatan

Oleh: Moch. Muzaki   Perempuan berkemajuan menjadi tonggak impian Tanggung jawab suci mencerahkan…
0
Share