Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Menguatkan Partisipasi Semesta: Meneguhkan Pendidikan Unggul Berkemajuan di Bumi Lamongan

MuhammadiyahLamongan.com- Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu di dalam kelas, melainkan sebuah gerakan pembebasan dan pencerahan. Di Indonesia, akar pendidikan modern tak bisa dilepaskan dari dua raksasa pemikiran: K.H. Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara. Meski bergerak dari latar belakang berbeda, keduanya bertemu pada satu titik muara: memanusiakan manusia Indonesia melalui pendidikan yang bermutu dan inklusif.

Akar Perjuangan: Modernisme dan Kemerdekaan

K.H. Ahmad melakukan revolusi dengan mendobrak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Beliau mengajarkan bahwa menjadi Muslim yang baik berarti juga harus menguasai ilmu pengetahuan modern. Pesan ikoniknya, “Dadio kiai sing kemajuan lan dadio intelektual sing ngerti agama,” kini menjadi ruh pendidikan holistik.

Di sisi lain, Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya menekankan pada kemerdekaan batin dan budaya bangsa. Sinergi nilai ini—intelektualitas-religius dari Dahlan dan humanisme-kebangsaan dari Dewantara—menjadi fondasi kokoh bagi sistem pendidikan nasional kita hari ini.

Partisipasi Semesta: Perwujudan Hardiknas

Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, “Menguatkan partisipasi semesta, mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua”, merupakan panggilan bagi seluruh elemen bangsa. Partisipasi semesta berarti pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi seluruh “semesta” pemangku kepentingan. Inilah esensi dari gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri—sebuah partisipasi masyarakat (civil society) yang mandiri dan berdaya dalam mencerdaskan bangsa.

Visi Muhammadiyah: Holistik dan Berdaya Saing

Dalam menjawab tantangan zaman, Muhammadiyah telah menetapkan arah yang jelas. Visi pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah berfokus pada pengembangan yang holistik-integratif. Artinya, peserta didik tidak hanya diasah otaknya dengan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga jiwanya dengan karakter Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Ini sejalan dengan visi Majelis Dikdasmen untuk “Meneguhkan Pendidikan Unggul Berkemajuan”. Unggul bukan sekadar menang dalam kompetisi nilai, tetapi unggul dalam tata kelola (good governance), unggul dalam inovasi, dan berkeunggulan dalam akhlak mulia. Pendidikan Muhammadiyah berusaha melahirkan generasi yang kakinya berpijak kuat pada nilai spiritual, namun kepalanya mampu menggapai cakrawala global.

Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua

Menghubungkan nilai perjuangan masa lalu dengan visi masa depan, kita melihat satu benang merah: keadilan akses. Pendidikan bermutu tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Dengan tata kelola yang baik dan semangat kolektif, visi “pendidikan bermutu untuk semua” dapat terwujud jika mampu mengintegrasikan: 1) Kekuatan Spiritual: Sebagai kompas moral dalam berinovasi, 2) Kemajuan Teknologi: Sebagai alat untuk bersaing di tingkat global, dan 3) Kemandirian Organisasi: Sebagai mesin penggerak partisipasi semesta.

Kekuatan Basis Pendidikan di “Bumi Sego Boran”

Implementasi nyata dari “Partisipasi Semesta” ini terlihat jelas di Kabupaten Lamongan. Sebagai salah satu basis terkuat di Jawa Timur, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan melalui Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) menjadi motor penggerak pendidikan dengan jumlah satuan pendidikan yang luar biasa.

Muhammad Said, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Majelis Dikdasmen PNF PDM Lamongan, menegaskan bahwa kekuatan ini bertumpu pada keberagaman jenjang yang dikelola secara profesional. Tercatat, terdapat 213 satuan pendidikan Muhamadiyah yang menjadi ujung tombak mencerdaskan bangsa di Lamongan.Sebaran institusi tersebut meliputi 105 MI dan 15 SD sebagai fondasi awal karakter. Pada jenjang menengah, Muhammadiyah Lamongan mengelola 29 SMP, 29 MTs, 11 SMA, serta 11 MA. Sektor pendidikan kejuruan pun diperkuat oleh 13 SMK yang fokus mencetak lulusan terampil dan siap bersaing di dunia industri.

Untuk mewujudkan pendidikan holistik-integratif yang berdaya saing namun tetap berakar pada nilai Al-Islam, berikut adalah beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan di tingkat satuan pendidikan:
1. Integrasi Kurikulum: Menghapus Sekat Agama dan Sains
Langkah konkretnya adalah dengan tidak memisahkan pelajaran agama dan umum secara kaku.
Contoh: Dalam pelajaran Biologi tentang reproduksi, guru juga membedah ayat-ayat Al-Qur’an terkait proses penciptaan manusia. Sebaliknya, di pelajaran Al-Islam, siswa diajak melakukan eksperimen sains sebagai bentuk tadabur alam. Ini menciptakan pola pikir bahwa ilmu itu satu (wahdatul ‘ulum).

2. Living Values: Al-Ma’un dalam Praktik (Social Project)
Meneladani K.H. Ahmad Dahlan bukan hanya menghafal surat Al-Ma’un, tapi mempraktikkannya.
Strategi: Sekolah mewajibkan “Proyek Sosial” di mana siswa mengidentifikasi masalah di lingkungan sekitar (kemiskinan atau sampah) dan mencari solusinya. Ini membangun kecerdasan sosial sekaligus spiritual secara bersamaan (holistik).

3. Ekosistem Digital dan Tata Kelola Transparan
Visi “Berdaya Saing” memerlukan infrastruktur modern.Strategi: Penerapan sistem manajemen sekolah berbasis digital (Sistem Informasi Sekolah) untuk absensi, nilai, hingga keuangan yang bisa diakses orang tua. Tata kelola yang baik (good governance) akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu sekolah.

4. Rebranding Peran Guru: Pamong dan Teladan
Mengadopsi filosofi Ki Hajar Dewantara, guru bukan lagi sekadar instruktur, tapi penggerak.
Strategi: Pengembangan kompetensi guru secara rutin, tidak hanya soal pedagogi, tapi juga pendalaman ideologi Kemuhammadiyahan. Guru harus menjadi sosok yang “berkemajuan”—melek teknologi namun memiliki integritas moral yang tinggi.

5. Pembinaan Bakat Berbasis Portofolio
Pendidikan untuk semua berarti menghargai setiap potensi unik anak.
Strategi: Sekolah menyediakan ruang eksplorasi bakat (seni, olahraga, robotik) yang terdokumentasi dalam portofolio digital. Jadi, keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari angka di rapor, tapi dari karya nyata yang mereka hasilkan.

Dengan strategi ini, sekolah Muhammadiyah tidak hanya menjadi lembaga pendidikan formal, tetapi menjadi “Laboratorium Peradaban” yang melahirkan generasi unggul berkemajuan

K.H. Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara telah meletakkan batu pertama. Kini, tugas kita adalah memastikan bangunan pendidikan tersebut tetap kokoh, inklusif, dan relevan. Dengan semangat “Pendidikan Unggul Berkemajuan”, kita tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi mewujudkan manusia seutuhnya yang siap menghamba pada Tuhan dan bermanfaat bagi semesta alam

Penulis: M. Said, Editor: Ma’in

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Implementasi Unit Cost System dari INA-CBGs ke INA-DRGs: Jembatan Efisiensi, Transparansi, dan Jaminan Mutu Rumah Sakit

Read next
0
Share