Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Asrondi Berpulang, Jejak Pengabdian Sang Guru Tetap Hidup di Hati Banyak Generasi

MuhammadiyahLamongan.com – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Muhammadiyah Brondong. Asrondi, M.Pd.I., seorang pendidik, dai, sekaligus tokoh masyarakat yang dikenal luas karena dedikasi dan ketulusannya, wafat pada Kamis (18/6/2026) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, murid, rekan sejawat, dan masyarakat yang selama ini merasakan manfaat dari pengabdiannya. Bagi banyak orang, Asrondi bukan sekadar guru atau pemimpin, melainkan sosok yang hadir sebagai orang tua, sahabat, sekaligus tempat meminta nasihat.

Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai pribadi yang sabar, rendah hati, dan meneduhkan. Dalam setiap peran yang dijalankannya, ia selalu mengutamakan kepentingan umat dan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Dedikasinya di bidang pendidikan telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia mengabdikan diri sebagai guru di MI Muhammadiyah 06 Brondong, MTs Muhammadiyah 25 Brondong, dan SMK Muhammadiyah 2 Brondong. Selain itu, ia aktif mengajar Al-Qur’an di berbagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah di masjid dan majelis taklim, menjabat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Geneng, serta dipercaya masyarakat sebagai Ketua RW di lingkungan tempat tinggalnya.

Hana Maisi Putri, salah seorang anggota keluarga, mengaku sangat kehilangan sosok yang selama ini memiliki peran besar dalam kehidupannya. “Pak Rondi sudah seperti orang tua kedua bagi saya. Padahal saya bukan anak kandung dari saudara beliau, melainkan cucu dari keponakan yang beliau angkat. Namun, kasih sayang beliau kepada saya dan mama begitu besar. Bahkan, jika bukan karena bantuan beliau, mungkin saya tidak dapat melanjutkan sekolah saat SMP karena keterbatasan ekonomi. Beliau adalah pahlawan dalam hidup saya dan memiliki jasa yang sangat besar bagi masa depan saya. Saya merasa sangat kehilangan sosok yang selalu hadir dengan kasih sayang dan kepedulian tanpa batas,” ungkap Hana dengan mata berkaca-kaca.

Kesaksian serupa disampaikan Wafiq, A.Md., yang pernah menjadi murid sekaligus rekan mengajar almarhum di MI Muhammadiyah 06 Brondong. “Beliau adalah sosok bapak, guru, saudara, pemimpin, sekaligus motivator bagi banyak orang di sekitarnya. Pribadi yang santun, penyayang, dan penuh kasih kepada sesama. Dari diri beliau selalu terpancar ketulusan, kejujuran, serta keikhlasan dalam berbuat tanpa pamrih. Beliau merupakan teladan sejati. Sebagai seorang pendakwah, beliau tidak pernah mengenal lelah. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan hartanya dicurahkan untuk perjuangan dakwah dan kemaslahatan umat. Kesederhanaan beliau juga menjadi pelajaran berharga bagi kami,” tuturnya.

Sementara itu, Ika Rikma Ratri, murid sekaligus tetangga almarhum, mengenang Asrondi sebagai guru yang penuh ketenangan dan kelembutan. “Saya pernah menjadi murid beliau saat di MTs Muhammadiyah 25 Brondong. Beliau adalah pribadi yang sangat tenang dan meneduhkan. Dalam mengajar maupun berinteraksi dengan orang lain, beliau selalu menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Saya hampir tidak pernah melihat beliau marah. Beliau mendidik dengan kelembutan dan keteladanan sehingga murid-murid merasa nyaman dan hormat kepada beliau. Sosok seperti beliau sangat sulit ditemukan,” kenangnya.

Kenangan serupa juga disampaikan Melinda Rahmayanti yang menjadi murid almarhum sejak di MI Muhammadiyah 06 Brondong, MTs Muhammadiyah 25 Brondong, hingga SMK Muhammadiyah 2 Brondong. “Saya mengenal beliau sejak MI hingga SMK. Bagi saya, beliau adalah guru tersabar yang pernah saya temui. Beliau sangat baik hati, lemah lembut kepada murid, dan selalu ramah kepada siapa pun. Pak Asrondi adalah orang baik, dan begitu banyak orang yang dapat menjadi saksi atas kebaikan beliau, termasuk saya. Kami semua merasa kehilangan atas wafatnya beliau. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan menganugerahkan husnul khatimah,” ujarnya.

Ratusan jamaah memadati Masjid Al-Maghfur Geneng untuk menyalatkan jenazah almarhum pada Jumat (19/6/2026). Kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan—mulai dari keluarga, sahabat, murid, rekan guru, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar—menjadi bukti besarnya cinta dan penghormatan kepada sosok yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan pelayanan masyarakat.

Usai disalatkan, jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Geneng. Isak tangis keluarga dan para pelayat mengiringi prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat.

Wafatnya Asrondi merupakan kehilangan besar bagi dunia pendidikan, dakwah, dan masyarakat Brondong. Namun, jejak pengabdian yang telah ditorehkannya akan terus hidup melalui ilmu yang diajarkan, dakwah yang disampaikan, serta keteladanan yang diwariskan kepada generasi-generasi yang pernah disentuh oleh kebaikannya.

Selamat jalan, Pak Rondi. Pengabdianmu mungkin telah berakhir di dunia, tetapi jejak kebaikanmu akan terus hidup dalam ingatan dan doa banyak orang. (*)

Penulis : Agus Arif Priyanto | Editor : Fathan Faris Saputro

6
Share this article
Shareable URL
Prev Post

PR IPM MadtsaMutu Pondok Modern Paciran Sukses Gelar Pelatihan Mekanisme Kerja Pimpinan

Next Post

Air Mata Bahagia di Aula Abdurrahman Syamsuri: Saat Kurikulum Cinta Mewujudkan Mimpi Generasi Qur’ani MIM 16 Karangasem

Read next
0
Share