Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Anak Tak Cukup Disuruh Mendengar, Uncle Syame: Orang Tua Juga Harus Mau Mendengarkan

MuhammadiyahLamongan.com – Pentingnya komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak menjadi perhatian utama dalam Seminar Parenting bertema ”Menjadi Orang Tua yang Bisa Didengar dan Mau Mendengarkan Anak”, Ahad (12/7/2026). Orang tua diajak tidak hanya pandai berbicara dan memberi nasihat, tetapi juga menyediakan ruang untuk mendengar suara anak.

Seminar yang dimulai pukul 08.00 WIB itu menghadirkan Uncle Syame, M.Psi., NLPN., C.HT., CRM., CI., motivator nasional sekaligus Direktur Makna Konseling, sebagai narasumber utama.

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sugio, Drs. H. Kasrip B., M.M. Ia menegaskan, keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Karena itu, orang tua memegang tanggung jawab besar dalam membentuk karakter, akhlak, dan kebiasaan baik sejak dini.

Seminar kemudian dibuka secara resmi. Kegiatan ini diharapkan menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat keluarga sebagai lingkungan pendidikan utama sekaligus membangun hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.

”Anak yang berbakti kepada orang tua tidak lahir begitu saja, tetapi tumbuh dari proses pendidikan dan keteladanan yang diberikan orang tuanya,” ujar Uncle Syame.

Menurut dia, menjadi orang tua bukan hanya tentang menuntut anak untuk mendengar. Orang tua juga perlu memiliki kesediaan untuk mendengarkan perasaan, pendapat, dan kebutuhan anak. Komunikasi dua arah menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kedekatan emosional di dalam keluarga.

Menimbang Kata Sebelum Bicara

Mengutip pemikiran Jalaluddin Rumi, Uncle Syame memperkenalkan konsep BBM dalam berkomunikasi. Setiap perkataan yang disampaikan kepada anak hendaknya melewati tiga pertimbangan, yakni benar atau perlu, baik, dan bermanfaat.

Dengan prinsip tersebut, ucapan orang tua diharapkan menjadi sarana pendidikan, bukan sekadar tempat meluapkan emosi.

Lebih lanjut, Uncle Syame menjelaskan empat konsep utama dalam membangun komunikasi efektif bersama anak. Orang tua perlu hadir sepenuhnya ketika berinteraksi, mengamati dengan empati, memberikan tanggapan secara tepat, serta menghadirkan inspirasi dan dukungan dalam setiap proses tumbuh kembang anak.

Peserta juga diperkenalkan dengan peta jalan komunikasi yang disingkat PIA. Konsep tersebut meliputi pembukaan yang baik, intonasi yang tepat, artikulasi yang jelas, gestur yang mendukung, serta ekspresi yang sesuai.

Menurut Uncle Syame, cara sebuah pesan disampaikan kerap kali menentukan bagaimana pesan tersebut diterima oleh anak. Kalimat yang baik dapat kehilangan makna apabila disampaikan dengan nada dan ekspresi yang tidak tepat.

Belajar dari Sebatang Pensil

Menjelang akhir sesi, Uncle Syame menyampaikan ilustrasi bertajuk ”Pesan Pembuat Pensil kepada Pensil Buatannya”. Dalam kisah itu, sang pembuat pensil berpesan bahwa setiap kesalahan dapat diperbaiki. Namun, kesalahan yang sama hendaknya tidak terus-menerus diulang.

Ilustrasi sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri. Dalam proses itu, anak membutuhkan pendampingan yang dilandasi kasih sayang dan bimbingan yang tepat.

Melalui seminar ini, para orang tua diharapkan semakin memahami pentingnya membangun komunikasi yang hangat, empatik, dan saling mendengarkan. Dengan demikian, keluarga dapat benar-benar menjadi madrasah pertama yang melahirkan generasi berakhlak mulia serta berbakti kepada orang tua, agama, dan masyarakat. (*)

Penulis : Novita Dwi Nur Hidayah | Editor : Fathan Faris Saputro

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Usai Berguru kepada Staf Ahli Kemendikdasmen, Guru MI MULA Gas Rapat di HOTA

Next Post

Pola Asuh Zaman Dulu Tak Lagi Cukup, Ketua PCA Sugio Ingatkan Orang Tua Hadapi Era Digital

Read next
0
Share