MuhammadiyahLamongan.com – Sekitar 70 murid SMP Muhammadiyah 22 Mantup mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana melalui materi dan simulasi pertolongan pertama gawat darurat (PPGD) yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Disaster and Emergency (UMDC) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Perkemahan Jumat, Sabtu, dan Minggu (Perjusami) Hizbul Wathan (HW). Melalui pelatihan tersebut, para murid tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoretis, tetapi juga mempraktikkan keterampilan dasar menangani korban dalam situasi darurat.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan triase, lifting and moving atau teknik mengangkat dan memindahkan korban, bantuan hidup dasar (BHD), teknik membalut luka, membidai dugaan cedera, hingga resusitasi jantung paru (RJP).
Penyampaian materi dikemas secara interaktif agar murid lebih mudah memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat. Dalam simulasi, mereka diajak mengenali situasi, menentukan prioritas pertolongan, dan mempraktikkan teknik dasar sesuai arahan relawan UMDC.
Pada sesi triase, para murid diperkenalkan pada cara memilah korban berdasarkan tingkat kegawatan untuk menentukan prioritas penanganan. Sementara itu, materi lifting and moving menekankan pentingnya teknik pemindahan korban yang benar guna mengurangi risiko cedera tambahan.
Adapun materi bantuan hidup dasar mengenalkan tindakan awal yang dapat dilakukan ketika seseorang mengalami kondisi yang mengancam nyawa. Praktik membalut luka dan membidai turut menjadi bagian pembelajaran agar murid memahami bentuk pertolongan awal sebelum korban mendapatkan penanganan tenaga medis.
Belajar Membidai dengan Kayu dan Ranting
Salah satu sesi yang menarik perhatian murid adalah praktik membidai dengan memanfaatkan kayu dan ranting pohon di sekitar lokasi perkemahan sebagai bidai sederhana.
Relawan UMDC menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter kegiatan Hizbul Wathan yang dekat dengan alam. Murid diajak mencari bahan di sekitar lokasi, kemudian menggunakannya sebagai alat bantu pertolongan pertama secara aman dan tepat.
Melalui praktik tersebut, mereka belajar bahwa dalam kondisi darurat di alam terbuka, benda-benda di sekitar dapat dimanfaatkan sebagai sarana pertolongan pertama selama penggunaannya tidak membahayakan korban.
Pendekatan itu membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual. Murid tidak sekadar mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat langsung mencari bahan dan mempraktikkan teknik pertolongan. Selain mengasah keterampilan dasar, kegiatan ini turut menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Salah seorang anggota UMDC, Ftih Zaki, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi murid untuk belajar langsung mengenai kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memiliki keberanian dan pengetahuan dasar untuk bertindak dengan tepat ketika menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan perlu dilatih sejak dini agar mereka tidak panik dan mampu memahami langkah pertolongan yang aman sesuai kemampuan,” ujarnya.
Tongkat Hizbul Wathan Disulap Menjadi Tandu Darurat
Hal lain yang menarik dalam simulasi ini ialah pemanfaatan tongkat Hizbul Wathan dan tali sebagai tandu darurat. Untuk mendukung praktik pemindahan korban, relawan UMDC berkolaborasi dengan panitia Perjusami dalam merakit tandu sederhana dari perlengkapan yang tersedia di lokasi.
Pemanfaatan sarana tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai kreativitas dalam menghadapi kondisi darurat. Tandu darurat dapat menjadi alternatif alat evakuasi apabila digunakan dengan teknik yang tepat dan tetap mengutamakan keselamatan korban.
Keterlibatan panitia juga menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab tim khusus, melainkan membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Dalam keadaan darurat, koordinasi, komunikasi, dan pemahaman terhadap prosedur keselamatan menjadi unsur penting dalam mendukung proses pertolongan.
Melalui kegiatan ini, UMDC UMLA berupaya mengenalkan pengetahuan kebencanaan dan keterampilan pertolongan pertama melalui pendekatan yang aplikatif. Pengalaman belajar secara langsung diharapkan membantu murid memahami bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui teori, tetapi juga perlu dibarengi latihan serta pemahaman mengenai batas kemampuan saat memberikan pertolongan.
Kegiatan yang terintegrasi dengan Perjusami Hizbul Wathan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kepedulian, kedisiplinan, dan semangat saling membantu. Dengan demikian, pendidikan kesiapsiagaan dapat ditanamkan sejak usia sekolah sebagai bekal menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar. (*)
Penulis : Nova Aquila Salsabila Cahyono | Editor : Fathan Faris Saputro