Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Juz 30 Menggema di Pelataran Masjid Jogokariyan, Murid SD Musaka Ikuti Murajaah Akbar

MuhammadiyahLamongan.com – Pelataran Masjid Jogokariyan di Kota Yogyakarta dipenuhi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an pada Rabu (16/9/2026) pagi. Murid kelas V dan VI SD Muhammadiyah 1 Karanggeneng (SD Musaka) bersama pendamping melaksanakan murajaah akbar sebagai bagian dari kegiatan Pembelajaran Kontekstual bertajuk Rihlah Kemuhammadiyahan: Napak Tilas Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa–Kamis (15–17/9/2026) tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar di luar ruang kelas. Melalui kunjungan ke sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah dan keteladanan, murid diajak mengenal perjalanan Muhammadiyah sekaligus belajar dari pengalaman secara langsung.

Masjid Jogokariyan menjadi salah satu tujuan pertama dalam rangkaian perjalanan tersebut. Sebelum mengikuti agenda rihlah, murid diajak membangun kebiasaan ibadah, menjaga kebersihan diri, dan mendekatkan diri dengan Al-Qur’an.

Pada Rabu pagi, peserta memulai kegiatan dengan bersih diri dan salat Subuh berjamaah. Seusai salat, seluruh peserta berkumpul di pelataran masjid untuk mengikuti murajaah bersama.

Suasana pagi itu berlangsung khidmat. Juz 30 dilantunkan secara bersama-sama oleh seluruh peserta. Ayat demi ayat terdengar memenuhi pelataran masjid. Para murid mengikuti kegiatan dengan antusias sebagai bagian dari upaya menjaga hafalan Al-Qur’an meskipun tengah berada jauh dari lingkungan sekolah.

Bagi SD Musaka, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda ibadah dalam perjalanan. Murajaah menjadi bagian dari pembelajaran bahwa aktivitas menuntut ilmu dan mengenal sejarah perjuangan tetap perlu disertai dengan kebiasaan baik yang telah dibangun dalam keseharian.

Kepala SD Musaka Ardiansyah Romadhana mengatakan murajaah pagi menjadi bagian penting dalam rangkaian Rihlah Kemuhammadiyahan. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menjaga hafalan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan karakter dan kedisiplinan kepada murid.

“Murajaah pagi di Masjid Jogokariyan menjadi pengingat bahwa di mana pun anak-anak berada, Al-Qur’an harus tetap menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kami ingin perjalanan ini tidak hanya memperkaya wawasan tentang sejarah Muhammadiyah, tetapi juga semakin menguatkan kecintaan anak-anak kepada Al-Qur’an, membangun kemandirian, dan menumbuhkan akhlak mulia,” ujar Ardiansyah.

Murajaah bersama menjadi salah satu momen yang berkesan dalam perjalanan Rihlah Kemuhammadiyahan SD Musaka. Di Yogyakarta yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah Muhammadiyah, murid tidak hanya diajak mengenal sejarah melalui cerita dan tempat, tetapi juga menghayati nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan keteladanan. Dari masjid, murid belajar tentang ibadah dan kebersamaan. Dari perjalanan, mereka belajar kemandirian. Sementara dari jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, mereka diajak mengenal nilai keberanian, ketekunan, keikhlasan, dan semangat menghadirkan pendidikan yang mencerahkan.

Dengan demikian, rihlah tidak berhenti pada perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Setiap tempat yang dikunjungi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang diharapkan meninggalkan pengalaman dan nilai bagi murid.

Dari Karanggeneng menuju Yogyakarta, murid SD Musaka menapaki jejak sejarah sambil membawa kebiasaan yang telah mereka bangun di sekolah. Lantunan Juz 30 di pelataran Masjid Jogokariyan menjadi salah satu pengingat bahwa perjalanan mengenal sejarah juga dapat menjadi perjalanan untuk menumbuhkan kedekatan dengan Al-Qur’an. (*)

Penulis : Apriliana Rosidatul Islamiyah | Editor : Fathan Faris Saputro

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Why London’s Nightlife is a Moving Target

Next Post

Menjejak Karangkajen, Murid SD Musaka Belajar dari Makam K.H. Ahmad Dahlan

Read next
0
Share