MuhammadiyahLamongan.com- Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, adakah jaminan bahwa jika semua keinginan kita terpenuhi, maka kita akan menjadi manusia yang paling bahagia?
Jika jawabannya “ya”, mengapa masih banyak orang yang memiliki segalanya tetapi tetap merasa gelisah? Mengapa ada yang hidup berkecukupan, namun tidurnya tidak nyenyak? Mengapa ada yang telah meraih apa yang diimpikan sejak lama, tetapi hatinya masih merasa kosong?
Sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah buah dari terpenuhinya semua keinginan. Sebab keinginan manusia tidak pernah mengenal kata selesai. Hari ini menginginkan sesuatu, esok menginginkan yang lain. Setelah satu impian tercapai, muncul impian berikutnya yang lebih tinggi. Jika kebahagiaan digantungkan pada keinginan, maka hidup akan dipenuhi oleh rasa kurang dan tidak pernah benar-benar merasa cukup.
Karena itu, seorang mukmin diajarkan untuk lebih percaya kepada apa yang telah dijamin oleh Allah daripada sibuk mengejar segala sesuatu yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Allah Yang Maha Pengasih tidak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa jaminan. Bahkan sejak kita belum mampu berusaha, Allah telah menetapkan rezeki untuk setiap makhluk yang Dia ciptakan.
Allah Swt berfirman “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (QS. Hud: 6)
Betapa menenangkan ayat ini. Jika Allah telah menjamin rezeki kita, mengapa masih menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita? Bukankah apa yang telah Allah tetapkan untuk kita tidak akan pernah tertukar dengan orang lain? Dan bukankah apa yang bukan menjadi bagian kita, tidak akan pernah kita miliki meskipun dikejar siang dan malam?
Tugas kita bukan memaksa takdir agar sesuai dengan keinginan, tetapi menjalani kehidupan dengan ikhtiar yang terbaik, menikmati setiap pemberian Allah, lalu mensyukurinya dengan sepenuh hati.
Ada nikmat kesehatan yang masih kita rasakan, keluarga yang menemani, kesempatan untuk beribadah, udara yang kita hirup tanpa membayar. Begitu banyak karunia yang sering luput dari perhatian hanya karena mata kita terlalu sibuk melihat apa yang belum dimiliki.
Cobalah sesekali berhenti menghitung apa yang belum Allah berikan. Mulailah menghitung nikmat yang selama ini belum kita syukuri. Niscaya hati akan menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Sebab rasa syukur mampu menghadirkan kebahagiaan, sedangkan terlalu sibuk mengejar keinginan sering kali hanya melahirkan kegelisahan.
Maka, jangan biarkan hidup habis karena mengejar sesuatu yang belum tentu ditakdirkan menjadi milik kita. Percayalah kepada jaminan Allah, karena janji-Nya tidak pernah ingkar.
Nikmati setiap karunia yang telah ada di tangan kita, syukuri setiap nikmat yang masih menyertai langkah kita, dan teruslah berikhtiar dengan penuh tawakal.
Sebab hati yang paling bahagia bukanlah hati yang memiliki segalanya, melainkan hati yang yakin bahwa apa yang Allah pilihkan adalah yang terbaik, dan apa yang Allah cukupkan akan selalu membawa keberkahan.
Penulis: Fathurrahim Syuhadi, Editor: Main