MuhammadiyahLamongan.com – H. Alifin, SKM, M.Kes, Wakil Rektor 3 Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), memberikan opening speech pada Seminar Nasional yang diadakan oleh Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2019. Seminar ini berlangsung di Auditorium Budi Utomo Universitas Muhammadiyah Lamongan dengan tema “Tantangan Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka” pada Kamis (22/6/2023). Acara ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa PGSD UMLA serta diikuti oleh para guru dan mahasiswa dari luar universitas.
Dalam sambutannya, H. Alifin, SKM, M.Kes memulai dengan mengenang masa lalunya sebagai seorang guru. Setelah lulus dari pendidikan tingkat SMA, beliau pernah diberi amanah untuk mengajar di MI Muhammadiyah, SD Muhammadiyah, dan Madrasah Tsanawiyah. H. Alifin, SKM, M.Kes kemudian merujuk pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
“Dapat dikatakan bahwa laju perubahan kurikulum itu sangat lambat, apalagi dengan adanya peristiwa pandemi Covid-19 yang menyebabkan terjadinya learning lost atau ketertinggalan pembelajaran, khususnya di Indonesia. Sebagai respons, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan perubahan-perubahan, terutama di bidang kurikulum,” ujar H. Alifin.
Beliau menjelaskan bahwa perubahan kurikulum dapat dilihat dari sejarah perubahan yang telah terjadi. Pada tahun 2004, terdapat perubahan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi, kemudian diubah menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2016. Pada tahun 2013, terjadi perubahan dari KTSP menjadi K13 (Kurikulum 2013), dan saat ini muncul Kurikulum Merdeka. Menurut ketentuan Kemendikbud, Kurikulum Merdeka akan dilaksanakan pada tahun 2024.
Namun, H. Alifin juga memberikan informasi bahwa beberapa daerah telah melakukan uji coba implementasi Kurikulum Merdeka. Salah satunya adalah Kabupaten Lamongan, yang sejak dua tahun lalu telah melakukan uji coba Kurikulum Merdeka pada kelas 1 dan 4, dan pada tahun berikutnya akan diterapkan pada kelas 2 dan 5. Dengan demikian, pada tahun 2024, Kabupaten Lamongan sudah menggunakan Kurikulum Merdeka.
“Dalam konsep kurikulum, terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, kurikulum mengenai sejumlah mata pelajaran yang siswa harus kuasai, sehingga mereka dapat mencapai pembelajaran yang diinginkan. Kedua, kurikulum sebagai peralatan belajar, mengingat setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Ketiga, kurikulum sebagai program belajar dengan komponen-komponen seperti program kegiatan, tujuan, strategi, dan evaluasi,” jelas H. Alifin, SKM, M.Kes, dalam akhir sambutannya.
Seminar Nasional dengan tema “Tantangan Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka” ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman kepada para mahasiswa PGSD UMLA serta para guru dan mahasiswa dari luar universitas tentang perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia. Kurikulum Merdeka merupakan langkah inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Dalam kesempatan tersebut, H. Alifin, SKM, M.Kes juga mengungkapkan pentingnya peran guru dalam menghadapi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka. Guru diharapkan mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang menarik, inklusif, dan memperhatikan keunikan setiap peserta didik. Dalam era teknologi dan informasi yang semakin maju, guru juga perlu menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan baik.
Para peserta seminar akan mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan berbagai paparan dan presentasi terkait Kurikulum Merdeka dari narasumber yang kompeten dan berpengalaman di bidang pendidikan. Diharapkan melalui seminar ini, peserta dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam menghadapi tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Seminar Nasional PGSD UMLA ini merupakan salah satu upaya dari Universitas Muhammadiyah Lamongan dalam menghadirkan platform diskusi dan pertukaran ide yang bermanfaat bagi para calon guru. Dengan adanya seminar ini, diharapkan peserta dapat lebih siap dan terampil dalam menghadapi perubahan kurikulum yang terjadi dalam dunia pendidikan. (*)
Reporter Syafna Cahaya Arfina. Editor Fathan Faris Saputro.