MuhammadiyahLamongan.com – Peran guru Muhammadiyah tidak cukup hanya mengajar di dalam kelas, tetapi harus mampu menjadi murabbi yang membimbing, mendampingi, dan membentuk karakter peserta didik. Pesan tersebut disampaikan Ustaz Rifky Jafar Thalib dalam sesi kedua Workshop dan Rapat Koordinasi (Rakor) Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Kabupaten Lamongan
Acara ini diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PDM Lamongan di Hotel Royal Batu, Senin (6/7/2026).
Mengangkat tema “Guru sebagai Murabbi: Seni Mendidik Hati Generasi Z dan Generasi Alpha ala Rasulullah”, Ustaz Rifky mengajak para kepala sekolah untuk membangun budaya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter peserta didik.
Menurutnya, proses pendidikan Islam memiliki tiga tahapan utama, yaitu dakwah, taklim, dan tarbiyah. Dakwah merupakan pintu awal untuk mengajak dengan pendekatan yang luas, luwes, dan mampu merangkul berbagai karakter peserta didik.
Setelah itu, proses taklim berfungsi mentransfer ilmu dan pengetahuan. Namun, ia mengingatkan bahwa ilmu tanpa pembinaan karakter belum cukup untuk melahirkan generasi yang berkepribadian Islami.
Karena itu, tahapan tarbiyah menjadi fondasi penting. Tarbiyah merupakan proses pendidikan yang berlangsung secara berkesinambungan, sebagaimana diterapkan di lingkungan keluarga maupun pesantren. Melalui proses inilah akan lahir generasi yang tangguh, berakhlak, serta memiliki semangat perjuangan dan kaderisasi yang kuat.
“Guru Muhammadiyah harus menganggap murid seperti anak sendiri. Ketika hubungan itu terbangun, pendidikan tidak hanya menyentuh pikiran, tetapi juga hati,” ungkapnya.
Ustaz Rifky juga menekankan pentingnya memahami karakter Generasi Z dan Generasi Alpha. Menurutnya, dakwah kepada generasi muda membutuhkan pendekatan yang relevan dengan dunia mereka.Ia membagikan tiga prinsip dalam membangun kedekatan dengan anak muda.
- Pertama, pendidik tidak perlu gengsi mengikuti gaya komunikasi generasi muda selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
- Kedua, guru harus menjadi sosok yang mampu mendengarkan, sehingga peserta didik merasa nyaman menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
- Ketiga, materi pembinaan harus disesuaikan dengan isu-isu yang sedang menjadi perhatian generasi muda agar pesan dakwah lebih mudah diterima.
Ia menambahkan, saat ini ruang interaksi anak muda tidak lagi terbatas di sekolah atau masjid. Kedai kopi, lapangan olahraga, maupun ruang-ruang pergaulan lainnya dapat menjadi media dakwah apabila dimanfaatkan dengan pendekatan yang tepat.
Melalui materi tersebut, peserta workshop memperoleh perspektif baru bahwa keberhasilan sekolah Muhammadiyah tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberhasilannya melahirkan kader-kader Islam yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah di tengah perkembangan zaman.
Editor Adi Familu Editor Lim