*) Oleh : Muhammad Akhtar Zia Ul Haq
Ketua Umum PR IPM SMA Muhammadiyah 10 Sugio
MuhammadiyahLamongan.com – Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak pelajar dan mahasiswa merasa telah “tercukupi” oleh gawai. Layar ponsel seolah menjadi sumber utama pengetahuan, dari media sosial hingga mesin pencari. Namun, di balik limpahan informasi itu, tidak sedikit yang justru merasakan kekosongan pemahaman. Informasi datang cepat, tetapi tidak selalu memberi kedalaman.
Momentum Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April menjadi pengingat penting: buku tetap memiliki peran fundamental dalam membangun cara berpikir yang utuh dan kritis. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas bagaimana manusia memaknai pengetahuan di tengah perubahan zaman.
Penetapan tanggal 23 April oleh UNESCO bukan tanpa alasan. Tanggal ini bertepatan dengan wafatnya sejumlah tokoh besar dunia literasi pada tahun 1616, seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega. Karya-karya mereka tetap hidup lintas abad, menunjukkan bahwa tulisan memiliki daya tahan yang melampaui ruang dan waktu.
Di era digital, muncul anggapan bahwa kehadiran teknologi seperti mesin pencari dan kecerdasan buatan dapat menggantikan peran buku. Anggapan ini perlu disikapi secara kritis. Teknologi memang menyediakan akses cepat terhadap informasi, tetapi sering kali bersifat parsial dan terfragmentasi. Sementara itu, buku menyajikan gagasan secara runtut, mendalam, dan kontekstual.
Membaca buku juga melatih kemampuan fokus di tengah distraksi yang kian masif. Notifikasi yang terus-menerus muncul membuat banyak orang kesulitan berkonsentrasi dalam waktu lama. Dalam konteks ini, membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, tetapi juga proses melatih ketekunan berpikir.
Selain itu, buku membantu membangun nalar kritis. Di tengah maraknya hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi, kemampuan memahami argumen secara utuh menjadi sangat penting. Buku memberikan ruang bagi pembaca untuk mengikuti alur pemikiran penulis secara komprehensif, sehingga tidak mudah terjebak pada kesimpulan yang dangkal.
Lebih jauh, membaca buku merupakan investasi intelektual jangka panjang. Banyak tokoh dunia dikenal memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pengetahuan tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang konsisten.
Namun demikian, peringatan Hari Buku Sedunia juga menyoroti persoalan lain, yakni penghargaan terhadap hak cipta. Praktik pembajakan buku, baik dalam bentuk cetak maupun digital, masih menjadi tantangan. Kebiasaan mengakses karya secara ilegal pada akhirnya merugikan penulis dan menghambat lahirnya karya-karya berkualitas. Menghargai buku berarti juga menghargai proses intelektual di baliknya.
Dalam konteks ini, langkah kecil dapat menjadi awal perubahan. Membiasakan membaca selama beberapa menit setiap hari, menyumbangkan buku yang sudah tidak terpakai, serta mendukung karya penulis lokal merupakan bentuk kontribusi nyata dalam membangun budaya literasi.
Buku memang tidak sepopuler konten digital yang serba cepat dan viral. Namun, di situlah letak kekuatannya. Buku menawarkan kedalaman, ketenangan, dan ketajaman berpikir yang tidak mudah tergantikan.
Hari Buku Sedunia 2026 menjadi momentum untuk kembali menegaskan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak menggeser, melainkan melengkapi budaya membaca. Sebab, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang diakses, tetapi oleh seberapa dalam pengetahuan itu dipahami. (*)
Editor : Fathan Faris Saputro