MuhammadiyahLamongan.com –
Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) terus memperkuat perannya sebagai amal usaha dakwah dengan menggelar Pelatihan Mubaligh Karyawan. Acara berlangsung di auditorium rumah sakit. Kamis (23/4/2026)
Kegiatan ini mengusung tema “Dari Pelayan Kesehatan Menuju Mubaligh Berkemajuan: Dakwah, Etika, dan Teknologi untuk Karyawan RS Muhammadiyah” sebagai upaya membentuk karyawan yang tidak hanya profesional dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga mampu menjadi agen dakwah Islam.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman, di antaranya: Fathurrahim Syuhadi, M.Pd (Wakil Ketua PDM Lamongan), Suwito, M.Pd.I (Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan), Rodli, M.Pd (LDK PDM Lamongan)
Mereka membimbing peserta dalam memahami konsep dakwah hingga praktik aplikatif di lingkungan rumah sakit maupun masyarakat.
Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa rumah sakit Muhammadiyah bukan sekadar institusi layanan medis, melainkan juga medan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Namun, potensi dakwah tersebut dinilai belum optimal karena belum semua karyawan memiliki kompetensi tabligh yang memadai.
Menurut Instruktur sekaligus Ketua MPKSDI PDM Lamongan, Imam Ghozali, Metode pelatihan menggunakan pendekatan andragogi dengan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik.
“Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung berlatih melalui simulasi, role play, hingga micro teaching,” ujarnya.
Mengacu pada Sistem Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah (SPM) dari Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pelatihan ini dirancang untuk membekali karyawan dengan kemampuan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital
Pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan satu hari. Panitia menargetkan terbentuknya Korps Mubaligh Karyawan RS Muhammadiyah Lamongan sebagai wadah dakwah internal yang berkelanjutan.
Selain itu, peserta diwajibkan melakukan tindak lanjut berupa kegiatan dakwah di lingkungan tempat tinggal masing-masing serta aktif memproduksi konten dakwah digital.
Dengan bekal ideologi, keterampilan komunikasi, dan penguasaan teknologi, para peserta diharapkan menjadi mubaligh berkemajuan yang mampu menerangi lingkungan kerja sekaligus masyarakat luas. (*)