Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

+1 202 555 0180

Have a question, comment, or concern? Our dedicated team of experts is ready to hear and assist you. Reach us through our social media, phone, or live chat.

baharudin rohim

Mental “Tulalit” Generasi Bangsa Indonesia

baharudin rohimOleh : Baharuddin Rohim

Alumni Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Perintis dan Pengasuh Panti Asuhan Ashabul Kahfi Muhammadiyah Moyudan Sleman DIY

Pengajar Pondok Pesantren Fathul Qur’an Lamongan

Setiap manusia pastinya memiliki fitrah untuk dimanusiakan (memanusiakan manusia) di setiap kehidupan masyrakat baik dalam lingkup organisasi, instansi dan ruang lingkup lainnya. Hal ini sontak membuat manusia di dlam kehidupannya berpemahaman bahwa manusia butuh di akui keberadaannya, potensinya, dan apapun hal baik yang ada pada dirinya sehingga upaya capaiannya berorientasi pada nilai nilai dasar berfikir reaktif bukan lagi atas nilai nilai dasar berfikir reflektif (reflective thinking) . Manusia tersebut tercermin dalam diri generasi bangsa indonesia.

Fenomena yang hadir di tengah generasi bngsa indonesia saat ini sungguh sungguh mencengangkan akal, bagaimana tidak? Semua generasi bangsa ini di hambur hamburkan dengan pola hidup konsumtif yang cenderung mengarah pada mental mental “tulalit”, mental generasi yang bertindak tidak atas dasar ilmu bahkan pula cenderung bertindak atas dasar nilai kekinian (ikut-ikutan) mental hedonisme yang semakin tertancap dalam pada setiap generasi bangsa ini, satu contoh akhir akhir ini semua ummat manusia menyaksikan dengan khusuknya atas perilaku perilaku yang amat aneh dan miris, generasi bangsa ini disibukkan dengan eksistensi “om telolet om” yang jelas jelas esensi nyatanya menunjukkan kejumudan mental generasi bangsa yang semakin “tulalit” nyatanya bangsa ini secara massif di hujani dengan penindasan penindasan akal melalui alam bawah sadar dan nampaknya bangsa ini harus ibah se ibah ibahnya melihat generasi bangsa indonesia yang semakin hari semakin”tulalit”, menjadi tugas bersama untuk mewujudkan generasi reflektif, peka akan sosial kemasyarakatan, dan hal ini pada dasarnya tidak bisa jauh dari peran pendidikan di bangsa ini sebagai nilai guna karakter terdidik.

Tamparan keras khususny di dunia pendidikan yang notabene didalamnya di ajarkan nilai nilai kritis serta karakter kepribadian yang unggul dan pada akhirnya menghasilkan generasi bangsa yang mampu hidup bersosial, bermasyarakat dengan nilai nilai dsar kemuliaan, “pendidikan merupakan proses sosial dimana anggota masyarakat yang belum matang (terutama anak anak) di ajak ikut berpartisipasi dalam masyarakat, bertujuan memberikan kontribusi dalam perkembangan pribadi dan sosial seseorang melalui pengalamam dan pemecahan masalah yang berlangsung secara reflektif (reflective thinking).” pungkas John Dewey, berangkat dari ungkapan john dewey bahwa ketika generasi bangsa yang telah terdidik dan mereka tidak mampu berfikir reflektif maka sesungguhnya kepekaan sosial generasi bangsa telah terhenti dan mati, maka seyogyanya pendidikan harus berjalan berdampingan antara teori dan praktik yang mana anak dididik di sekolahan dengan teori dan anak di berikan ruang praktik di lapangan (masyarkat langsung), sehingga dari jauh jauh hari pendidikan sudah menyiapkan generasi yang peka sosial dan peka peradaban. Terlebih sebuah proses pendidikan akan di katakan berhasil ketika mampu menghasilkan peserta didik yang lebih matang dan peka terhadap kondisi zaman serta mampu menjadi kekuatan terbesar dalam regulasi peradaban, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda niscaya akan ku goncangkan dunia” Ujar Ir Soekarno, begitu besar kekuatan barisan pemuda terdidik (generasi) tentunya genrasi reflektif dan hal ini juga wajib menjadi fokus perhatian organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan yang ambil bagian dari regulasi kemajuan generasi bangsa karena generasi harus di arahkan dan perdayakan dalam ruang lingkup yg kongkret kemasyarakatan yang massif dan aktif, memberikan ruang kreatifitas yang tidak sekedar bersifat eventual eventual namun berpayung teduh dan bersystem.

Akhirnya menjadi tawaran solusi untuk siapapun pendidik, pemegang organisasi kepemudaan, pemegang barisan massa pemuda, tentukan arah taktis yang strategis untuk kemajuan generasi bangsa tentunya dengan menyiapkan generasi bangsa yang kritis dan aktif dalam kepekaan sosial, kepemahaman sejarah peradaban, bukan generasi bangsa yang hanya mengekor pada budaya budaya hedonisme karena baik buruknya suatu bangsa ada pada pundak generasi bangsa.

0
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Sekolah Kebebasan Ala Freedom Writers

Next Post

Bangun Islam Berkemajuan Melalui Gerakan Dakwah Komunitas Pemuda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read next
0
Share