Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Tujuh Guru MI Muhammadiyah Labuhan Antusias Ikuti Diklat Promosi Digital, Siap Kenalkan Madrasah ke Ruang Publik

MuhammadiyahLamongan.com – Semangat transformasi digital terus tumbuh di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Upaya itu terlihat dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) Promosi Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong di Lantai 1 Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Brondong, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan perwakilan sekolah dan madrasah Muhammadiyah dari jenjang SD/MI hingga SMA se-Kecamatan Brondong untuk meningkatkan kemampuan publikasi melalui berita daring dan pengelolaan konten digital. Hadir sebagai narasumber, Ali Efendi, M.Pd., dan Oki Pradana yang memberikan materi tentang teknik penulisan berita serta strategi promosi lembaga pendidikan di era digital.

Di antara puluhan peserta yang mengikuti pelatihan, MI Muhammadiyah 09 Labuhan (MI MULA) menjadi lembaga dengan jumlah delegasi terbanyak. Sebanyak tujuh guru dikirim untuk mengikuti kegiatan tersebut, yakni Manis Budiwati, S.Ag., Marmulik Hidayah, S.Pd., Novita Alfiatin, S.Pd., Etri Jayanti, S.Pd., Dwi Ika Novilia Rahayu, S.Pd., Sri Amiati, S.Pd., dan Ratih Octavia, S.Pd.

Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan MI MULA dalam memperkuat literasi digital sekaligus memperluas jangkauan informasi tentang berbagai program dan prestasi madrasah kepada masyarakat.

Bagi Manis Budiwati, pelatihan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan kemampuan menulis dan mempublikasikan kegiatan sekolah. Ia mengaku memperoleh banyak wawasan baru, terutama mengenai teknik penulisan berita yang baik dan benar.

“Diklat promosi ini sangat positif dan mendukung lembaga-lembaga Muhammadiyah, khususnya dalam program literasi dan publikasi sekolah. Apalagi materi yang disampaikan berbasis berita dan digital. Saya merasa sangat senang dan bersyukur bisa belajar bersama di sini,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, Manis juga aktif mengajukan pertanyaan kepada narasumber terkait unsur-unsur yang harus dipenuhi agar sebuah berita layak dipublikasikan dan mudah dipahami pembaca.

Hal senada disampaikan Etri Jayanti. Menurutnya, pelatihan tersebut membuka peluang bagi madrasah untuk memperkenalkan berbagai kegiatan positif yang selama ini hanya diketahui lingkungan internal sekolah.

“Diklat ini sangat membantu kami untuk mempromosikan branding serta kegiatan madrasah kepada masyarakat luas. Melalui berita dan media sosial, masyarakat dapat mengetahui berbagai program dan aktivitas positif yang kami lakukan di madrasah,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan dalam promosi lembaga pendidikan. Pertama, meningkatkan kemampuan menulis berita berbasis prinsip 5W+1H untuk mengangkat prestasi siswa, inovasi pembelajaran, serta program unggulan madrasah.

Kedua, mengoptimalkan pemanfaatan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok melalui konten visual yang menarik dan informatif agar masyarakat lebih dekat dengan aktivitas sekolah.

Ketiga, memperkuat identitas atau branding madrasah dengan menonjolkan program unggulan yang menjadi ciri khas lembaga, seperti tahfiz Al-Qur’an, pembinaan karakter, maupun prestasi akademik dan nonakademik.

Keempat, melibatkan guru, orang tua, dan alumni dalam gerakan berbagi konten positif melalui akun media sosial masing-masing sehingga jangkauan informasi semakin luas.

Kelima, mengelola situs web resmi madrasah secara aktif sebagai pusat informasi yang mudah diakses masyarakat dan menjadi sumber rujukan utama bagi calon peserta didik maupun orang tua.

Ketua panitia berharap diklat tersebut menjadi langkah awal lahirnya ekosistem publikasi digital yang kuat di lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah Brondong. Dengan kemampuan menulis dan mengelola media digital yang semakin baik, berbagai capaian serta kontribusi lembaga pendidikan Muhammadiyah dapat diketahui lebih luas oleh masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, para guru tidak hanya dituntut menjadi pendidik di ruang kelas, tetapi juga menjadi penyampai cerita-cerita baik yang lahir dari dunia pendidikan. Melalui tangan para guru yang terus belajar, berbagai prestasi dan nilai-nilai pendidikan Islam yang tumbuh di madrasah diharapkan semakin dikenal dan memberi inspirasi bagi masyarakat luas. (*)

Penulis : Marmulik Hidayah | Editor : Fathan Faris Saputro

1
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Diskusi Pada Talkshow Pendidikan Tekankan Kesejahteraan Pendidik dan Sekolah Muhammadiyah

Next Post

Muhammadiyah Brondong Latih Guru Menulis Berita dan Membuat Konten

Read next
0
Share