MuhammadiyahLamongan.com – Kisah legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang dihidupkan kembali melalui pertunjukan seni dalam pembukaan Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) 2026 Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Senin (31/8/2026).
Pertunjukan yang berlangsung di Dome UMLA itu merupakan hasil kolaborasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya UMLA dan Lamongan Art Society (LAS). Pementasan tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa. Sejumlah dosen UMLA juga turut mengambil bagian di atas panggung.
UKM Seni Budaya UMLA menggabungkan tiga divisi, yakni tari, teater, dan musik. Ketiganya menyatukan kreativitas untuk mengemas cerita rakyat tentang Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang menjadi sebuah pertunjukan yang memadukan gerak, akting, dan musik.
Persiapan pementasan berlangsung sekitar dua bulan. Selama masa tersebut, para anggota UKM Seni Budaya UMLA tidak hanya berlatih adegan dan koreografi, tetapi juga mempersiapkan berbagai kebutuhan pertunjukan.
Mereka terlibat dalam pekerjaan di balik panggung, mulai dari membuat properti, membagi tugas, menyewa kostum, mencari aksesori, hingga menyiapkan riasan. Seluruh kebutuhan tersebut dikerjakan secara bersama-sama.
Kekompakan itu semakin terlihat pada hari pementasan. Para anggota saling membantu dalam proses merias pemain, mengenakan kostum, menata properti, hingga memastikan seluruh pemain siap sebelum tampil di panggung.
Proses latihan dan persiapan juga mendapat pendampingan dari LAS. Dalam kolaborasi tersebut, LAS berperan sebagai pelatih yang memberikan arahan kepada mahasiswa selama proses penggarapan pertunjukan.
Ketua pelaksana sekaligus Ketua Divisi Teater UKM Seni Budaya UMLA periode 2025/2026, Dewi Arum Sari, mengatakan proses persiapan selama dua bulan memberikan pengalaman berharga bagi seluruh anggota.
“Bagi kami, pertunjukan ini bukan hanya tentang tampil di atas panggung. Selama kurang lebih dua bulan, kami belajar bagaimana bekerja sama, membagi tugas, saling menguatkan, dan bertanggung jawab terhadap bagian masing-masing. Capek pasti ada, tetapi ketika semua bisa tampil bersama dengan kompak, rasanya terbayar,” ujarnya.
Pementasan tersebut juga terasa istimewa karena melibatkan Pembina UKM Seni Budaya UMLA, Dr. Ari Susandi, M.Pd. Ia turut tampil bersama mahasiswa dengan membacakan puisi dalam rangkaian pertunjukan.
Kehadiran dosen di atas panggung memberikan warna tersendiri. Relasi antara dosen dan mahasiswa tidak hanya terbangun dalam kegiatan akademik, tetapi juga melalui ruang seni dan kreativitas.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang pertemuan berbagai peran. Mahasiswa mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan, dosen ikut terlibat dalam karya, sementara LAS memberikan pendampingan selama proses penggarapan.
Melalui kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, UKM Seni Budaya UMLA dan LAS tidak sekadar menghadirkan hiburan dalam pembukaan Mastama 2026. Pementasan itu menjadi gambaran bahwa sebuah karya seni lahir dari proses panjang, kerja sama, dan keberanian untuk menyatukan beragam kemampuan dalam satu panggung. (*)
Penulis : Nova Aquila Salsabila | Editor : Fathan Faris Saputro