MuhammadiyahLamongan.com – MTs Muhammadiyah 3 Sedayulawas (MATSAGA) mulai mengenalkan literasi digital kepada murid baru sejak awal Tahun Ajaran 2026/2027. Melalui mata pelajaran Informatika, murid kelas VII diajak memahami konsep berpikir komputasional dengan pendekatan yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami menggunakan media manik-manik berwarna, Rabu (22/7/2026).
Pembelajaran yang diikuti murid kelas VII-A dan VII-B tersebut dipandu oleh guru Informatika, Muhammad Kholis, S.Pd. Menurutnya, materi berpikir komputasional menjadi fondasi penting bagi murid dalam menghadapi perkembangan teknologi sekaligus melatih kemampuan menyelesaikan persoalan secara logis dan sistematis.
“Di era digital ini, anak-anak tidak hanya perlu mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki cara berpikir yang tepat. Berpikir komputasional melatih mereka menguraikan persoalan yang kompleks menjadi langkah-langkah sederhana yang runtut sehingga lebih mudah diselesaikan,” ujar Kholis.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan ice breaking untuk melatih konsentrasi dan membangun suasana belajar yang menyenangkan. Setelah itu, guru memberikan pengantar mengenai konsep dasar berpikir komputasional sebelum murid memasuki sesi praktik.
Pada kegiatan inti, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka mendapat tantangan menyusun rangkaian manik-manik berwarna sesuai pola dan instruksi yang telah ditentukan.
Melalui aktivitas tersebut, murid belajar menyusun algoritma sederhana, mengenali pola, serta mengembangkan kemampuan bekerja sama dalam tim. Media pembelajaran yang bersifat konkret membuat konsep berpikir komputasional lebih mudah dipahami, bahkan oleh murid yang sebelumnya menganggap Informatika sebagai mata pelajaran yang sulit.
“Ternyata Informatika itu seru, Pak. Menyusun manik-maniknya harus berurutan, jadi kami harus memikirkan langkah-langkahnya terlebih dahulu,” ujar Bening, salah seorang murid kelas VII-A.
Pada akhir pembelajaran, setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya sebelum mengumpulkan tugas. Guru kemudian mengajak seluruh murid melakukan refleksi terhadap proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan, dilanjutkan dengan doa bersama sebagai penutup kegiatan.
Melalui pembelajaran berbasis aktivitas tersebut, MATSAGA berharap murid memiliki fondasi berpikir komputasional sejak dini. Kemampuan ini diharapkan menjadi bekal penting untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan mampu memecahkan berbagai persoalan secara sistematis di masa mendatang. (*)
Penulis : Nova Laela Andrian | Editor : Fathan Faris Saputro