MuhammadiyahLamongan,Com- Pengajian maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh takmir masjid Jami’ Darussalam Labuhan bertempat di masjid pada hari Senin (16/9/2024).
Penceramah pada pengajian maulid Nabi Muhammad SAW ini yakni ustad Haris Rihandoko selaku Wakil Ketua PDM Tuban.
Ustad Haris mengawali pengajian dengan memanjatkan puji dan puji kehadirat Allah SWT serta salawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Mengawali isi ceramah, ustad Haris menceritakan kisah Sa’ban seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang rajin salat berjamaah sepanjang hidupnya. Suatu hari Nabi Muhammad SAW merasa kehilangan karena Sa’ban tidak ikut berjamaah.
Kemudian Nabi Muhammad SAW sehabis salat meminta kepada sahabat lain yang mengetahui rumah Sa’ban untuk mengantar Nabi SAW. Sesampainya di rumah Sa’ban, Nabi Muhammad tidak menjumpai Sa’ban hanya bertemu isterinya.
Lalu isteri Sa’ban memberitahu kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Sa’ban telah wafat. Ada tiga hal yang diucapkan oleh Sa’ban menjelang wafat dan itu ditanyakan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketiga hal yang diucapkan Sa’ban yakni kurang jauh, tidak baru, dan tidak semuanya.
Kemudian ustad Haris menyampaikan isi ceramahnya dalam rangka meneladani akhlak terpuji Nabi Muhammad SAW sehari-hari ialah mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Ustad Haris mengutip isi Alquran bahwa ada tiga tipe anak sebagai berikut:
Satu: Ada anak itu sebagai ujian, sebagaimana firman Allah dalah surah at-Taghabun ayat 15, artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah lah pahala yang besar”.
Diantara anak-anak kita kadangkala perbuatan mereka membuat orang tua merasa malu dan sebagainya, maka penting bagi orang tua terus mendidik anak-anak kita dan memberi suri teladan sebaik-baiknya.
Dua: Ada kalanya anak itu sebagai musuh bagi orang tua sebagaimana tercantum dalam Surah at-Taghabun ayat 14, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.
Tipe anak yang kedua ini jauh lebih parah, karena anak kita sebagai musuh orang tua. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Nuh beserta anak dan isterinya. Semoga isteri dan anak-anak kita tidak menjadi musuh bagi kita selaku suami dan ayah dari anak-anak kita.
Tiga: Anak sebagai penyejuk hati orang tua sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Furqan ayat 74, artinya: “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Tipe ketiga ini adalah tipe ideal yang diidam-idamkan semua orang tua termasuk kita semua. Yakni memiliki anak yang dengan prilaku, sikap dan tindak tanduknya setiap hari dapat menyejukkan hati orang tua. Dapat membuat hati orang tua bahagia.
Dengan semangat maulid Nabi Muhammad SAW ini kita berusaha dengan sebaik-baiknya mendidik dan membina dan senantiasa mendoakan anak-anak kita agar menjadi anak yang saleh dan salehah dan dapat mendoakan kedua orang tua dikala orang tuanya sudah meninggal dunia.
Penulis: Ma’in, Editor: Redaksi