(Sebuah Tafakkur dan Tadabbur Melalui Qs. Luqman : 13 – 19)

— Ust Suwito Ibnu Kasby —

“Pendidikan merupakan senjata yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia”  Demikian para pakar futurisktik  memberikan sebuah testimoni tentang dahsyatnya  sebuah pendidikan.

Dalam rentang sejarah yang cukup panjang,  betapa testimoni di atas menjadi simpulan fakta yang tak terbantahkan.

Sebut saja misalnya, pasukan Mujahidien hasil tarbiyah jihadiyah (pendidikan Jihad) buah dari tangan halus Murrobi Muhammad SAW -Bi idznillah- sanggup merubah wajah dunia dalam rentang waktu yang teramat singkat yakni 23 tahun. Sebelum itu peradaban Arab adalah peradaban yang sangat marjinal serta jauh tertinggal dibandingkan dengan Negara Adi Daya  Persia (Iran) dan Romawi (Eropa).

Namun sebagaimana kita tahu negara Super power jahiliyah tersebut tumbang melalui ‘murid’ Muhammad SAW yakni Amirul Mukminin Umar Bin Khottob RA.

Apa rahasia dari kekuatan Mereka ? Kenapa pasukan yang diremehkan tersebut menyentak perdaban raksasa yang gagah dan kokoh?  Ternyata itu terletak pada interaksi mereka secara intensive dengan Al Qur’an !!!

Benarlah apa yang disabdakan oleh Shodiqul Masduq (orang yg jujur lagi dibenarkan) Muhammad SAW :

اَنّ اللّٰهَ يَرْ فَعُ بِهَذَ الْكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah Subhaanahu wata’ala mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini dan merendahkannya yang lain dengannya pula.” hadits riwayat Muslim.

Mereka merupakan tipikal Jiilul Qur’an ; Sebuah generasi yang sangat cinta Al Quran ; Senantiasa belajar Al Quran, Istiqomah membacanya, memahaminya (Tafakkur dan Tadabbur), mengamalkannya, mendakwahkannya serta memperjuangkannya.

Karena itu menjadi hal yang sangat penting bagi seluruh stake holde pendidikan untuk mengkaji secara serius dan sungguh-sungguh bagaimana sejatinya kurikulum pendidikan didalam Al Qur’an.

Melalui tulisan yang sederhana ini, penulis mencoba untuk menakar potret pendidikan kita saat ini dengan pendidikan Luqmanul Hakim. Kenapa Luqmanul Hakim ??? Hal itu disebabkan, merujuk pada pendapat sebagian pakar pendidikan Islam bahwa kurikulum pendidikan untuk membentuk karakter yang kuat pada peserta didik terpapar pada Qs. Luqman : 13 – 19.

Mari kita selami bersama-sama semoga kita mendapatkan petunjuk melalui ayatNya :

{وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) } {يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (17) وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19) }

Baca Juga  Kenalkan Kesenian Tradisional, MI Muhammadiyah 01 Lakukan Kunjungan Ke Sentra Batik Tradisional

(13) Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

(14) Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

(15) Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(16) (Luqman berkata), “Hai Anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.

(17) (Hai Anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

(18) Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

(19) (Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Jika kita ringkas esensi ayat diatas, jika dikaitkan dengan kurikulum pendidikan adalah sbb ;

1. Pendidikan berbasis Tauhid

Hal itu diisyaratkan melalui ayat ke 13 nasehat Luqman yang pertama dan utama adalah Tarbiyah Imaniyah ;

Mentauhidkan Alloh Azza Wajalla baik pada Rubbubiyah, Uluhiyah maupun Asma Wa Shifat.

Pertanyaannya ; Sudahkah pendidikan yang kita laksanakan saat ini mulai PAUD-TK s.d PerguruanTinggi memprioritaskan Tauhid ?? Ataukah justru memprioritaskan yang lain sehingga tanpa sadar dan diam-diam kita sedang menjadi pendidik yang sekuler ??? Nauudzubillahi min dzalik

2. Pendidikan yang berbasis Akhlak karimah

Sebagaimana bisa dipahami pada ayat ke 14 dan turunannya. Diayat tersebut Alloh Azza Wajalla memerintahkan kepada seluruh manusia untuk Birrul Walidain ; Berbuat ihsan kepada kedua orang tua. Jika kita telusuri pada ayat-ayat yang serumpun maka kita jumpai bahwa setelah perintah untuk Mentauhidkan Alloh adalah perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Perintah ini terulang pada beberapa ayat pada sejumlah surat didalam Al Quran hal ini menunjukkan bahwa betapa besarnya kewajiban anak untuk berbuat ihsan kepada orang tua. Jika karakter ini telah terbentuk, inshaaAlloh akan lebih mudah lagi seorang murid beradab kepada guru-gurunya, teman sebayanya, adik-adik kelasnya bahkan termasuk beradab kepada binatang dan alam sekitarnya.

Baca Juga  Ramaikan Ramadhan, AMM Karangrejo Membuka Lapak Baca di Serambi Masjid

Bagaimana potret pendidikan kita saat ini sudahkah perkara Akhlak dan Adab telah menjadi prioritas ?? Ataukah justru hanya mencerdaskan peserta didik pada ranah intelektual dan otaknya saja, seraya melupakan kecerdasan emosional dan Akhlak  mereka ???

3. Pendidikan Berbasis Muroqobatulloh (Merasa diawasi oleh Alloh dimanapun dan kapanpun)

Diantara karakter dari benarnya iman seseorang adalah Muroqobatulloh (merasa senantiasa diawasi oleh Alloh dimanapun dan kapanpun).

Sikap ini merupakan adab mulia dan utama yang membuahkan kesholihan seseorang. tidak hanya menjadi sholih dalam kerumunan orang banyak tapi juga tetap sholih tatkala berada dalam kesunyian dan kesendirian. Terkadang terjadi pada diri seseorang, begitu nampak sangat baik dan sholih tatkala berada dalam kerumunan orang banyak tapi kemudian berakrab ria dengan setan tatkala dalam kesendirian, Wal iyaadzubillah

Keadaan semacam itu telah disinggung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari.

Dalam hadits dalam salah satu kitab sunan disebutkan,

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.

Luqmanul Hakim yang nasehatnya diabadikan Alloh didalam ayat ke 16 mendoktrin anaknya untuk Muroqobatulloh.

4. Pendidikan Berbasis Penegakkan Sholat

Perkara sholat di dalam Islam merupakan perkara pokok. Ia menjadi indikator tegaknya ataupun rapuhnya Keislaman seseorang. Kita sangat mudah untuk bisa menilai seseorang ataupun sebuah masyarakat apakah taat beragama atau tidak melalui keterjagaannya ataupun ketidakketerjagaannya melalui sholatnya.

Maka, Lembaga pendidikan yang baik adalah yang mentarbiyah peserta didiknya untuk cinta sholat senang memakmurkan Masjid. Alangkah indahnya tatkala adzan berkumandang seluruh aktivitas berhenti dan kemudian bersama ruku’ dan sujud kepada Alloh Robbul Aaalamiin. Sebagaimana yang bisa kita pahami pada ayat ke 17. Terus, Bagaimana potret pendidikan kita ???

5. Pendidikan berbasis pada Benci Kefasikan dan Kemaksiatan.

Sungguh sangat aneh kalau ada larangan ujaran dan sikap kebencian. Sedangkan ajaran Agama kita menuntunkan untuk benci pada kefasikan,memusuhi kemaksiatan serta kesombongan. Kenapa demikian ? Hal itu disebabkan kefasikan dengan beragam bentuknya merupakan virus peradaban. Inilah mungkin diantara rahasianya,- Waallohu a’lam bish showwab-  Kenapa Luqmanul Hakim memerintahkan anaknya untuk Amar ma’ruf Nahi Mungkar serta bersabar di dalam melaksanakannya karena akan dijumpai fitnah dan celaan dalam Amar ma’ruf Nahi Mungkar.

Pada rangkaian ayat berikutnya, Luqmanul Hakim melarang anaknya dari angkuh dan sombong, karena keangkuhan dan kesombongan berbuah pada kehinaan dan kenistaan. Berbeda dengan mereka yang tawadhu’ yang membuahkan kemuliaan dan diangkatnya derajat seseorang.

Semoga kita semua dalam melaksanakan proyek raksasa yang bernama Tarbiyah Islamiyah selalu didasarkan pada Al Quran dan As Sunnah As Shahihah karena keduanya menjadi sebab kemuliaan dan kejayaan sebuah peradaban.

Waaallohu a’lam bish showwab.

Lamongan, 17 Dzulqa’dah 1440

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here