Muhammadiyah Lamongan Berkemajuan

Menyambut Dzulhijjah, Khatib Iduladha Ajak Jamaah Utamakan Haji dan Kurban

MuhammadiyahLamongan.com – Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam. Hal tersebut disampaikan Imam dan Khatib Shalat Iduladha 1447 Hijriah di Masjid Al-Hikmah Muhammadiyah Plabuhanrejo, Ustaz H. Abdul Ghafur, S.Ag., Rabu (27/5/2026). Dalam khutbahnya, khatib mengutip QS At-Taubah ayat 36 tentang kemuliaan bulan-bulan haram.

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu …”

Mengacu pada tafsir Ibnu Abbas, khatib menjelaskan bahwa pada bulan Dzulhijjah dan tiga bulan mulia lainnya, manusia dilarang menganiaya diri sendiri. Menurutnya, bentuk penganiayaan tersebut meliputi perbuatan dosa, maksiat, dan kezaliman. Ia juga menegaskan bahwa setiap amal pada bulan mulia akan mendapatkan balasan berlipat ganda.

“Barang siapa menganiaya dirinya pada bulan mulia ini, maka Allah SWT akan melipatgandakan dosanya. Begitu pula sebaliknya, siapa yang berbuat kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya,” ujar khatib di hadapan jamaah.

Selain menjadi bulan mulia, Dzulhijjah juga identik dengan ibadah haji dan kurban. Khatib kemudian mengutip QS Ali Imran ayat 97 yang menjelaskan kewajiban berhaji bagi umat Islam yang mampu.

“Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana …”

Menurut khatib, banyak orang hanya berfokus pada kalimat “bagi yang mampu”, tetapi melupakan peringatan pada lanjutan ayat tersebut. Ia menilai, kondisi saat ini menunjukkan sebagian masyarakat lebih mudah mengalokasikan dana untuk kebutuhan duniawi dibandingkan kepentingan ibadah.

“Sekarang banyak orang mampu membeli telepon genggam mahal, mobil mewah, hingga membangun rumah besar. Namun, ketika diminta mulai menabung untuk kursi antrean haji sekitar Rp25 juta, mereka merasa tidak mampu,” tuturnya.

Ia pun mengajak jamaah untuk menempatkan ibadah sebagai prioritas utama ketika memiliki rezeki berlebih. Menurutnya, semangat masyarakat Malaysia dalam menunaikan ibadah haji patut menjadi contoh. Khatib menyebut antrean haji di Malaysia bahkan telah mencapai sekitar 100 tahun, jauh lebih panjang dibandingkan Indonesia yang rata-rata berkisar 30 tahunan.

Meski demikian, khatib meminta jamaah tidak risau dengan panjangnya antrean haji. Ia menyampaikan adanya wacana pengembangan kawasan Arafah secara bertingkat yang diperkirakan dapat meningkatkan kapasitas jamaah pada masa mendatang.

Selain ibadah haji, khatib juga menyinggung pentingnya ibadah kurban sebagaimana tertuang dalam QS Al-Kautsar ayat 2.

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk mulai menyusun prioritas hidup. Jika belum mampu menunaikan ibadah haji, menurutnya umat Islam dapat memulai dengan berkurban yang dilaksanakan setahun sekali.

“Kalau belum bisa berhaji tahun ini, sempatkan untuk berkurban. Kita bisa menyisihkan uang setiap pekan atau setiap bulan hingga terkumpul sekitar Rp3,5 juta dalam setahun,” katanya.

Di akhir khutbah, khatib mengingatkan jamaah agar tidak lalai menyisihkan rezeki untuk kepentingan ibadah. Menurutnya, kemampuan membeli barang mewah seharusnya menjadi dorongan untuk mulai menabung haji maupun berkurban.

“Tanamkan niat dan terus berusaha, karena sesungguhnya Allah Maha Kaya,” ujarnya. (*)

Penulis : Eka Arifatur Rachmah | Editor : Fathan Faris Saputro

2
Share this article
Shareable URL
Prev Post

Mengalirkan Berkah di Bumi Labuhan: Saat Keikhlasan 17 Sapi dan 74 Kambing Mengetuk Pintu-Pintu Langit

Next Post

Warga Muhammadiyah Padenganploso Bahu-Membahu Sukseskan Kurban Iduladha

Read next
0
Share